Perjalanan singkat bersama teman sekuliah menghadirkan pengalaman ganjil, menyaksikan sungai berbusa dan berbau, yang memantik kegelisahan sebagai mahasiswa kesehatan.
Kunjungan ke kawasan Kenjeran, Surabaya, menjadi pengalaman pertamaku di wilayah itu. Kedatangan itu merupakan bagian dari kegiatan studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), pada Kamis, (12/2/2026).
Bersama lima teman dari Universitas Negeri Malang yang juga mengikuti program serupa, langkah diarahkan menyusuri tepian Kali Tebu. Percakapan ringan dan tawa kecil mengiringi kami siang itu.
Langkah terhenti ketika permukaan air terlihat tak biasa di mataku. Kali memutih oleh busa, tebal, menggumpal, bergerak perlahan mengikuti arus. Di beberapa titik, terutama dekat pintu air Tambak Wedi, aku melihat busa tampak lebih pekat hingga hampir menutup seluruh permukaan.
Aroma samar pun tercium, cukup mengganggu. Meski tak terlalu menyengat. Bau itu memunculkan pertanyaanku, tentang apa yang sebenarnya mengalir di bawah lapisan putih itu.
Bagi mahasiswa kesehatan, aku melihat kondisi sungai berbusa dan berbau tak hanya persoalan tampilan. Ada kemungkinan kandungan tertentu pastinya, limbah rumah tangga, deterjen, atau sisa bahan lain, yang mungkin saja dapat berdampak pada kesehatan lingkungan.
Tidak ada alat uji atau data laboratorium saat yang kami bawa. Hanya pengamatan langsung dan tanda tanya sederhana, apakah kondisi seperti ini aman bagi warga sekitar?

#Antara Pengalaman dan Kesadaran Lingkungan
Percakapan kami dengan warga bantaran kali menghadirkan penjelasan berbeda. Seorang nelayan, Soleh (55), menyebut busa itu muncul saat hujan turun dan pompa air dinyalakan. Putaran baling-baling pompa mengaduk air dengan kuat hingga menimbulkan buih.
“Busa ini tidak muncul setiap hari, melainkan hanya saat hujan. Munculnya busa juga disebabkan oleh baling-baling pompa, yang digunakan untuk mengatur aliran air agar tidak mengalir deras ke sungai dekat pemukiman dan berisiko menyebabkan banjir. Jadi, busa terlihat karena proses pemompaan air,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPenjelasan itu terdengar masuk akal memang. Namun bau yang sesekali tercium tetap menyisakan ganjalan di benak. Apakah semata-mata karena pusaran air, atau ada campuran lain yang ikut teraduk di dalamnya?
Belum ada kesimpulan di pikiranku, tentang Kali Tebu itu, apakah benar-benar tercemar? Itu lebih karena, pengetahuan dan pengalamanku masih dalam proses bertumbuh, terlebih saat ini sedang menjalani studi independen di Ecoton dan menyusun jurnal bersama bimbingan senior.
Sebagai warga Malang, sungai kotor dan penuh sampah bukan pemandangan asing. Tetapi sungai yang diselimuti busa tebal suatu hal yang jarang kujumpai. Keanehan itulah yang membuat langkah kami tertahan lebih lama di tepi kali.
Pengalaman di Kali Tebu menjadi pengingat, kesehatan lingkungan tak selalu hadir dalam bentuk bencana besar. Kadang konsisi itu muncul lewat tanda-tanda kecil, busa yang mengapung pelan, aroma yang berubah, atau warna air yang tak lagi jernih.
Itulah sebuah pengalaman sederhanaku, namun cukup untuk menyadarkan jika ada hal yang perlu diperhatikan lebih serius.***

*) Ni Luh Made Kartika Nariswari mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan, Angkatan 2023, Universitas Negeri Malang. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.