Lewati ke konten

Cabai Naik Daun, Dompet Ikut Panas: Bojonegoro Hadapi “Musim Pedas” Menjelang Nataru

| 3 menit baca |Sorotan | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: redaksi
Terverifikasi Bukti

HARGA cabai di Bojonegoro, Jawa Timur, mendadak naik dua hari terakhir, bikin emak-emak menatap wajan dengan perasaan campur aduk, antara ingin masak sambal dan ingin nangis. Harga cabai keriting tembus Rp55 ribu per kilo, bawang merah ikut naik, sayur pun merangkak. Dapur mendidih bukan karena kompor, tapi karena inflasi.

Sementara di ruang ber-AC Pemkab, para pejabat duduk rapat memikirkan solusi. Dari Operasi Pasar Murah sampai pengawasan harga, semua dikerahkan agar sambal warga Bojonegoro tetap terasa pedas tanpa bikin isi dompet mewek. Natal dan Tahun Baru memang belum tiba, tapi aroma “musim pedas” sudah lebih dulu menyerang.

#Cabai Naik, Warga Menunduk

Harga cabai di pasar tradisional Bojonegoro kini bukan lagi bahan bumbu, tapi bahan gosip. Dua hari terakhir, pedagang seperti Kolipah harus menjelaskan kenaikan harga lebih sering daripada menimbang cabai. Dari Rp40 ribu, kini melesat jadi Rp55 ribu per kilo. “Naiknya cepat, pembelinya menurun,” katanya lirih sambil menata dagangan.

Bukan cuma cabai yang ‘berulah’. Bawang merah kini di kisaran Rp40–45 ribu per kilo, naik dari Rp35 ribu. Wortel, buncis, dan timun pun ikutan unjuk gigi dengan kenaikan Rp3-5 ribu per kilo. Emak-emak pun mulai strategi bertahan hidup, sambal dikurangi, tapi curhat ditambah. Di grup WA keluarga, topik “harga cabai” kini mengalahkan gosip artis sinetron.

#Pemerintah Panik dengan Wajar

Melihat harga bahan dapur berakrobat seperti ini, Pemkab Bojonegoro langsung gelar rapat darurat. Wakil Bupati Nurul Azizah menegaskan agar tidak ada kelangkaan dan harga tidak naik semaunya. Semua dinas, mulai DKPP sampai Dinas Perdagangan, diminta siaga penuh. “Koordinasi harus lancar, jangan cuma di grup WhatsApp,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Staf Ahli Bupati, Sukaemi, menambahkan langkah antisipatif sudah disiapkan. Pemkab akan kerja sama dengan Pertamina, distributor, dan pelaku usaha supaya distribusi barang lancar. Karena kalau jalur distribusi macet, harga bisa lebih cepat naik daripada status mantan di medsos. OPM (Operasi Pasar Murah) pun siap digelar biar masyarakat tak merasa sendirian menghadapi inflasi.

#Harapan dari Tengah Pasar

TPID Bojonegoro juga siap menurunkan pasukan pengawas harga, menindak pedagang atau distributor yang menaikkan harga di luar nalar. Bahkan, kalau perlu, izin dagang bisa dicabut. Langkah ini diimbangi kerja sama dengan BUMN pangan seperti PT PPI untuk jaga stok barang. Semua demi satu cita-cita mulia: dapur rakyat tetap ngebul tanpa drama.

Tapi warga tahu, harga bahan pokok itu seperti perasaan—susah ditebak arahnya. Hari ini naik, besok bisa lebih naik. Meski begitu, semangat orang Bojonegoro tetap tangguh. Mereka tahu, hidup tak bisa selalu manis; kadang harus pedas—asal jangan sampai pahit di akhir bulan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *