Lewati ke konten

Darah Revolusi Membekas di Rumah Sakit Darmo

| 5 menit baca |Rekreatif | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi

Rumah Sakit Darmo Surabaya menyimpan jejak pertempuran Oktober 1945 ketika gencatan senjata runtuh dan kompleks medis berubah menjadi arena baku tembak pasukan Sekutu.

Kompleks Rumah Sakit Darmo di Jalan Raya Darmo, Surabaya, banyak orang berpendapat menyimpan jejak sejarah berdarah Revolusi 1945. Jejak itu masih masih membekas hingga kini. Di balik pilar-pilar putih bergaya kolonial itu, koridor panjang yang tampak tenang, jika rumah sakit itu pernah menjadi titik runtuhnya gencatan senjata antara pejuang Indonesia dan pasukan Sekutu pada akhir Oktober 1945.

Bangunan yang kini tercatat status cagar budaya itu awalnya dirancang arsitek Belanda G.C. Citroen pada 1921. Waktu itu atas prakarsa organisasi Surabayasche Ziekenverpleging (SZV).

Rumah sakit sendiri mulai beroperasi penuh pada 15 Januari 1923 dengan konsep arsitektur Nieuwe Bouwen yang menyesuaikan iklim tropis Surabaya.

Langit-langit tinggi, koridor terbuka, serta jendela besar dirancang untuk memaksimalkan sirkulasi udara alami. Pilar-pilar putih yang menopang bangunan utama menjadi identitas visual yang masih bertahan hampir satu abad.

Situasi berubah drastis ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942. Kompleks medis itu diambil alih Angkatan Laut Jepang dan difungsikan sebagai Kaigun Hospital. Tenaga medis Eropa ditahan di kamp interniran, sedangkan rumah sakit masuk dalam pengawasan militer Jepang.

Lengkung-lengkung lorong tua di Rumah Sakit Darmo masih mempertahankan jejak arsitektur kolonial rancangan G.C. Citroen. Koridor yang kini dipenuhi kursi rotan dan cahaya tenang itu pernah menjadi saksi masa genting Revolusi 1945, ketika suasana rumah sakit berubah di tengah pecahnya pertempuran Surabaya. Di balik kesunyian lorong putih tersebut, sejarah tentang perang dan upaya penyembuhan pernah berjalan berdampingan. Foto : Shella

#Benteng Pertahanan Sekutu

Sesudah Jepang menyerah pada Agustus 1945, Surabaya memasuki fase genting revolusi. Pasukan Sekutu datang bersama Relief of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI) untuk mengevakuasi tawanan perang dan warga sipil Eropa dari kamp Jepang.

Di tengah situasi yang belum stabil, kompleks Rumah Sakit Darmo dipakai sebagai basis pertahanan Sekutu. Area rumah sakit dipasang kawat berduri dan dijaga tentara bersenjata lengkap, termasuk pasukan Gurkha.

Langkah tersebut memicu kemarahan para pejuang Surabaya. Di saat perundingan gencatan senjata sedang berlangsung, keberadaan benteng militer di area rumah sakit dianggap sebagai bentuk provokasi.

Pada 27 hingga 28 Oktober 1945, bentrokan bersenjata pecah di sekitar kompleks rumah sakit. Halaman depan yang sebelumnya menjadi area perawatan berubah menjadi medan pertempuran.

Supardi, 51 tahun, pedagang yang sehari-hari beraktivitas di kawasan Darmo, mengatakan kisah pertempuran di rumah sakit itu terus diwariskan warga secara lisan.

“Kalau melihat Rumah Sakit Darmo sekarang rasanya adem dan megah. Tetapi kakek saya dulu sering cerita area depan dekat jalan raya dipenuhi kawat berduri dan dijaga tentara Gurkha,” kata Supardi saat ditemui di kawasan Jalan Raya Darmo, Selasa, 19 Mei 2026.

Menurut dia, suara rentetan senapan mesin terdengar hingga ke permukiman warga di gang-gang sekitar Darmo.

“Di satu sisi tempat itu merawat orang sakit, di sisi lain orang bertaruh nyawa mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Catatan sejarah menunjukkan kegagalan gencatan senjata di Surabaya menjadi salah satu pemicu eskalasi konflik yang berujung pada Pertempuran 10 November 1945. Kompleks Rumah Sakit Darmo termasuk lokasi strategis yang diperebutkan karena berada di jalur utama kota.

Atmosfer perang saat itu membuat fungsi kemanusiaan rumah sakit bercampur dengan kepentingan militer. Di dalam bangunan, tenaga medis tetap merawat korban luka. Di luar gedung, pertempuran berlangsung sengit.

Lorong pejalan kaki di kompleks Rumah Sakit Darmo kini tampak teduh di bawah deretan pohon palem dan bayang-bayang bangunan kolonial bercat putih. Suasana tenang itu menyimpan jejak sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945, ketika area rumah sakit berubah menjadi titik ketegangan setelah upaya gencatan senjata antara pejuang Surabaya dan pasukan Sekutu runtuh. Koridor yang hari ini dilalui pasien dan keluarga pernah menjadi ruang siaga di tengah dentuman perang Kota Pahlawan. Foto : Shella

#Jejak Sejarah Masih Terawat

Hingga sekarang, bentuk asli bangunan Rumah Sakit Darmo relatif tetap dipertahankan. Jendela-jendela besar, ubin klasik, serta lorong panjang khas bangunan kolonial masih terlihat jelas di berbagai sisi kompleks.

Status rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan aktif membuat akses publik ke area inti bangunan cukup terbatas. Pengunjung tidak dapat bebas keluar masuk demi menjaga kenyamanan pasien.

Hendra, 35 tahun, pengemudi transportasi daring yang kerap mengantar pasien ke lokasi tersebut, mengaku selalu merasakan suasana berbeda setiap memasuki koridor rumah sakit.

“Bangunannya bersih dan dirawat baik. Tetapi setiap masuk ke lorong tengah saya selalu ingat kalau lantai yang diinjak mungkin dulu dilewati tandu korban perang,” kata Hendra.

Menurut sejumlah warga, Rumah Sakit Darmo menyimpan potensi edukasi sejarah yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Mereka berharap terdapat penanda sejarah atau relief di area depan rumah sakit agar masyarakat dapat memahami peran penting lokasi tersebut dalam revolusi Surabaya.

Di tengah perkembangan kota modern, kompleks Rumah Sakit Darmo tetap berdiri di bawah rindang pohon angsana Jalan Raya Darmo. Pilar-pilar putih dan koridor tua rumah sakit menjadi pengingat bahwa Surabaya pernah berada di titik paling genting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Bangunan itu kini memikul dua fungsi sekaligus: melayani pasien sebagai fasilitas kesehatan modern serta menjaga memori kolektif tentang revolusi yang pernah berkobar di jantung Kota Pahlawan.

Bagi warga Surabaya, Rumah Sakit Darmo menyimpan ironi sejarah yang sulit dipisahkan. Tempat yang dibangun untuk menyembuhkan itu pernah berubah menjadi arena baku tembak akibat runtuhnya kesepakatan damai. Jejak sejarah tersebut masih terasa dalam diam lorong-lorong putih yang bertahan melewati pergantian zaman.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *