Di bekas panggung rakyat THR, ribuan tangan mengulek rujak cingur. Aroma petis, kostum sport, dan nostalgia berbaur merayakan ulang tahun Surabaya yang ke-733 dengan semangat kolektif.
Gerbang raksasa bertuliskan Rujak Phoria menjulang di halaman Surabaya Expo Center, Sabtu malam, 9 Mei 2026. Di bawah lampu warna-warni, ribuan orang mengalir masuk ke kawasan yang dahulu dikenal sebagai Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Tempat itu pernah menjadi pusat hiburan rakyat, rumah bagi ludruk, komidi putar, dan kenangan masa kecil warga Kota Pahlawan.
Malam itu, yang menguasai udara bukan suara gamelan atau teriakan penjaja karcis, melainkan aroma petis yang pekat dan menggoda. Dari ratusan cobek batu, bau udang fermentasi bercampur cabai dan pisang batu menyusup ke setiap sudut ruangan.
Tepat pukul tujuh malam, Eri Cahyadi berdiri di atas panggung. Di tangannya sebuah terompet. Sekali tiup, suara nyaring memecah udara. Ribuan tangan serempak bergerak, mengangkat ulekan kayu, lalu menumbuk bumbu dengan irama yang terdengar seperti perkusi.
“Festival ini mengingatkan kita bahwa Surabaya tumbuh dari semangat kebersamaan. Semua orang bisa berkumpul, tertawa, dan mengulek dalam satu cobek besar bernama kota,” kata Eri.
Pilihan lokasi mengandung makna yang sulit diabaikan. Di tanah bekas THR, tradisi lama memperoleh panggung baru. Sejarah tidak disimpan sebagai benda mati, melainkan dihidupkan melalui suara cobek dan kerumunan manusia.

#Sportivitas, Kostum, dan Kegilaan Kreatif
Tema tahun ini, Rujak Phoria, terdengar seperti nama pesta olahraga. Panitia memang meminjam semangat kompetisi untuk memberi energi baru pada festival yang telah menjadi agenda tahunan Hari Jadi Kota Surabaya ke-733.
Menurut Eri, mengulek rujak membutuhkan kekuatan tangan, stamina, dan kekompakan. “Ada sportivitas di dalamnya. Orang bekerja bersama, berlomba secara sehat, dan tetap bersenang-senang,” ujarnya.
Tema itu tampak jelas dalam parade kostum. Di panggung Sport Fashion dan Surabaya World Fashion Carnival, peserta melenggang dengan busana penuh bola, raket, jaring, dan jersey. Semua dipadukan dengan kebaya, batik, dan aksesori tradisional.
Ratna, 38 tahun, menjadi salah satu peserta yang paling mencolok. Di kepalanya bertengger ornamen berbentuk bola. Di tangannya, ulekan yang dihias warna-warni.
“Kami tidak tidur semalaman. Kostum ini harus bisa menyatukan kuliner dan olahraga,” kata Ratna sambil tertawa. “Capeknya hilang waktu lihat penonton bersorak.”
Festival ini memberi ruang bagi kreativitas yang nyaris tanpa batas. Rujak cingur, makanan yang selama puluhan tahun identik dengan warung kaki lima, hadir sebagai inspirasi visual yang spektakuler.

#Rujak Cingur sebagai Wajah Surabaya
Di balik gegap gempita lampu dan kostum, makna paling penting tetap berada di dalam cobek.
Rujak cingur tersusun dari unsur yang berbeda-beda. Ada cingur dengan tekstur kenyal, kangkung, tauge, tempe, tahu, lontong, dan buah yang segar. Semuanya dipersatukan oleh saus petis yang hitam pekat, pedas, dan gurih.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBagi banyak warga, hidangan ini mencerminkan Surabaya sendiri: kota yang dibangun dari beragam latar belakang, budaya, dan watak.
“Rasanya ramai, tetapi tetap menyatu,” kata Aris, 42 tahun, yang datang bersama istri dan dua anaknya. “Seperti orang Surabaya. Keras, terus terang, tetapi guyub.”
Aris mengaku menyukai lokasi baru festival. Area SUBEC yang luas membuat keluarga lebih leluasa bergerak. Anak-anak dapat menonton karnaval tanpa berdesakan.
“Dulu saya datang ke THR waktu kecil,” katanya. “Sekarang saya membawa anak-anak ke tempat yang sama, dengan suasana yang berbeda.”
Di sekelilingnya, para pelaku UMKM menjajakan rujak cingur, lontong balap, semanggi, hingga suvenir bertema HJKS. Malam itu, festival tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga pasar rakyat dengan denyut ekonomi yang terasa nyata.
Prestasi Festival Rujak Uleg juga mengangkat reputasi Surabaya secara nasional. Sejak 2023, acara ini konsisten masuk daftar Karisma Event Nusantara yang disusun Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Pada 2026, Festival Rujak Uleg bersama Surabaya Vaganza tercatat dalam 125 event terbaik Indonesia.
Eni Komiarti, yang hadir di lokasi, memuji konsistensi penyelenggaraan Surabaya.
“Tidak mudah menjaga kualitas acara setiap tahun. Surabaya berhasil membuktikan bahwa tradisi bisa terus berkembang dan tetap menarik,” ujarnya.
Menjelang tengah malam, antrean swafoto di depan gerbang Rujak Phoria belum surut. Suara cobek masih terdengar di beberapa sudut. Anak-anak berlari membawa balon. Aroma petis tetap menggantung di udara.
Di atas tanah yang pernah menjadi panggung hiburan rakyat, Surabaya menunjukkan cara merawat ingatan. Tradisi tidak dibekukan dalam museum. Tradisi ditumbuk, diaduk, dan disajikan ulang agar terus hidup.
Seperti sepiring rujak cingur, kota ini meramu unsur-unsur yang berbeda menjadi rasa yang utuh. Dan pada ulang tahun ke-733, Surabaya sekali lagi membuktikan bahwa kebersamaan adalah resep yang paling tahan lama.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.