Lewati ke konten

Jejak Putih Grha Wismilak di Darmo, Oase Jalan Simpang Surabaya

| 4 menit baca |Rekreatif | 5 dibaca

Bangunan putih di Darmo menyimpan jejak kolonial, perjuangan Polisi Istimewa, hingga konservasi modern, menghadirkan memori sejarah Surabaya yang terus hidup di tengah kota.

Di sudut pertemuan Jalan Raya Darmo dan Jalan Polisi Istimewa, berdiri Grha Wismilak dengan fasad putih yang mencolok di antara arus kendaraan. Bangunan ini memantulkan cahaya matahari siang dan sorot lampu malam dengan cara yang membuatnya tetap hadir sebagai penanda ruang kota.

Arsitektur bergaya Nieuwe Bouwen memberi kesan tegas sekaligus elegan. Jendela-jendela besar berjajar simetris, sementara menara di sudut bangunan menjadi titik visual yang mudah dikenali dari kejauhan. Di tengah percepatan pembangunan Surabaya, gedung ini menghadirkan jeda visual yang mengingatkan pada lapisan sejarah kota.

“Setiap hari saya melihat orang berhenti sejenak, memotret dari trotoar. Gedung ini punya daya tarik yang berbeda,” kata Ahmad, penjaga keamanan yang telah bertugas beberapa tahun pada Senin, 4 April 2026. “Rasanya seperti menjaga sesuatu yang lebih dari sekadar bangunan, ‘ tambahnya.

Keberadaan gedung ini menunjukkan bagaimana ruang kota dapat menyimpan ingatan kolektif. Di tengah dominasi beton dan kaca, bangunan tua yang terawat memberi narasi alternatif tentang perjalanan waktu.

Tampilan megah Grha Wismilak di sudut Jalan Raya Darmo saat ini. Bangunan cagar budaya ini tetap mempertahankan fasad aslinya sejak renovasi 1993, menghadirkan harmoni antara arsitektur kolonial dan fungsi modern. | Foto: Shella

#Dari Gula ke Sumpah Polisi

Sejarah bangunan ini bermula pada dekade 1920-an, saat Surabaya berkembang sebagai pusat perdagangan penting di Hindia Belanda. Gedung tersebut awalnya digunakan oleh Firma GL Sirks & Co, yang bergerak dalam perdagangan gula—komoditas yang kala itu dikenal sebagai “emas hijau”.

Kawasan Darmo Boulevard pada masa itu menjadi lingkungan elit bagi kalangan Eropa. Aktivitas ekonomi dan gaya hidup kelas atas membentuk citra kawasan yang modern pada zamannya. Pada 1936, fungsi bangunan berubah menjadi Toko Yan, pusat perbelanjaan yang melayani kebutuhan warga Eropa.

Perubahan drastis terjadi pada 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia. Gedung ini diambil alih dan difungsikan sebagai kantor kepolisian Jepang, Tokubetsu Keisatsutai. Ruang-ruang yang sebelumnya diisi transaksi dagang berubah menjadi pusat kontrol keamanan.

Momentum penting terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan. Di bawah kepemimpinan Moehammad Jasin, gedung ini menjadi markas Polisi Istimewa. Pada 21 Agustus 1945, kelompok ini menyatakan kesetiaan kepada Republik Indonesia dan bersiap menghadapi ancaman militer Sekutu.

“Tempat ini punya aura perjuangan yang kuat,” ujar Ahmad. “Kami tahu bahwa di sinilah semangat mempertahankan kemerdekaan pernah dikobarkan.”

Nama Jalan Polisi Istimewa yang kini melekat di depan bangunan menjadi pengingat atas peristiwa tersebut. Jejak sejarah itu tetap terasa meski fungsi gedung telah berubah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Sisi belakang Grha Wismilak yang dirancang selaras dengan bangunan utama. Penambahan pasca-akuisisi 1993 ini tetap menjaga karakter historis fasad, menghadirkan kesinambungan antara lama dan baru. | Foto: Shella

#Konservasi dan Wajah Kota Modern

Babak baru dimulai pada 3 Juli 1993 ketika PT Wismilak Inti Makmur mengakuisisi bangunan ini. Alih-alih merombak total, perusahaan memilih pendekatan konservasi dengan mempertahankan fasad asli secara presisi.

Langkah ini menjadi contoh bagaimana sektor swasta dapat berperan dalam pelestarian bangunan bersejarah. Bagian belakang gedung dikembangkan dengan desain yang menyesuaikan karakter lama, sehingga tercipta kesinambungan visual antara masa lalu dan kebutuhan masa kini.

Pemerintah Kota Surabaya kemudian menetapkan bangunan ini sebagai cagar budaya. Status tersebut memastikan perlindungan terhadap nilai sejarah dan arsitektur yang dimiliki.

Riana, mahasiswi arsitektur, menilai gedung ini sebagai referensi penting bagi generasi muda. “Perawatannya sangat baik. Warna putihnya jadi identitas yang kuat di tengah kota,” ujarnya. “Setiap kali melihatnya, terasa seperti ada hubungan antara Surabaya masa lalu dan masa sekarang.”

Ia menambahkan bahwa detail arsitektur seperti jendela besar memberi pengalaman visual yang berbeda. “Ada rasa hidup dalam bangunan ini. Seolah-olah setiap sudut menyimpan cerita.”

Di tengah tekanan pembangunan kota yang kian intens, keberadaan Grha Wismilak menunjukkan bahwa pelestarian tidak harus menghambat perkembangan. Gedung ini justru memperkaya karakter kota dengan menghadirkan dimensi sejarah yang nyata.

Saat senja tiba, cahaya lampu mulai menyinari dinding putihnya, menciptakan suasana yang tenang di tengah lalu lintas yang padat. Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa sejarah dapat tetap hadir dan relevan ketika dirawat dengan kesadaran.

Grha Wismilak terus berdiri di persimpangan Darmo, membawa jejak kolonial, kisah perjuangan, dan upaya konservasi dalam satu narasi yang utuh. Sebuah bangunan yang menjaga ingatan kota tetap hidup, tanpa kehilangan tempat di masa kini.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *