KALAU biasanya kampung dikenal karena kuliner khas atau lomba gaple tiap malam Jumat, lain cerita dengan Kampung SIBA KLASIK di Gresik, Jawa Timur. Warganya justru terkenal karena satu hal, disiplin memilah sampah. Di sini, plastik dianggap musuh, kompos jadi kawan, dan setiap rumah punya misi menyelamatkan bumi.
Kampung ini tak sekadar bersih karena rajin kerja bakti. Mereka sudah punya sistem, riset, hingga “undang-undang” kecil soal sampah. Dari rumah kontrakan sampai warung kopi, semua wajib taat aturan pilah sampah. Di SIBA KLASIK, hidup tanpa sampah bukan jargon hijau, tapi gaya hidup sehari-hari.
#Dari Singkatan Jadi Gerakan
SIBA KLASIK adalah akronim dari SIdokumpuI BArat KeLOLAh sAmpah organIK. Kampung ini berdiri di RW.05 Kelurahan Sidokumpul, Gresik, Jawa Timur, dan diresmikan pada 2022 oleh Sekda Gresik, Achmad Washil Miftahul Rachman. Sejak itu, kampung ini tak pernah berhenti jadi bahan obrolan di forum lingkungan.
Menurut Saifudin Efendi, Ketua RT 02 RW 05 yangm juga motor penggerak program ini, gerakan Zero Waste di kampungnya lahir dari kegelisahan bersama.
“Dulu, setiap pagi kami lihat tumpukan sampah di depan rumah. Bau, kotor, dan sering jadi rebutan kucing. Dari situ kami berpikir, kalau bukan kita yang ubah kebiasaan, siapa lagi?” ujar Ipung, sapaannya, Sabtu (8/11/2025).
Yang unik, warganya nggak cuma bikin slogan manis. Mereka bikin aturan tertulis soal pemilahan sampah, lengkap dengan edukasi untuk penghuni kos dan kontrakan. Bahkan, setiap jalan dipenuhi poster edukatif—dari bahaya plastik hingga ajakan pilah sampah dari rumah.
Ipung menambahkan, perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. “Awalnya banyak yang cuek, tapi kami terus kasih contoh. Sekarang malah warga yang saling mengingatkan. Kalau ada yang buang sembarangan, langsung ditegur dengan halus,” katanya sambil tersenyum.
#AKSA: Riset dari Dalam Tong Sampah
Sebelum semua berjalan, mereka riset dulu dalam bimbingan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON). Namanya AKSA — Analisis Karakteristik Sampah. Dari riset ini, ditemukan fakta menarik: 48% sampah di SIBA KLASIK bersifat organik. Sisanya 34% daur ulang, 10% residu, dan 8% ecobrick. Data ini jadi dasar pengelolaan sampah di seluruh kawasan.
“Karena mayoritas sampahnya organik, warga fokus bikin kompos dari sisa dapur. Komposter biopori, Takakura, hingga tumpuk berjejer di halaman rumah,” kata Tonis Afrianto, Manager for Zero Waste Programs and Campaign Manager ECOTON.
“Bau sampah nyaris tak tercium, diganti aroma tanah lembap yang menandakan kehidupan baru. Di sini, bahkan tong sampah pun bisa jadi bahan pembelajaran,” tambah Ipung.
Menurut Tonis, AKSA bukan sekadar riset angka dan grafik, tapi juga upaya membangun kesadaran kolektif. “Kami ingin warga paham, setiap kantong sampah punya cerita. Begitu mereka tahu berapa banyak yang bisa dikomposkan, muncul rasa tanggung jawab untuk menguranginya,” ujarnya.
Riset ini juga membuka jalan bagi kolaborasi lintas pihak. Pemerintah kelurahan, petugas TPS3R, hingga komunitas lingkungan dilibatkan dalam 10 tahap menuju kawasan tanpa sampah.
Dari situ, SIBA KLASIK tumbuh bukan hanya sebagai kampung percontohan, tapi juga laboratorium sosial yang hidup, tempat warga belajar, bereksperimen, dan menularkan semangat Zero Waste ke kampung sebelah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

Ipung kemudian menambahkan lagi dengan bangga, “SIBA KLASIK itu bukti nyata bahwa perubahan bisa dimulai dari skala kecil. Dari satu RW saja, bisa menginspirasi satu kota. Yang penting, ada data, ada kemauan, dan ada kebersamaan.”
#Edukasi Door to Door: Dari Senyum ke Kesadaran
Gerakan Zero Waste di SIBA KLASIK tak digerakkan papan peringatan, tapi orang-orang yang sabar. Tim Penyuluh Zero Waste keliling dari pintu ke pintu, memberi edukasi sambil ngobrol santai. “Sudah pisah belum antara kulit pisang sama bungkus mi instan?” tanya mereka dengan senyum ramah.
Hasilnya tak main-main, survei tahun 2023 menunjukkan 68,89% warga sudah rutin memilah sampah. Sisanya 31,11% masih perlu dibimbing, tapi progresnya jelas. Kampung ini membuktikan bahwa perubahan besar kadang dimulai dari teguran kecil di depan pagar rumah.
#Lurah Apresiasi Semangat Warga SIBA
Di tempat yang sama, Lurah Sidokumpul Mukhlisun yang saat itu juga menjelaskan bahwa Kelurahan Sidokumpul terdiri dari 9 RW dan 44 RT dengan luas wilayah sekitar 72 hektar. Dalam hal ini, ia sangat mengapresiasi kegiatan yang digelar oleh Kampung SIBA KLASIK.
“Saya menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Kampung SIBA KLASIK. Pengunjungnya sangat banyak, bahkan ada yang datang dari RT sebelah dan luar kawasan Sidokumpul. Juga ada yang dari mancanegara, sempat ada pengunjung dari Belgia dan Belanda,” ungkapnya dengan bangga.

Mukhlisun berharap kegiatan semacam ini bisa menjadi agenda rutin warga. “Saya berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan oleh warga RW 5 RT 2 dengan konsep zero waste, dan mudah-mudahan warga RW serta RT lain bisa mencontoh semangat mereka,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil di lingkungan sendiri. “SIBA KLASIK membuktikan kalau pengelolaan sampah tidak harus menunggu bantuan besar. Cukup dengan kesadaran warga dan komitmen bersama, lingkungan bisa jadi bersih sekaligus bernilai ekonomi,” tambah Mukhlisun.
#Hidup Tanpa Plastik, Hidup Lebih Asik
Rapat RT, tahlilan, hingga acara syukuran di kampung ini semuanya bebas plastik sekali pakai. Warga membawa wadah sendiri, menggunakan gelas isi ulang, dan tas kain. Sistem reuse-refill berjalan alami tanpa banyak teori. Fasilitasnya pun lengkap — mulai dari ATM Sampah, keranjang daur ulang, hingga komposter aerob di tiap sudut halaman.
“Kalau Idul Kurban, kami sama sekali tidak menggunakan plastik sekali pakai. Kantong kresek sudah diganti dengan wadah ramah lingkungan untuk pembagian daging. Sebelum pembagian, panitia kurban sudah menyiapkan daun pisang dan daun jati sebagai pembungkus,” ujar Ipung,
SIBA KLASIK menjadi contoh nyata bahwa kebersihan bukan cuma urusan petugas, tapi hasil dari kebiasaan kolektif. Warganya tidak menunggu keajaiban dari pemerintah, mereka menciptakannya sendiri. Di tengah hiruk pikuk kota industri, SIBA KLASIK berdiri sebagai pengingat, “Kalau kampung bisa bebas sampah, kenapa kota tidak?” ***