AROMA BAHAN bakar masih menempel di tangan Fahri ketika motornya tiba-tiba brebet di tengah jalan. Pengendara asal Kecamatan Baureno, Bojonegoro, itu tidak menyangka, bensin yang biasanya jadi penyelamat malah bikin repot.
“Sebelumnya motorku enggak pernah ada masalah. Lah kemarin, habis isi Pertalite kok malah mesinnya brebet,” kata Fahri dikutip Kompas.com, Senin (27/10/2025).
Keluhan serupa datang dari Andi, warga Kecamatan Widang, Tuban, yang bekerja sebagai pengantar barang. Motornya yang biasanya jadi andalan kerja, mendadak tak bertenaga usai isi Pertalite di SPBU.
“Sorenya masih lancar. Tapi besok paginya, pas dipakai kerja, brebet dan enggak kuat nanjak,” katanya.
Ia sempat ganti busi, bersihkan filter, dan cek aliran bahan bakar. Nihil. Mesin tetap brebet.
Di bengkel AHASS Cipto Motor Tuban, Kepala Mekanik Jonatan membenarkan lonjakan keluhan serupa. “Beberapa laporan memang sama, mesin brebet. Tapi perlu analisa lebih lanjut,” ujarnya.
#Pertamina: Semua Sesuai Standar, Tapi Laboratorium Turun Tangan
Menjawab keresahan publik, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Ahad Rahedi menegaskan. “Setiap tahapan distribusi dilakukan berdasarkan standar yang telah ditetapkan untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga.”
Pertamina mengklaim semua produk BBM, termasuk Pertalite, telah diuji di laboratorium sebelum disalurkan. Namun, untuk kasus Tuban dan Bojonegoro, pihaknya tetap akan melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap produk Pertalite dari Fuel Terminal Tuban.
“Prioritas utama kami adalah menjamin keamanan suplai serta mutu produk BBM yang diterima masyarakat sesuai regulasi yang berlaku,” ujar Ahad.
Sebagai langkah cepat, Pertamina membuka tiga posko pengaduan di SPBU 5462101 (Jetak, Bojonegoro), SPBU 5462106 (Ngrowo, Bojonegoro), dan SPBU 5462305 (Wire, Tuban). Posko dibuka sejak 27–29 Oktober 2025.
#Polisi Turun ke SPBU: Dugaan “Oplosan” Mulai Diperiksa
Keresahan warga yang meluas sampai ke telinga aparat. Satreskrim Polres Tuban, Unit Tipidter, langsung bergerak.
“Ini kami laksanakan karena ada isu yang berkembang di masyarakat adanya Pertalite yang bermasalah,” kata Kanit Tipidter, Iptu I Made Riandika Darsana, Senin (27/10/2025).
Polisi melakukan inspeksi di SPBU Patung (Kelurahan Latsari) dan SPBU Dasin (Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu). Pemeriksaan dilakukan bersama Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan Tuban.
Sampel Pertalite diambil untuk diuji di TBBM. “Dari situ akan terlihat benang merahnya, apakah penyimpangan di SPBU atau di jalur pengiriman,” ujar Iptu Made.
Hasil sementara menunjukkan tak ada indikasi kecurangan takaran atau alat ukur. Secara fisik, warna dan aroma BBM “masih bagus”. Tapi publik tahu, hasil laboratorium yang sebenarnya belum keluar.
#Antrean di Posko Pengaduan: Dari Ojek Online Sampai Sopir Pribadi
Hari berikutnya, antrean motor memanjang di depan SPBU 5462305, Wire, Tuban. Puluhan warga mendatangi posko pengaduan membawa KTP, nota bengkel, dan bukti pembelian BBM.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Untuk pengaduan hari ini kami belum rekap jumlahnya, tapi sejak pagi sudah ada puluhan yang datang,” kata Yohan, petugas posko.
Di antara mereka ada Febri, pengemudi ojek online. Motornya, Honda PCX, rusak setelah isi Pertalite.
“Saya mengadu karena setelah isi Pertalite, motor brebet dan harus ganti sparepart senilai Rp390.000,” katanya.
Febri berharap biaya perbaikan diganti Pertamina, karena dua hari tidak bisa narik ojek. “Dua hari enggak kerja, mas. Kerasa banget.”
Keluhan serupa datang dari Wartono, ojol lain asal Tuban. “Cuma ganti busi dan servis injeksi Rp75.000. Tapi kalau motor rusak karena BBM, itu tanggung jawab siapa?” ujarnya dengan nada getir.

#Dari Pertalite ke Pertamax: Warga Mulai Tak Percaya
Kecurigaan makin kuat. Setelah perbaikan, banyak warga memilih beralih ke Pertamax.
“Setelah keluar dari bengkel, langsung saya ganti isi Pertamax. Takutnya rusak lagi,” ujar Rahmat Arifin, warga Tuban.
Warga lain, Memet, mengatakan keluhan brebet banyak dialami pengguna motor injeksi.
“Rata-rata yang kena itu motor injeksi. Begitu isi Pertalite langsung brebet,” katanya.
Ia bahkan ikut mengganti BBM mobil pribadinya ke Pertamax, khawatir rusak.
“Khawatir aja, kalau mesinnya rusak saya yang rugi,” ujarnya.
Kini, kepercayaan masyarakat terhadap Pertalite sedang diuji. Sebuah ironi di tengah kampanye pemerintah soal “BBM bersubsidi tepat sasaran”, ketika justru BBM yang mestinya paling aman bagi rakyat kecil malah bikin mesin rakyat sengsara.
#Ketika “Murah” Jadi Mahal
Puluhan warga kehilangan waktu kerja, uang bengkel, dan kepercayaan pada produk yang mereka beli setiap hari.
Masih menunggu hasil laboratorium, tapi aroma persoalan sudah menyengat lebih dulu dari bau bensin di SPBU.
Apapun hasilnya nanti — entah kesalahan teknis, distribusi, atau penyimpangan — satu hal pasti: ketika BBM rakyat bikin motor brebet, yang macet bukan cuma mesin, tapi juga kepercayaan.
#Pengaduan yang Tak Beradu
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan bahwa Pertamina telah membuka tiga titik Posko Pengaduan untuk melayani keluhan dan pelaporan masyarakat terkait BBM Pertalite, dengan lokasi sebagai berikut:
- SPBU 5462101
Jl. MT. Haryono, Jetak, Kec. Bojonegoro,
Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur - SPBU 5462106
Jl. Sawunggaling, Kadipaten, Ngrowo, Kec. Bojonegoro,
Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur - SPBU 5462305
Gg. Buntu No.10, Wire, Gedongombo, Kec. Semanding,
Kabupaten Tuban, Jawa Timur
Untuk wilayah terdampak lainnya di luar lokasi posko tersebut, masyarakat dapat menyampaikan keluhan melalui SPBU tempat terakhir melakukan pembelian BBM, atau melalui Pertamina Contact Center pada kanal berikut:
- Call Center: 135
- Email: pcc135@pertamina.com
- Direct Message (DM) Instagram: @pertamina.135 ***