Lebih dari satu abad berdiri di Jalan Tunjungan, Hotel Majapahit menyimpan jejak kolonial, revolusi, dan dinamika kota Surabaya yang terus tumbuh tanpa meninggalkan sejarahnya.
Jalan Tunjungan, Surabaya, selalu keramaian setipa paginya. Lalulintas jalan tak pernah jeda, kendaraan melintas tanpa henti, pejalan kaki menyeberang menuju pusat perbelanjaan, dan wisatawan sesekali berhenti untuk mengambil foto.
Di tengah arus kota yang modern itu, berdiri sebuah bangunan putih dengan jendela tinggi dan koridor panjang yang terasa berbeda dari bangunan di sekitarnya. Bangunan itu bukan baungunan asing, Hotel Majapahit. Begitu nama yang sudah dikenal khalayak. Hotel yang merupakan penanda sejarah kota Surabaya yang telah bertahan lebih dari satu abad.
Hotel ini pertama kali dibangun pada 1910 oleh pengusaha keturunan Armenia, Lucas Martin Sarkies, anggota keluarga Sarkies yang dikenal mengembangkan jaringan hotel mewah di Asia Tenggara. Saat pertama berdiri, hotel tersebut bernama Hotel Oranje.
Pada masa itu, Surabaya berkembang pesat sebagai kota pelabuhan utama di Hindia Belanda. Kapal-kapal dagang dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah berlabuh di pelabuhan kota ini. Bersamaan dengan itu, para pedagang, pejabat kolonial, dan pelancong dari berbagai negara datang dan pergi membawa berbagai kepentingan ekonomi maupun politik.
Hotel Oranje hadir sebagai tempat persinggahan mewah bagi para pedagang, pejabat kolonial, dan pelancong yang datang ke Surabaya pada awal abad ke-20. Bangunan hotel dirancang dengan arsitektur kolonial tropis yang menyesuaikan iklim kota pelabuhan yang panas dan lembap.
Dalam sejumlah catatan sejarah, bangunan ini dirancang oleh arsitek Begnet Alfred John Bidwell. Hotel ini berdiri di atas lahan seluas 6.377 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 5.000 meter persegi. Desainnya memadukan gaya Art Nouveau dan Art Deco, yang pada masa itu menjadi tren arsitektur di berbagai kota kolonial di Asia.
Pada awal abad ke-20, hotel ini dikenal sebagai salah satu tempat paling prestisius untuk menginap di kota. Para tamu elite sering mengadakan pertemuan sosial, jamuan makan malam, hingga pesta dansa di ruang-ruang hotel.
Arsitektur bangunan tersebut hingga kini masih dipertahankan. Pilar-pilar besar, pintu kayu tinggi, dan lantai marmer yang dingin tetap menjadi bagian dari identitas hotel. Ketika berjalan di lorongnya, pengunjung seakan kembali ke masa ketika Surabaya masih menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Asia Tenggara.
Namun perjalanan sejarah hotel ini tidak berhenti pada kemewahan kolonial semata. Pada pertengahan abad ke-20, bangunan tersebut justru menjadi saksi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.

#Atap Hotel dan Peristiwa Perobekan Bendera
Tanggal Insiden Hotel Yamato menjadi salah satu bab paling dramatis dalam sejarah kota Surabaya. Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Saat itu, situasi politik di berbagai kota masih sangat tegang. Di Surabaya, sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di atap hotel yang pada masa itu telah berganti nama menjadi Hotel Yamato.
Bagi rakyat Surabaya yang baru saja mendengar kabar kemerdekaan, pengibaran bendera Belanda dianggap sebagai simbol kembalinya kekuasaan kolonial. Tindakan tersebut memicu kemarahan para pemuda.
Sekelompok pemuda Surabaya kemudian bergerak menuju hotel. Mereka memanjat atap bangunan untuk menurunkan bendera tersebut. Dalam aksi yang berlangsung cepat dan menegangkan, bagian biru dari bendera Belanda dirobek sehingga menyisakan warna merah dan putih.
Bendera itu kemudian berkibar sebagai Bendera Merah Putih, simbol bahwa rakyat Surabaya menolak kembalinya kolonialisme.
Peristiwa saat itu menjadi salah satu simbol keberanian warga Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan. Insiden itu juga sering disebut sebagai salah satu pemicu meningkatnya semangat perlawanan yang kemudian berpuncak pada Pertempuran Surabaya.
Sejak saat itu, bangunan hotel tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat menginap mewah. Ia berubah menjadi penanda sejarah perjuangan kota.
Hingga hari ini, banyak pengunjung datang untuk melihat langsung tempat yang pernah menjadi lokasi peristiwa tersebut. Atap bangunan hotel sering disebut dalam buku sejarah, dokumenter, maupun cerita rakyat tentang keberanian pemuda Surabaya pada masa revolusi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Warisan Sejarah di Tengah Kota Modern
Lebih dari tujuh dekade setelah peristiwa itu terjadi, Hotel Majapahit Surabaya masih berdiri kokoh di Jalan Tunjungan.
Di tengah perkembangan kota yang semakin modern, keberadaan bangunan bersejarah ini menjadi pengingat bahwa Surabaya memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi kota metropolitan seperti sekarang.
Bagi banyak wisatawan, hotel ini bukan sekadar tempat menginap, melainkan juga destinasi sejarah. Rina (28), wisatawan asal Malang yang datang berkunjung, mengaku penasaran melihat langsung lokasi peristiwa perobekan bendera yang selama ini hanya ia dengar di pelajaran sejarah.
“Biasanya cuma baca di buku atau dengar dari guru. Pas tahu tempatnya masih ada dan bisa dikunjungi, rasanya ingin melihat langsung,” ujarnya sambil memotret bagian depan bangunan.
Menurutnya, berada di lokasi yang pernah menjadi bagian dari peristiwa sejarah membuat cerita tersebut terasa lebih nyata.
Hal serupa juga dirasakan warga yang bekerja di sekitar kawasan Jalan Tunjungan. Bagi mereka, hotel tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sutrisno (52), seorang pengemudi ojek yang sering menunggu penumpang di sekitar kawasan tersebut, mengatakan wisatawan kerap datang hanya untuk melihat bangunan hotel.
“Kalau ada turis biasanya mereka tanya Hotel Majapahit. Banyak yang datang cuma buat foto atau lihat bangunannya,” katanya.
Menurut Sutrisno, Surabaya memang terus berubah dengan hadirnya gedung-gedung baru, pusat perbelanjaan, dan kawasan bisnis modern. Namun bangunan lama seperti Hotel Majapahit membuat kota ini tetap memiliki jejak sejarah yang bisa dilihat secara langsung.
Keberadaan hotel ini juga menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu hidup di museum atau monumen. Kadang-kadang, sejarah tetap bertahan melalui ruang yang masih digunakan hingga hari ini.
Di dalam hotel, suasana masa lalu masih terasa. Koridor panjang, taman di halaman tengah, serta pintu-pintu kayu besar menciptakan atmosfer yang berbeda dari hotel modern pada umumnya. Para tamu berjalan di lorong yang sama dengan yang pernah dilewati para pedagang, pelancong, dan pejabat kolonial lebih dari satu abad lalu.
Di kota yang terus berkembang seperti Surabaya, bangunan bersejarah sering menghadapi tekanan untuk digantikan oleh pembangunan baru. Namun Hotel Majapahit menunjukkan bahwa warisan sejarah masih dapat hidup berdampingan dengan kebutuhan masa kini.
Selama bangunan ini tetap berdiri dan ceritanya terus diceritakan, Hotel Majapahit akan selalu menjadi salah satu saksi paling penting perjalanan Surabaya.
Di tengah hiruk-pikuk Jalan Tunjungan yang tak pernah benar-benar sepi, bangunan putih itu tetap berdiri tenang—seolah mengingatkan bahwa sejarah kota ini tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berdiam dalam dinding-dinding tua yang terus menyimpan cerita dari masa ke masa.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.