Lewati ke konten

Drama Kali Gayaran di Lamongan: Ketika Ekskavator Ampibi Baper di Tengah Normalisasi

| 3 menit baca |Sorotan | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Kontributor M Yakup Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

SEMUA BERMULA dari rapat koordinasi di Balai Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Udara penuh semangat, meja penuh kertas, gelas kopi tersedia, minuman mineral berbotol plastik yang bakal mencemari sungai pun tersedia, dan mulut-mulut penuh keluhan warga yang sudah muak dengan banjir. Warga nelayan yang biasanya galau karena hasil tangkapan, kini galau karena perahu mereka malah nganggur di daratan.

“Airnya dangkal, Mas. Kapal saya malah nyangkut kayak mantan yang susah move on,” ujar salah satu warga (dalam hati kita semua ikut relate).

Akhirnya, hasil rapat pun gemilang, normalisasi Kali Gayaran akan segera dilakukan. Semua pihak kompak. mulai dari Pemkab Lamongan, Dinas PU SDA Provinsi, sampai BBWS Bengawan Solo. Bahkan Pemdes Paciran pun siap sedia, lengkap dengan armada angkut sedimen.

Rencana sudah tersusun, tinggal nunggu alat berat datang. Tinggal nunggu… tapi ya itu, kadang yang ditunggu lama datangnya.

#Ekskavator Ampibi: Si Pahlawan yang Lagi Galau

Skenarionya sederhana, OP IV Bengawan Solo bawa ekskavator ampibi, SDA Provinsi bawa ekskavator long arm, SDA Lamongan bawa ekskavator standar, dan Pemdes bawa semangat gotong royong.

Dalam laporan, semuanya mulus. Tapi di lapangan, seperti biasa, realita datang menampar.

Sang ekskavator ampibi yang jadi andalan karena bisa nyemplung ke air tanpa tenggelam,  tiba-tiba trouble. Entah galau, entah kelelahan, atau mungkin butuh cuti refleksi diri. Yang jelas, alat kebanggaan OP IV Bengawan Solo itu mogok di tengah lapangan.

“Masih nunggu perbaikan,” kata Kepala Dinas Kominfo Lamongan, Sugeng Widodo, dengan nada penuh harapan seperti mahasiswa nunggu dosen ACC skripsi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Padahal, pengerukan sudah berjalan 350 meter dari target 500 meter. Tinggal 150 meter lagi di kanan kiri Jembatan Daendels. Tapi ya, tanpa si ampibi, kerjaannya kayak ngerjain skripsi tanpa laptop: niat ada, tapi alatnya enggak jalan.

Rapat koordinasi Pemerintah Desa Paciran bersama perwakilan BBWS Bengawan Solo, Dinas PU SDA Provinsi Jatim, dan Pemkab Lamongan membahas rencana normalisasi Kali Gayaran. Pertemuan digelar di Balai Desa Paciran untuk menindaklanjuti keluhan warga terkait pendangkalan sungai dan genangan banjir di kawasan nelayan. | Foto: Yakup

#Kali Gayaran (Hampir) Kembali Bersinar

Meski drama alat berat ini bikin warga geregetan, hasil sementara patut diapresiasi. 350 meter Kali Gayaran yang sudah dikeruk kini mulai kinclong. Airnya lebih lega, banjir mulai berkurang, dan perahu nelayan kembali bisa sandar tanpa perlu manuver kayak kapal perang.

“Minimal, kalau hujan besar, airnya nggak langsung ngamuk ke rumah warga,” kata warga lain sambil menatap sungai dengan harapan baru.

Sekarang, warga Paciran hanya bisa menunggu kabar baik dari Bengawan Solo: apakah sang ekskavator ampibi sudah siap turun lagi ke medan laga? Atau masih merenung di bengkel, memikirkan makna hidup dan hidrolik yang bocor?

Yang jelas, warga cuma pengin satu hal sederhana: Kali Gayaran normal, perahu jalan, dan nggak perlu lagi ngeluh setiap musim hujan datang. Soal ekskavator yang baper, ya semoga cepat baikan aja.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *