Lewati ke konten

Drama Penipuan: Nama Bupati Jombang Dipakai, Dompet Hampir Melayang

| 3 menit baca |Sorotan | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi

JOMBANG – Ada-ada saja cara orang buat cari duit cepat. Dari jualan madu sunnah di grup WA keluarga sampai ikut arisan online yang nggak jelas juntrungannya. Nah, di Jombang, modusnya naik kelas: pura-pura jadi Bupati.

Korbannya nyaris saja Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Jombang, Cholil Hasyim. Bayangkan, sehari setelah audiensi resmi sama Bupati Warsubi di Pendopo, eh, ada nomor asing yang tiba-tiba nyelonong ke WhatsApp beliau. Ngaku staf rumah dinas, siap-siap katanya “Pak Bupati mau bicara langsung.”

“Saya diminta standby karena Pak Bupati akan segera berbicara langsung dengan saya,” ungkap Cholil Hasyim, Sabtu (27/9/2025).

Satu jam kemudian, panggilan masuk. Suaranya? Mirip banget sama suara bupati asli. Bisa dibilang ini penipu versi voice acting. Kalau ikut lomba mirip suara pejabat, minimal juara harapan tiga lah.

Obrolan awal mulus, ngomongin pendidikan, bikin Cholil agak percaya. Tapi seperti biasa, di episode sinetron penipuan, selalu ada momen klimaks: dimintai duit Rp 35 juta buat “menalangi program desa”. Transfer ke rekening atas nama Reza Pahlevi. Janjinya manis, nanti dibalas anggaran Rp 150–200 juta buat Dewan Pendidikan. Kayak promo cashback belanja online.

“Dia bilang kalau bukan saya, siapa lagi yang bisa dimintai tolong. Saya diminta transfer Rp 35 juta ke rekening BCA atas nama Reza Pahlevi,” jelas Cholil.

Untung Cholil nggak gampang kepancing. Beliau sadar, kalau pejabat tiba-tiba minta transferan via WhatsApp, itu bukan program resmi, tapi program tipu-tipu.

#Kenapa Orang Masih Bisa Ketipu?

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

  1. Stempel otoritas
    Kalau ada embel “Bupati bilang” atau “atas instruksi Bupati”, banyak orang langsung ciut. Seolah-olah nggak nurut berarti anti-pembangunan.
  2. Tekanan waktu
    Formatnya selalu ada “urgent”, “harus sekarang juga”, biar korban panik dan nggak sempat mikir. Kayak notif pinjol yang suka maksa.
  3. Zona nyaman birokrasi
    Orang yang sering berurusan dengan pejabat justru rawan, soalnya udah biasa percaya sama embel-embel proyek.
  4. Edukasi digital masih kaku
    Teori “jangan gampang percaya” udah sering didengar. Tapi kalau modusnya halus, lengkap dengan suara mirip bupati, ya bisa goyah juga.

#Apa yang Bisa Kita Catat?

  • Verifikasi, jangan buru-buru. Kalau ada yang ngaku pejabat, cek dulu ke kantor atau channel resmi.
  • Jangan panik kalau ada embel-embel “urgent”. Ingat, yang urgent itu cuma promo diskon di e-commerce pas tanggal kembar.
  • Institusi publik harus tanggap. Kalau nama bupati dipakai buat nipu, ya harus cepat klarifikasi. Jangan sampai reputasi ikut tercoreng gara-gara oknum penipu.

#Transferan Ilusi Pejabat

Modus penipu “aku pejabat” memang udah lama ada. Bedanya, sekarang lebih canggih, pakai WhatsApp, pakai suara mirip, bahkan pakai naskah obrolan yang realistis.

Kasus Cholil Hasyim ini bukti bahwa siapa pun bisa kena. Jadi kalau tiba-tiba ada WA masuk bilang “ini Bupati, tolong transfer sekarang juga”, ingatlah satu hal, bupati itu gajinya jelas, tanahnya luas, rumahnya ada, mobilnya juga banyak. Masa iya masih ngemis Rp 35 juta ke kita?

Kalau sampai percaya, berarti bukan cuma ditipu, tapi juga auto jadi bahan ghibah satu kabupaten.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *