Ecoton bersama Human in Love Foundation Korea menyalurkan donasi buku lingkungan ke sekolah-sekolah di Jawa Timur. Program ini merupakan bentuk apresiasi bagi pemenang lomba gambar internasional “My Beloved Ocean” sekaligus upaya menanamkan kesadaran perlindungan laut sejak usia dini.
#Edukasi Lingkungan Melalui Buku dan Seni Gambar
Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) bekerja sama dengan Human in Love Foundation Korea menyalurkan donasi buku bertema lingkungan dan kelautan kepada sejumlah sekolah di Jawa Timur.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian penghargaan bagi pemenang lomba menggambar internasional “My Beloved Ocean” yang diikuti peserta anak-anak dari lebih dari lima negara.
Donasi buku disalurkan ke lima sekolah, yakni KB TK Al Falah Surabaya, SDN Airlangga III Surabaya, SMP Katolik Santa Agnes Surabaya, MI Ma’arif Ketegan Sidoarjo, dan MI An Nidhom Banyuwangi.
Buku-buku tersebut memuat materi tentang pencemaran plastik, ekosistem laut, serta pentingnya menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati, dengan pendekatan visual yang ramah anak.
Bagi Ecoton, buku menjadi sarana penting untuk memperkuat pemahaman anak-anak terhadap isu lingkungan yang selama ini sering dianggap abstrak. Dengan ilustrasi dan cerita yang kontekstual, anak-anak diharapkan mampu menghubungkan realitas kerusakan laut dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Program ini juga sejalan dengan kampanye pengurangan plastik sekali pakai dan penguatan literasi lingkungan di lingkungan sekolah.

#Sekolah Menilai Donasi Relevan dengan Pendidikan Karakter
Pihak sekolah penerima donasi menyambut baik program ini karena dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan lingkungan hidup. Drs. Wiyani, Koordinator Kesiswaan SDN Airlangga III Surabaya, menilai bahwa anak-anak membutuhkan pendekatan yang lebih konkret untuk memahami dampak pencemaran plastik terhadap laut.
“Selama ini anak-anak belum banyak diperlihatkan secara langsung dampak sampah plastik dan pengaruhnya terhadap ekosistem laut. Informasi sering mereka peroleh hanya dari berita. Anak-anak membutuhkan visual dan penjelasan yang nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, SDN Airlangga III Surabaya telah menerapkan kebijakan kantin tanpa plastik sekali pakai. Namun, kebijakan tersebut perlu diperkuat dengan pemahaman yang menyeluruh agar perubahan perilaku tidak berhenti pada aturan, tetapi tumbuh dari kesadaran.
“Harapan kami, anak-anak benar-benar memahami bahaya sampah plastik, termasuk dampaknya terhadap keberlangsungan keanekaragaman hayati laut,” lanjut Wiyani.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBagi sekolah, donasi buku ini bukan hanya bentuk penghargaan atas prestasi siswa, tetapi juga menjadi materi pendukung pembelajaran karakter, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab sosial sejak dini.

#Anak, Keluarga, dan Kampanye Cinta Laut
Para pemenang lomba menggambar internasional “My Beloved Ocean” perwakilan Indonesia berasal dari berbagai jenjang pendidikan. Mereka adalah Raynold Alexander Sie dari SMP Katolik Santa Agnes Surabaya, Aflach Ghoyda Siraj dari MI An Nidhom Banyuwangi, dan Zhenaya Aghnarity dari SDN Airlangga III Surabaya yang meraih kategori Ocean Lover Best.
Sementara itu, Adzkia Islamadina dari KB TK Al Falah Surabaya meraih Ocean Dreamer Best, dan Kainalillah Subekti dari MI Ma’arif Ketegan Sidoarjo mendapatkan Human in Love – Special Award.
Sukma, wali murid Zhenaya Aghnarity, mengungkapkan kebanggaannya atas capaian sang anak. Ia menjelaskan bahwa gambar Zhenaya menampilkan anak-anak yang berenang bahagia bersama hiu dan paus di laut Indonesia yang indah.
“Padahal kenyataannya, laut kita saat ini banyak dipenuhi sampah. Lewat gambar tersebut, kami ingin menyampaikan pesan bahwa laut akan tetap indah jika dijaga bersama,” kata Sukma.
Sementara itu, Alaika Rahmatullah, kolaborator dari Ecoton, menegaskan bahwa lomba menggambar internasional ini dirancang sebagai media edukasi dan kampanye lingkungan yang ramah anak. Seni, menurutnya, menjadi pintu masuk yang efektif untuk membangun empati dan kesadaran tanpa menakut-nakuti.
“Kami ingin menjadikan anak-anak sebagai subjek utama perubahan. Melalui gambar, isu pencemaran plastik, kerusakan ekosistem laut, dan ancaman terhadap biodiversitas dapat dikenalkan secara positif, imajinatif, dan membangun empati,” ujar Alaika.
Kolaborasi Ecoton dan Human in Love Foundation diharapkan dapat memperkuat peran sekolah, keluarga, dan komunitas dalam membangun generasi muda yang peduli terhadap laut, lingkungan, dan masa depan bumi.
Program ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari imajinasi dan kepedulian anak-anak hari ini.***