Lewati ke konten

ECOTON Masuk Belajaraya, Lingkungan Jadi Ruang Belajar

| 2 menit baca |Ide | 20 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease
Terverifikasi Bukti

Melalui riset mikroplastik, ECOTON membawa isu lingkungan ke Belajaraya Surabaya 2026, mengajak komunitas pendidikan belajar menjaga bumi dari sekitar.

Pendidikan lingkungan tak selalu harus dimulai dari kurikulum yang susah dipahami. Bagi ECOTON Foundation, sungai, sekolah, dan ruang hidup sehari-hari justru merupakan kelas paling nyata untuk belajar menjaga bumi.

Gagasan itu akan dibawa ECOTON saat terlibat sebagai narasumber dalam Belajaraya Surabaya 2026, forum kolaborasi pendidikan yang digelar oleh Semua Murid Semua Guru (SMSG), di Sekolah Cikal Surabaya, Sambikerep, Sabtu, 7 Februari 2026,.

Acara akan mempertemukan lebih dari 100 komunitas dan organisasi pendidikan di Surabaya dan sekitarnya.

ECOTON diwakili Rafika Aprilianti, S.Si, Kepala Laboratorium Ekologi sekaligus Manajer Riset Peneliti Mikroplastik.

Ia dijadwalkan hadir dalam sesi Ngobrol Publik #2 bertema Lingkungan: Belajar Jaga Bumi, Mulai dari Sekitar, bersama Dedhy Bharoto Trunoyudho dari Garda Pangan dan Lyly Freshty dari Charlotte Mason Indonesia. Diskusi akan dipandu Devira Putri Rahmawati dari Komunitas Narasi Jatim.

#Riset Tak Berhenti di Laboratorium

Selama ini, ECOTON dikenal lewat riset pencemaran sungai dan mikroplastik. Namun, menurut Rafika, data dan angka bukan tujuan akhir. Riset justru menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran publik, terutama anak-anak dan komunitas Pendidikan, tentang dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan.

“Data bisa menjadi media belajar yang sangat konkret. Anak-anak tidak hanya membaca pencemaran di buku, tapi melihat langsung kondisi sungai di sekitar mereka,” ujar Rafika, Kamis, 6 Februari 2026.

Dalam sesi yang berlangsung pukul 15.05–15.50 WIB, Rafika akan memaparkan pengalaman ECOTON menjadikan riset mikroplastik di sungai-sungai Surabaya sebagai ruang belajar bersama.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sungai tak lagi sekadar objek penelitian, melainkan sarana refleksi tentang konsumsi plastik, kebiasaan rumah tangga, dan tanggung jawab kolektif.

Pendekatan ini, kata Rafika, penting agar pendidikan lingkungan tidak terasa menggurui. Alih-alih memberi perintah, ECOTON mendorong proses belajar yang lahir dari rasa ingin tahu dan pengalaman langsung.

#Belajaraya dan Ekosistem Pendidikan

Belajaraya Surabaya dirancang sebagai ruang temu lintas sektor, guru, komunitas, orang tua, hingga organisasi masyarakat sipil—untuk berbagi praktik baik pendidikan. Selain ngobrol publik, kegiatan ini diisi aktivitas anak, pameran dampak komunitas, serta Temu Penggerak Pendidikan dalam bentuk diskusi kelompok terfokus.

Di akhir rangkaian acara, peserta akan mengikuti Deklarasi Penggerak sebagai komitmen bersama memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan berpihak pada anak.

Bagi ECOTON, keterlibatan dalam Belajaraya menegaskan bahwa krisis lingkungan tak bisa dipisahkan dari pendidikan. Kesadaran menjaga bumi, kata Rafika, seharusnya tumbuh dari hal paling dekat—sekolah, komunitas, bahkan sungai di depan rumah.

“Kalau anak-anak belajar dari lingkungannya sendiri, kepedulian itu akan lebih bertahan lama,” ujarnya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *