MOJOKERTO – Mojokerto, tanah yang di mana setiap gundukan bisa menyimpan masa lalu. Tapi kali ini, masa lalu itu muncul bukan dari reruntuhan candi, melainkan dari tanah kuburan.
Empat tahun lalu, di Dusun Mojojejer, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, warga yang sedang menggali makam malam-malam menemukan sesuatu yang keras. Dikira batu, ternyata sesosok arca kecil. Tingginya sekitar 45 sentimeter, lebarnya 18. Kondisinya utuh—seolah tahu cara bertahan dari waktu.
Namun di Mojojejer, tak semua temuan boleh sembarangan diumumkan. Alih-alih diserahkan ke dinas kebudayaan, arca itu justru dibawa dan disimpan di tempat penyimpanan keranda. Ruang kecil di area makam yang selalu terkunci. Empat tahun lamanya, arca itu menemani keranda dalam sunyi, seperti menjaga rahasia kecil desa.
“Penemuan arca sebenarnya sudah empat tahun lalu, tapi warga takut melaporkan,” kata Muhammad Anis, Plt Kepala Dusun Mojojejer, Jumat (10/10/2025). “Arca disimpan di tempat keranda karena warga meyakini itu peninggalan leluhur yang membabat desa. Jadi tidak boleh dibawa keluar.”
Rasa takut itu bukan tanpa alasan. Di banyak desa di Mojokerto, benda kuno sering dianggap punya penunggu. Apalagi ditemukan di makam. Maka, bagi warga, menyimpan arca di dekat tempat orang meninggal bukan keputusan aneh—melainkan bentuk penghormatan.
Baru pada Oktober 2025, Kepala Desa Pesanggrahan akhirnya memberanikan diri melapor ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur dan Disbudporapar Kabupaten Mojokerto. Empat tahun rahasia itu pun terbuka.
#Misteri Leluhur dan Jejak Pesanggrahan
Begitu laporan masuk, tim BPK Wilayah XI langsung meninjau lokasi. Ning Suryati, Analis Cagar Budaya dan Permuseuman, datang melihat langsung arca yang sebagian masih tertutup tanah liat. “Kemungkinan arca dewa,” katanya hati-hati. “Tapi jenisnya masih perlu diteliti lebih lanjut. Kalau arca membawa atribut, kami bisa langsung tahu. Tapi ini tidak membawa apa-apa. Posisi duduk bersila, memakai kain, tangan di depan, ada mahkota, anting, kalung, gelang, dan berjenis laki-laki.”
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelKalem tapi berwibawa. Seperti pemuka adat yang sedang meditasi.
Suryati menambahkan, arca itu kemungkinan berasal dari masa lama, mungkin dari zaman Majapahit. Apalagi nama “Pesanggrahan” sendiri berarti tempat singgah. “Mungkin dahulu wilayah ini jadi tempat peristirahatan bangsawan. Bisa saja Hayam Wuruk pernah singgah di sini,” ujarnya sambil tersenyum.
Untuk langkah selanjutnya, BPK Wilayah XI akan mengeluarkan surat rekomendasi ke Disbudporapar Mojokerto. Tapi pemindahan arca tak akan dilakukan sepihak. “Kami menunggu keputusan masyarakat. Bila warga setuju, arca akan dipindahkan untuk pelestarian. Bila tidak, masyarakat diminta ikut menjaga peninggalan tersebut,” katanya.
Antara keyakinan dan penelitian, antara kuburan dan cagar budaya, arca Mojojejer berdiri di ruang yang ganjil tapi menarik. Ia bukan sekadar batu berukir, tapi simbol kecil tentang bagaimana masa lalu dan kepercayaan lokal masih saling menjaga.
Empat tahun arca itu diam di dekat makam, dan kini akhirnya ia bicara—bukan dengan kata, tapi dengan keberadaannya. Di tengah ketakutan dan rasa ingin tahu, desa Mojojejer membuktikan: kadang, sejarah tidak ditemukan. Ia menunggu, dengan sabar, sampai orang cukup berani membuka pintu tempat keranda.***