Lewati ke konten

Gemuruh Reog di Simo Sidomulyo: Memulangkan Tradisi di Malam Pergantian Tahun

| 5 menit baca |Ide | 49 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Alih-alih kembang api, malam tahun baru di Simo Sidomulyo 3 Surabaya bergemuruh oleh Reog Ponorogo, hasil gotong royong warga yang memulangkan tradisi dan menyalakan optimisme komunitas perkotaan di jantung kota Surabaya.

 

Malam di sudut Kota Surabaya biasanya identik dengan dentum kembang api yang memecah langit dan deru mesin kendaraan yang memadati jalanan protokol. Namun, suasana berbeda terasa di kawasan Simo Sidomulyo 3.

Di gang-gang permukiman yang biasanya tenang, udara malam itu bergetar bukan karena pengeras suara musik modern, melainkan oleh semangat kebersamaan warga yang ingin menghidupkan kembali ruh kesenian Reog Ponorogo sebagai penanda pergantian tahun.

Bukan sekadar tontonan, Reog menjadi penanda hidupnya kembali ikatan warga. Dari kerja mandiri berbulan-bulan, tradisi hadir di depan rumah sendiri. | Foto: Ulung

Bagi warga setempat, perayaan kali ini bukan sekadar seremoni pergantian kalender. Ia adalah perayaan kemenangan atas kerinduan yang telah mengendap bertahun-tahun. Sudah cukup lama lingkungan ini sepi dari atraksi budaya lokal.

Modernisasi dan kesibukan kota besar perlahan mengikis tradisi yang dulunya menjadi kebanggaan warga. Selama beberapa tahun terakhir, Reog seolah menjelma dongeng masa lalu—kerap dibicarakan saat berkumpul, namun tak pernah benar-benar hadir dalam wujud pertunjukan nyata.

Kerinduan itu kemudian memuncak menjadi tekad kolektif. “Mengapa kita tidak membuatnya sendiri?” Kalimat sederhana tersebut menjadi pemantik semangat warga.

Mereka menyadari, selama hanya menunggu atau sekadar mengundang kelompok dari luar, kemandirian budaya tak akan pernah terbentuk. Dari situlah sebuah proyek ambisius dimulai, melibatkan tangan-tangan kreatif warga Simo Sidomulyo sendiri.

Di tengah kota yang tak pernah tidur, Dadak Merak menari sebagai bukti bahwa budaya masih punya ruang tumbuh di permukiman warga. | Foto: Ulung

#Tiga Bulan Merajut Asa dan Kreativitas

Pertunjukan yang memukau mata malam itu tidak lahir secara instan. Di baliknya, terdapat proses panjang selama kurang lebih tiga bulan pengerjaan mandiri. Sejak tiga bulan sebelum malam pergantian tahun, sebuah sudut permukiman disulap menjadi bengkel seni dadakan.

Para bapak, pemuda, hingga sesepuh bahu-membahu mengerjakan setiap detail perlengkapan Reog. Membuat Dadak Merak – topeng raksasa berhias bulu merak – bukan perkara mudah. Helai demi helai bulu disusun dengan penuh ketelitian, sementara rangka bambu dirakit dengan perhitungan matang agar tetap seimbang dan kokoh.

Proses mandiri ini menyimpan nilai filosofis yang dalam. Karena dibuat sendiri, setiap lekukan ukiran dan jalinan anyaman mengandung keringat sekaligus doa warga Simo Sidomulyo 3.

Selama tiga bulan itu, ikatan tetangga kian menguat: mereka yang ahli bertukang berbagi pengetahuan dengan yang muda, sementara para ibu memastikan konsumsi bagi warga yang lembur mengerjakan atribut hingga larut malam.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ritual Pembuka: Sambutan dan Doa Bersama

Sebelum keriuhan alat musik tradisional memecah malam, kegiatan diawali dengan sambutan dan doa bersama. Di bawah temaram lampu jalan, tokoh masyarakat dan perwakilan pemuda berdiri memberikan apresiasi atas kerja keras warga selama tiga bulan terakhir. Sambutan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan ungkapan syukur atas hidupnya kembali kerukunan dan kreativitas warga.

Suasana kemudian berubah khidmat saat prosesi doa bersama dimulai. Seluruh warga yang hadir menundukkan kepala, memanjatkan syukur atas tahun yang telah dilewati serta memohon keselamatan dan keberkahan di tahun yang akan datang.

Doa ini sekaligus menjadi simbol restu agar pertunjukan Reog berjalan lancar dan membawa kebaikan bagi seluruh lingkungan. Keheningan doa menciptakan fondasi spiritual sebelum energi besar kesenian Reog dilepaskan ke tengah penonton.

#Malam Puncak: Ketika Warisan Bertemu Generasi Muda

Begitu doa bersama usai, suara kendang dan saronen bertalu-talu. Puncak pertunjukan terjadi saat Dadak Merak hasil kerja mandiri itu muncul ke tengah gelanggang. Dengan berat puluhan kilogram, topeng raksasa tersebut diangkat hanya dengan kekuatan gigi sang pembarong – simbol keteguhan dan kekuatan batin. Warga yang menyaksikan tampak terpana; rasa lelah berbulan-bulan seolah luruh seketika ketika karya mereka menari gagah di hadapan mata.

Tujuan utama perhelatan ini begitu mulia: melestarikan kebudayaan sekaligus mengenalkannya kepada anak cucu. Di antara kerumunan, tampak anak-anak kecil duduk di pundak ayah mereka dengan mata berbinar.

Mereka tak lagi hanya mengenal Reog dari layar ponsel, melainkan menyaksikannya langsung di depan rumah sendiri. Inilah cara warga Simo Sidomulyo melakukan regenerasi budaya—melalui pengalaman nyata yang membekas di ingatan generasi penerus.

Anak-anak menyaksikan Reog bukan dari layar gawai, melainkan langsung di kampung mereka. Sebuah malam yang memulangkan warisan kepada generasi penerus. | Foto: Ulung

#Lebih dari Sekadar Hiburan

Suguhan ini memang tergolong sederhana jika dibandingkan dengan panggung-panggung megah di pusat kota. Namun, bagi warga Simo Sidomulyo 3, kesederhanaan itulah yang justru bernilai tinggi. Nilai tersebut lahir dari rasa kepemilikan. Mereka bukan penonton pasif, melainkan kreator, pemain, sekaligus penjaga tradisi.

Pertunjukan ini menjadi bukti bahwa di tengah kepungan gaya hidup urban Surabaya, nilai-nilai tradisional masih memiliki ruang untuk tumbuh. Reog bukan semata tontonan, melainkan penegasan bahwa gotong royong mampu melahirkan karya yang bermakna.

#Menatap Tahun Baru dengan Optimisme Baru

Ketika malam semakin larut dan suara terompet tahun baru terdengar dari kejauhan, di Simo Sidomulyo 3 yang tersisa adalah kepuasan batin. Lelah terbayarkan, rindu tertunaikan, dan warisan budaya kembali menemukan rumahnya.

Malam pergantian tahun di Simo Sidomulyo 3 pun menjadi tonggak kecil namun penting. Warga telah membuktikan bahwa kebudayaan tidak akan punah selama ada kemauan untuk bergerak dan berkarya. Kini, anak cucu di kampung itu tak lagi perlu bertanya seperti apa rupa Reog yang gagah—mereka telah melihatnya sendiri sebagai buah dari kerja keras orang tua mereka.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *