Program JAPRI Keluarga yang digagas Ecoton bersama PT Petrokimia Gresik mengajak siswa dan keluarga menanam pohon sukun sebagai upaya merawat lingkungan dari tingkat rumah. Gerakan ini menekankan pentingnya restorasi ekologis berbasis komunitas dan pendidikan sejak dini.
#Gerakan Menanam yang Mengajak Keluarga Turut Menjaga Lingkungan
Program JAPRI Keluarga (Jaga Pohon Rawat Indonesia) yang dilaksanakan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama PT Petrokimia Gresik resmi bergulir di sejumlah sekolah di sekitaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
Progran ini sebagai model pelibatan keluarga dalam upaya menjaga lingkungan dari skala paling dasar, halaman rumah dan komunitas sekitar. Melibatkan siswa sebagai pelaksana utama dan keluarga sebagai lingkar penguat.

Gerakan yang juga menempatkan pendidikan lingkungan sebagai pilar untuk memutus rantai kerusakan ekologis yang kian terlihat dari menurunnya kualitas air sungai, hilangnya tutupan hijau, hingga ancaman pangan lokal.
Dalam program ini, Ecoton mendorong penanaman pohon sukun (Artocarpus altilis) sebagai spesies utama. Selain karena kemampuannya tumbuh baik di daerah tropis, sukun memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi.
Daun rimbunnya berfungsi sebagai peneduh, akar kuatnya membantu menahan erosi, dan buahnya dapat menjadi sumber pangan alternatif keluarga.
Founder Ecoton, Prigi Arisandi, menyebut gerakan ini sebagai contoh sederhana namun krusial dari bentuk restorasi ekologis berbasis warga.
“Kami ingin mendorong keluarga untuk ikut menanam, merawat, dan memonitor pohon, bukan hanya menjadi penerima informasi. Keluarga harus menjadi aktor utama penjaga bumi,” katanya, Selasa, 9 Desember 2025.
#Pohon Sukun sebagai Penjaga Ekosistem dan Solusi Pangan Lokal
Sukun dipilih bukan semata karena mudah ditanam, tetapi juga karena sejarah panjangnya sebagai tanaman yang tahan banting dan bermanfaat tinggi.
Sejak ratusan tahun lalu, sukun menjadi sumber karbohidrat utama di wilayah Pasifik dan Asia Tenggara. Tanaman ini mampu tumbuh tanpa banyak perawatan, menghasilkan buah melimpah, dan tidak memerlukan input kimia berlebih.
Menurut Prigi, penanaman sukun dapat menjadi langkah strategis menghadapi ancaman ketahanan pangan dalam jangka panjang.
“Sukun adalah pohon pangan masa depan. Kandungan karbohidratnya tinggi, bisa diolah menjadi berbagai makanan, dan tidak membutuhkan lahan luas. Jika setiap keluarga merawat satu pohon, dampaknya akan besar bagi ekosistem dan ekonomi rumah tangga,” ujarnya.
Selain itu, Ecoton melihat sukun sebagai pohon dengan kemampuan ekologis signifikan. Sistem perakarannya membantu menyerap air, meningkatkan kualitas tanah, memperbaiki mikroklimat, serta mendukung keanekaragaman hayati di ruang-ruang pemukiman.
PIC Program Ecoton, Thara Bening Sandrina, menjelaskan bahwa pemilihan sukun juga didasarkan pada kebutuhan akan pohon yang memiliki manfaat berlapis.
“Kami mencari tanaman yang bukan hanya hijau, tetapi relevan untuk masa depan. Sukun bisa dimasak, dijual, atau dibagikan. Dengan begitu siswa belajar bahwa menanam bukan hanya ritual seremonial, tetapi aktivitas berkelanjutan,” katanya.

#Melibatkan Pelajar, Membangun Kesadaran Sejak Dini
JAPRI Keluarga mengajak siswa SD hingga SMA untuk membawa pulang bibit sukun, menanamnya, merawatnya, dan melakukan pemantauan berkala.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Setiap siswa diberikan buku saku pemantauan pertumbuhan pohon, mulai dari pencatatan tinggi tanaman, kondisi daun, hingga kebutuhan air. Orang tua turut dilibatkan sebagai mitra dalam pendampingan.
Melalui pendekatan pendidikan ini, Ecoton berharap siswa memahami bahwa menjaga lingkungan adalah praktik sehari-hari, bukan mata pelajaran semata. Prigi menekankan pentingnya memberikan pengalaman langsung kepada anak.
“Kalau anak-anak diajak menanam, mereka memiliki hubungan emosional dengan pohonnya. Dari situ akan muncul kepedulian. Ini jauh lebih efektif daripada ceramah panjang tentang krisis iklim,” katanya.
Thara menambahkan bahwa pelibatan keluarga sangat penting karena anak tidak bisa melakukan perawatan pohon sendiri.
“Kami ingin sekolah dan rumah menjadi satu ekosistem pendidikan. Ketika anak menanam, orang tua ikut mengingatkan. Ketika orang tua merawat, anak ikut belajar. Itulah konsep JAPRI,” ujarnya.
Program ini juga menyediakan sesi edukasi tentang pentingnya tutupan pohon untuk menekan suhu ekstrem, mencegah banjir, dan menyediakan ruang teduh. Pelajaran tentang pangan lokal, sejarah botani sukun, serta cara pengolahan buahnya menjadi makanan sehat turut diberikan dalam modul belajar.

#Kolaborasi Industri dan Komunitas Lingkungan
Kerja sama antara Ecoton dan PT Petrokimia Gresik dipandang sebagai model kemitraan antara industri dan organisasi lingkungan yang menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai fokus utama.
Petrokimia Gresik menyediakan dukungan berupa bibit, logistik, serta fasilitas pendampingan edukasi bagi sekolah-sekolah yang terlibat.
Kegiatan penanaman ini sejalan dengan komitmen kedua lembaga untuk memperkuat kedaulatan pangan serta memperluas ruang hijau di kawasan perkotaan maupun perdesaan.
Ecoton menegaskan bahwa program JAPRI Keluarga tidak dirancang sebagai aktivitas seremonial semata, tetapi sebagai gerakan berkelanjutan yang disertai pemantauan berbasis data dan pendampingan langsung di lapangan.
“Kami sudah menyediakan pembelian 350 bibit pohon sukun, termasuk beberapa jenis lain seperti mangga, jambu darsono, jambu Jamaika, dan nangka,” kata Prigi.
Prigi Arisandi menambahkan bahwa kolaborasi ini diharapkan menjadi contoh bagaimana perusahaan dapat berkontribusi pada ketahanan ekosistem.
“Kami ingin perusahaan melihat bahwa investasi terbaik adalah investasi pada manusia dan lingkungan. JAPRI Keluarga menunjukkan bagaimana program kecil dapat membawa dampak ekologis yang besar,” tegasnya.