Kolaborasi Refilin dan MTs-MA Al Hikam Diwek Jombang memperingati HPSN 2026 melalui program tukar sampah menjadi sabun isi ulang, mencegah ribuan kemasan sachet mencemari lingkungan sekitar.
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di Jombang, Jawa Timur berlangsung berbeda. Di halaman MTs‑MA Al Hikam, Diwek, Jombang, para siswa membawa kantong berisi sampah rumah tangga.
Mereka bukan beraksi tetapi lebih pada rasa tanggungjawab terhadap lingkungan di rumah tinggal mereka. Sampah itu kemudian mereka tukar dengan sabun isi ulang. Tema program “Tukar Sampah dengan Refill Sabun” yang digagas Refilin.
Kegiatan yang diawali sambutan Hj. Ika Maftuhah Mustiqowati, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam, yang menaungi MTs – MA Al Hikam itu, mengingatkan peserta pada tragedi longsornya TPA Leuwigajah di Jawa Barat yang menewaskan ratusan orang pada 2005 lalu.
“Peristiwa itu menjadi pengingat, jika sampah bukan urusan kebersihan saja, tapi sudah menjadi persoalan kemanusiaan, “ucapnya.
Maka itu, tandas pendidik madrasah yang berulang-ulang memenangi Adwiyata ini, bencana sering berawal dari kebiasaan kecil yang diabaikan dan dipedulikan. “Sampah yang dibuang tanpa pengelolaan akhirnya menumpuk, mencemari lingkungan, dan berisiko menelan korban jiwa, “ ucapnya di depan ratusan siswa dan warga sekitar yang mengikuti kegiatan.
Suasana memantik perhatian para siswa sesaat, ketika mendengarkan kisah tersebut. Bagi sebagian peserta, tragedi Leuwigajah sebelumnya hanya dikenal sebagai catatan sejarah. Tapi dalam forum itu, kejadian Leuwigajah bentuk peringatan nyata tentang konsekuensi kelalaian manusia terhadap lingkungan.
Pihak sekolah menilai refleksi semacam ini penting agar gerakan lingkungan tidak berhenti pada seremoni tahunan. Kesadaran, kata para guru, harus tumbuh dari pemahaman bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.

#Membongkar Mitos Praktis Sachet dan Ancaman Mikroplastik
Setelah sesi refleksi, kegiatan berlanjut pada sosialisasi teknis mengenai bahaya kemasan sekali pakai. Acara ini disampaikan langsung Koordinator Refilin, Jofan Ahmad.
Di depan siwa, guru dan warga, Jogan memaparkan bagaimana budaya konsumsi sachet berkembang melalui narasi kepraktisan dan harga murah.
“Kemasan kecil justru menciptakan persoalan besar, “kata Jofan memulai bicara. “Sampah sulit didaur ulang, sachet sering berakhir dibakar atau dibuang ke sungai, “ ucapnya. Praktik itu memicu pencemaran udara dan memperburuk kualitas perairan, “.
Penjelasan menjadi semakin serius ketika Jofan menyinggung temuan mikroplastik di berbagai rantai makanan. Partikel plastik berukuran sangat kecil kini ditemukan di ikan konsumsi, air minum, hingga kemasan kertas berlapis plastik. Bahkan penelitian terbaru menunjukkan mikroplastik telah ditemukan dalam tubuh manusia.
Paparan itu memancing reaksi para siswa. Afifudin Wildan Hilmi, siswa kelas XI, mengaku terkejut mengetahui, paparan plastik tidak lagi sebatas persoalan lingkungan, tetapi sudah menyentuh kesehatan manusia.
“Sebenarnya di sini sudah pernah dilakukan penelitian mikroplastik. Dan kami sudah melakukan penyadaran, dari diri sendiri dan teman selingkungan. Persoalan yang terjadi, lingkungan kadang kurang mendukung, “ ungkapnya.
Diskusi berlangsung interaktif, seperti yang disampakan Hilmi. Beberapa siswa lainya pun mempertanyakan alternatif yang bisa dilakukan masyarakat dengan daya beli terbatas.
Mejawab pertanyaan para siswa, Jofan menekankan bahwa sistem isi ulang merupakan salah satu solusi realistis karena memungkinkan masyarakat membeli sesuai kebutuhan tanpa menghasilkan kemasan baru.
“Perubahan perilaku tidak harus dimulai dari kebijakan besar. Sekolah dan komunitas dapat menjadi ruang eksperimen sosial untuk membangun kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan, ‘ terang Jofan.

#Dari Tukar Sampah Menuju Ekonomi Sirkular
Pesan edukasi itu berlangsung dengan diwujudkan dalam aksi nyata. Hal itu terlihat dalam kegiatan yang berlangsung di pagi itu, program refill berhasil menyalurkan 28,4 liter sabun curah kepada peserta. Angka itu setara dengan pencegahan potensi timbulan 1.420 kemasan sachet ukuran 20 mililiter.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBagi penyelenggara, bukan menjadu ukuran capaian. Tapi lebih pada setiap kemasan yang tidak diproduksi berarti berkurangnya beban lingkungan di masa depan. Program ini juga menunjukkan pendekatan ekonomi yang dapat berjalan seiring dengan gerakan lingkungan.
Dampak itu dirasakan langsung oleh warga. Asmaul Khusna, salah satu nasabah bank sampah sekolah, mengatakan kegiatan tersebut memberinya alasan baru untuk memilah sampah di rumah. “Sebelumnya saya sering membakar sampah karena tidak tahu harus berbuat apa, “ ucapnya.
Kini, sampah yang dikumpulkan memiliki nilai tukar. Barang bekas itu dapat memperoleh kebutuhan rumah tangga tanpa harus membeli produk baru dalam kemasan plastik sekali pakai.
Guru MTs-MA Al Hikam, Miftakhur Rahmaniyah, melihat perubahan perilaku mulai muncul di kalangan siswa dan orang tua. Menurutnya, pendekatan praktis seperti ini lebih mudah diterima dibandingkan kampanye yang hanya bersifat imbauan. “Kolaborasi juga membuka ruang pemberdayaan siswa, “ucapnya di tengah saling berpendapat.
Saat tim Refilin bertemu Adinda, siswi kelas X yang memproduksi ecoenzyme dari limbah organik, percakapan berkembang menjadi diskusi tentang peluang usaha ramah lingkungan di lingkungan sekolah. Adinda mengaku mulai membuat ecoenzyme dari sisa kulit buah dan sayuran rumah tangga setelah mengikuti kegiatan bank sampah madrasah.
Awalnya, ia hanya ingin mengurangi limbah dapur, tetapi kemudian menyadari produk tersebut memiliki manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.
“Saya ingin menunjukkan bahwa limbah organik tidak harus dibuang. Kalau diolah dengan benar, justru bisa menjadi produk yang berguna dan bernilai,” ujar Adinda.
Melihat konsistensinya, tim Refilin membuka peluang kerja sama agar produk ecoenzyme buatan Adinda dapat dipasarkan lebih luas melalui jaringan refill. Adinda berharap dukungan tersebut dapat mendorong lebih banyak siswa mencoba inovasi serupa.
“Harapan saya sederhana, semoga teman-teman seusia saya berani mulai dari hal kecil. Kita bisa menjaga lingkungan sekaligus belajar mandiri,” katanya.
Produk tersebut rencananya akan didukung sebagai bagian dari jaringan distribusi refill, membuka peluang lahirnya wirausaha lingkungan dari kalangan pelajar.
Sementara itu Laila Nurotul Izzah dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang selama ini mengabdi sebagai Mahasiswa Asistensi Mengajar di MTs dan MA Al Hikam mengatakan, kegiatan refill detergen sangat bermanfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, selain harganya jauh lebih terjangkau bagi masyarakat, juga membantu mengurangi penumpukan sampah plastik dari kemasan sekali pakai. “Program seperti ini menjadi langkah kecil namun berdampak besar dalam membangun kebiasaan ramah lingkungan melalui sistem daur ulang yang praktis dan mudah dijangkau masyarakat,” ucapnya.
Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana sekolah, komunitas, dan inisiatif sosial dapat membentuk lingkaran ekonomi sirkular. Sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari konsumsi, melainkan awal dari proses baru yang memberi manfaat sosial, ekonomi, sekaligus ekologis.
Di tengah meningkatnya krisis sampah plastik nasional, langkah kecil dari lingkungan sekolah di Jombang itu menjadi contoh bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: membawa pulang wadah isi ulang dan mengurangi satu sachet setiap hari.***
*) Artikel ini ditulis oleh Manager Operasional Refilin, Jofany Ahamd dalam bentuk pers kelar, kemudian mengalami editing.