Lewati ke konten

Gowes Refilin Gen Z Tekan Sampah Sachet

| 3 menit baca |Advertisement | 11 dibaca

Mahasiswa Replast Gen Z UNEJ memilih sepeda dan sabun curah sebagai cara melawan sampah sachet, menyapa warga desa lewat pendekatan sederhana dan manusiawi.

Mengurangi sampah plastik tak selalu harus dimulai dari ruang diskusi berpendingin udara. Upaya itu juga bisa ditempuh dengan mengayuh sepeda menyusuri gang-gang perkampungan. Pemandangan inilah yang tampak ketika para mahasiswa perempuan yang tergabung dalam Replast Gen Z Universitas Jember, pada Jumat sore, 6 Februari 2026,

Mengayuh sepeda, membawa sabun isi ulang, dan menawarkan pilihan baru bagi lingkungan—aksi kecil mahasiswa Replast Gen Z menekan sampah sachet dari gang-gang desa. Foto: Replast Gen Z

Memilih jalanan desa di wilayah Kecamatan Wilayah Kecamatan Wringinanom, Gresik, sebagai ruang belajar sekaligus ruang aksi. Dengan sepeda pancal, mereka menjalankan program Refilin – refill sabun keliling – menyusuri permukiman warga di bawah langit mendung.

Program ini sederhana, mereka menawarkan sabun cair isi ulang tanpa kemasan plastik baru. Kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatan mereka. Sambil menawarkan barang dagangan menggunakan megaphone, mereka berkampanye.

Replast Gen Z menghadirkan solusi langsung bagi warga yang selama ini bergantung pada kemasan sachet sekali pakai.

Respons warga pun beragam, tetapi cenderung hangat. Lenny, salah satu warga yang ditemui di tengah perjalanan, mengaku tertarik meski belum sempat membeli.

Ketertarikannya tak berhenti di situ. Lenny bahkan berencana mendatangi kantor Toko Refil di Dusun Krajan Desa Wringinanom untuk membeli sabun curah di lain waktu.

Bagi tim Replast Gen Z, ketertarikan semacam ini menandai perubahan cara pandang, jika pengurangan sampah bisa dimulai dari pilihan sehari-hari.

Pendekatan dari rumah ke rumah membuat percakapan berlangsung tanpa jarak. Edukasi tak terasa menggurui. Sabun, botol kosong, dan sepeda menjadi medium dialog antara mahasiswa dan warga, tentang lingkungan yang sering kali terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Aksi lingkungan tak selalu bising. Kadang cukup dengan sepeda, botol kosong, dan kemauan untuk berkeliling. Foto: Replast Gen Z

#Dari Tawa Warga hingga Harapan Keberlanjutan

Di rumah lain, tim disambut Kartika, pelanggan setia Refilin dari Desa Sumberame. Sambil membawa botol kosong, ia menyambut mahasiswa dengan tawa lepas. Candanya tentang seringnya ia difoto oleh tim Refilin mencairkan suasana sore itu. Sebagai bentuk apresiasi, ia menerima potongan harga, bahwa car aitu merupakan isyarat kecil yang menegaskan, perubahan perilaku layak dihargai.

Bagi para mahasiswa, Refilin bukan sekadar agenda organisasi. Mahasiswa Perempuan dari Univesristas Negeri Jember, Indah Dwi Nur Aulia menyebut kegiatan ini sebagai pengalaman personal. “Mengayuh sepeda sambil menyapa warga memberi kepuasan yang tak  pernmah saya temukan. Ada rasa ikut terlibat langsung dalam upaya menekan sampah sachet yang selama ini menjadi masalah laten, “ ujarnya.

Hal serupa disampaikan Vika Anjani dari kampus yang sama. Menurutnya, Refilin perlu terus diperluas agar semakin banyak keluarga beralih ke sistem isi ulang. “Saya melihat ibu-ibu rumah tangga sebagai kunci perubahan, karena merekalah pengambil keputusan utama dalam belanja kebutuhan harian, “ jelasnya.

Program Refilin sendiri dijalankan rutin setiap Rabu dan Jumat. Dengan membawa sabun tanpa kemasan baru, program ini menghidupkan kembali budaya guna ulang yang perlahan ditinggalkan.

Di tengah polusi sampah plastik, langkah kecil ini menawarkan satu hal penting: harapan bahwa perubahan bisa dimulai dari gang-gang desa, dikayuh perlahan, dan dilakukan bersama.***

Fildza Sabrina Vansyachroni  merupakan pendiri komunitas replast_genz serta mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Penyuluhan, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Saat ini menjalani studi independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) dan berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *