Lewati ke konten

Hujan Mikroplastik Surabaya Ancaman Baru Kesehatan Warga dan Risiko Penurunan Fungsi Otak

| 5 menit baca |Mikroplastik | 25 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti


Hujan di Surabaya kini membawa ancaman tak kasatmata, mikroplastik yang masuk ke lingkungan, makanan, dan tubuh manusia. Studi Greenpeace Indonesia dan FKUI menunjukkan paparan plastik sekali pakai berpotensi menurunkan fungsi otak hingga 36 kali lipat. Warga kini menghadapi situasi darurat yang menuntut perubahan cepat dan menyeluruh.

#Mikroplastik Bukan Lagi Isu Lingkungan, tetapi Ancaman Serius bagi Kesehatan

Penggunaan plastik sekali pakai yang terus meningkat kini berubah menjadi ancaman kesehatan nyata. Mikroplastik tidak lagi hanya ditemukan sebagai polutan di sungai atau laut, tetapi juga telah terdeteksi dalam urin, darah, hingga feses manusia.

Hujan di Surabaya tak lagi sekadar air—tetapi membawa mikroplastik yang mengancam kesehatan warga. Studi Greenpeace Indonesia–FKUI mengungkap penurunan fungsi otak hingga 36 kali lipat akibat paparan plastik sekali pakai. Dengan temuan air hujan Surabaya tercemar hingga 356 partikel per liter, kota ini kini berada di garis depan darurat mikroplastik. Perubahan sistemik dan pengurangan plastik sekali pakai bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak untuk melindungi generasi kita. | Foto: Ecoton

Temuan ini berasal dari studi kolaborasi Greenpeace Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang berlangsung Januari 2023 hingga Desember 2024. Dari 67 partisipan, 95 persen terbukti mengandung mikroplastik dalam tubuh mereka. Jenis yang paling dominan adalah PET (Polyethylene Terephthalate). Polimer yang banyak digunakan dalam botol air minum dalam kemasan (AMDK) dengan total 204 partikel terdeteksi.

Ahli saraf FKUI, dr. Pukovisa Prawirohardjo, Sp.S(K), Ph.D., menjelaskan bahwa penelitian yang saat ini memasuki tahap peer review menemukan bahwa partisipan dengan konsumsi tinggi plastik sekali pakai memiliki risiko penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat. Penilaian fungsi kognitif dilakukan menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) oleh tim dokter Divisi Neurobehavior FKUI–RSCM.

“Dari hasil penelitian tersebut, kami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik. Gangguan ini memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujar Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia, dalam diskusi Invisible Threat of Microplastics bersama ECOTON dan SDGs Center Universitas Airlangga (UNAIR), Jumat, 28 November 2025.

Diskusi tersebut juga membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat aktif. Gabriella Amanda, SDGs Ambassador UNAIR Surabaya, menegaskan bahwa peningkatan kesadaran harus disertai langkah konkret. “Semangat generasi muda menjadi kunci untuk mendorong masyarakat luas memahami bahaya mikroplastik,” ujarnya.

Selain itu, para peneliti menekankan perlunya pemantauan jangka panjang terhadap akumulasi mikroplastik dalam tubuh manusia. Tanpa intervensi kebijakan yang kuat dan perubahan perilaku konsumsi, risiko gangguan kesehatan akibat paparan mikroplastik dikhawatirkan akan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Aktivis Greenpeace, ECOTON, serta mahasiswa Universitas Airlangga dan Universitas Negeri Surabaya membentangkan poster tuntutan pengendalian polusi mikroplastik dalam diskusi Invisible Threat of Microplastics, Jumat, 28 November 2025. Aksi ini menegaskan urgensi pemantauan mikroplastik, pembatasan plastik sekali pakai, dan penerapan kebijakan reuse di Surabaya. | Foto: ECOTON

#Air Hujan Surabaya Tercemar Parah: Tertinggi 356 Partikel Plastik per Liter

Temuan di lapangan memperkuat kekhawatiran tersebut. Penelitian Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), GrowGreen, River Warrior, dan ECOTON menemukan tingginya kontaminasi mikroplastik dalam air hujan di berbagai titik Surabaya. Pakis Gelora menjadi kawasan dengan tingkat pencemaran tertinggi, mencapai 356 partikel per liter, disusul Tanjung Perak dengan 209 partikel per liter.

Sebagian besar partikel yang ditemukan berasal dari gesekan ban kendaraan dan serpihan botol plastik sekali pakai, menandakan bahwa polusi mikroplastik bukan hanya akibat sampah, tetapi juga aktivitas harian kota yang padat dan penuh mobilitas.

Melalui kegiatan Citizen Science, pengunjung diskusi diajak melakukan eksperimen sederhana untuk melihat seberapa besar pencemaran mikroplastik di lingkungan mereka.

Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium ECOTON, menjelaskan bahwa peserta membawa sampel air hujan, air minum, makanan, hingga swab kulit untuk dianalisis menggunakan mikroskop.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Ini bukan hanya edukasi, tetapi cara untuk menunjukkan bahwa mikroplastik sudah masuk ke ruang paling pribadi dalam kehidupan kita,” katanya. “Ketika partikel sebesar ini bisa ditemukan di air hujan, itu berarti ia sudah bersirkulasi melalui udara, tersuspensi dalam atmosfer, dan berpotensi terhirup setiap hari. Ini sinyal kuat bahwa cemaran mikroplastik di kota-kota besar sudah berada pada level yang mengkhawatirkan,” tambah Rafika.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa Surabaya menghasilkan 660.947 ton sampah pada 2024, dan 22 persen di antaranya merupakan plastik—angka yang berada di atas rata-rata nasional. Fakta ini menunjukkan tekanan berat yang dihadapi ekosistem kota.

Aktivis Greenpeace, ECOTON, dan mahasiswa Surabaya menyerukan kebijakan tegas pengendalian mikroplastik—mulai dari larangan plastik sekali pakai, standar uji mikroplastik nasional, hingga percepatan sistem reuse–refill. Seruan ini disampaikan dalam diskusi Invisible Threat of Microplastics pada Jumat, 28 November 2025. | Foto: ECOTON

#Seruan Kebijakan: Larangan Plastik, Reuse, dan Pengawasan Mikroplastik

Melihat tingkat ancaman yang semakin besar, Greenpeace Indonesia mendesak pemerintah dan produsen untuk bergerak cepat mengambil langkah tegas. Juru Kampanye Zero Waste, Ibar F. Akbar, menegaskan bahwa perbaikan sistem pengelolaan sampah harus dimulai dari pemilahan di sumber, perluasan larangan plastik sekali pakai, hingga pelarangan mikroplastik primer dalam produk industri.

“Pemerintah harus menetapkan standar pengujian mikroplastik dan batas aman dalam produk pangan maupun lingkungan,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa produsen tidak boleh lagi lepas tangan dan harus mengambil peran yang lebih besar dalam mengendalikan sampah dari produk yang mereka hasilkan.

Menurut Ibar, industri perlu segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill), serta meningkatkan transparansi komposisi material plastik dalam produk mereka. Penyusunan peta jalan pengurangan sampah menjadi kewajiban yang tidak bisa lagi ditunda jika ingin menahan laju pencemaran.

 

Di tingkat global, konsumsi plastik yang terus meningkat memperburuk krisis. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 mencatat lonjakan produksi sampah plastik dunia lebih dari dua kali lipat—dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton—selama periode 2000 hingga 2019. Tren ini memperlihatkan betapa cepatnya plastik kembali masuk ke lingkungan, dan pada akhirnya ke tubuh manusia.

Surabaya menjadi contoh nyata bagaimana polusi plastik dapat bersirkulasi melalui udara, air hujan, makanan, dan minuman, hingga kembali terakumulasi di tubuh manusia.

Krisis mikroplastik bukan lagi isu lingkungan semata. Ini menyangkut kesehatan publik, kualitas hidup, dan masa depan generasi mendatang. Dalam situasi seperti ini, perubahan bukan hanya pilihan—tetapi kebutuhan yang mendesak dan tidak bisa ditunda.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *