Lewati ke konten

Hutan Dunia Melambat Hilangnya, Tapi Masih “Bocor” 10 Juta Hektare per Tahun: FAO Rilis FRA 2025 di Bali

| 4 menit baca |Ekologis | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

KABAR BAIK datang dari langit tropis Bali, setidaknya. Kalau kamu percaya pada statistik laporan terbaru FAO menyebutkan, dunia tampaknya mulai menahan diri untuk tidak menebang hutan secepat dulu.

Tapi tunggu dulu, sebelum kamu euforia menanam pohon, angka-angka di laporan ini masih bikin kening berkerut. Setidaknya 10,9 juta hektare hutan lenyap setiap tahun.
Iya, pelan, tapi tetap hilang.

FAO belum lama merilis Global Forest Resources Assessment (FRA) 2025 di ajang Global Forest Observations Initiative (GFOI) Plenary 2025 di Bali pada Selasa – Kamis, 21 – 23 Oktober 2025.

Laporan lima tahunan ini ibarat laporan kesehatan bumi versi kehutanan. Dan hasilnya, yah, bumi kita belum bisa dibilang sembuh, tapi setidaknya mulai berhenti demam tebang.

#Dari “Gundul” ke “Tumbuh Pelan”: Hutan Dunia Masih Bertahan, Tapi Pas-pasan

FAO mencatat luas hutan dunia kini sekitar 4,14 miliar hektare, atau sepertiga total daratan bumi. Dalam tiga dekade terakhir, laju deforestasi memang menurun:

  • 1990–2000: 17,6 juta ha hilang per tahun
  • 2000–2015: turun jadi 13,6 juta ha per tahun
  • 2015–2025: kini “hanya” 10,9 juta ha per tahun

“Sejak 1990, hutan global menurun 200 juta hektar,” kata Anssi Pekkarinen, Senior Forestry Officer FAO.

Masalahnya, angka itu masih setara hilangnya area sebesar Islandia tiap tahun. Jadi ya, “melambat” bukan berarti “selamat”.

#Reboisasi Juga Lesu: Menanamnya Sekarang Lebih Lambat dari Menebangnya

FAO menemukan bahwa upaya memperluas hutan juga mulai melambat. Kalau dulu (2000–2015) dunia bisa menambah 9,88 juta hektare per tahun, kini cuma 6,78 juta hektare per tahun yang berhasil “ditumbuhkan”.

Entah karena dana reboisasi habis, atau karena manusia mulai malas menanam, tapi intinya: regenerasi kalah cepat dari gergaji.

#Hutan Tak Cuma Ditebang, Tapi Juga Dibakar dan Digigit Serangga

Deforestasi bukan satu-satunya biang keladi. FAO menyoroti gangguan lain seperti kebakaran, hama, penyakit, dan tentu saja perubahan iklim.

Kombinasi ini bukan cuma bikin pohon tumbang, tapi juga mengguncang fungsi ekologis hutan, mulai dari penyerap karbon, rumah satwa liar, hingga “AC alami” planet ini. Kalau hutan terus “sakit”, kita semua akan kepanasan secara harfiah.

 

#Indonesia Masuk Liga Hutan Dunia

Dalam laporan FRA 2025, Indonesia disebut sebagai salah satu dari lima negara dengan area hutan primer terbesar di dunia, bersama Rusia, Brasil, Kanada, dan Republik Demokratik Kongo. Kelima negara ini menyumbang sekitar 75 persen hutan primer global, memberikan alasan kuat untuk tidak ikut-ikutan “membabat hutan demi konten pariwisata tropis”.

Data terbaru menunjukkan hutan masih menutupi sekitar 4,14 miliar hektar atau sekitar sepertiga dari total daratan dunia. Lebih dari separuh kawasan hutan kini telah terkelola dalam rencana pengelolaan jangka panjang, dan sekitar seperlima berada dalam kawasan lindung secara hukum.

Laju deforestasi menurun dari 17,6 juta hektar (1990–2000) menjadi 10,9 juta hektar per tahun (2015–2025). Masalahnya, di waktu yang sama, laju perluasan hutan baru juga menurun, dari 9,88 juta hektar per tahun (2000–2015) menjadi 6,78 juta hektar per tahun (2015–2025).

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Hutan primer mencakup setidaknya 1,18 miliar hektar, sekitar sepertiga dari luas hutan yang ada. Hutan tanaman mencakup sekitar 8% dari total luas hutan, setara 312 juta hektar, meningkat di semua wilayah sejak 1990, namun melambat secara global dalam dekade terakhir.

Untuk biomassa dan karbon, stok hutan dunia terus tumbuh, perkiraan mencapai 630 miliar meter kubik, dengan stok karbon meningkat hingga 714 gigaton. Sekitar 20% hutan (813 juta hektar) berada di kawasan lindung yang ditetapkan secara hukum, meningkat 251 juta hektar sejak 1990.

Kebakaran tetap menjadi ancaman utama, berdampak pada 261 juta hektar lahan setiap tahun, hampir setengahnya berupa hutan. Sementara itu, agroforestri sebagai tutupan hutan di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Secara global, peningkatan terbesar terjadi pada 1990–2000, terutama di Asia Selatan dan Tenggara, dengan Indonesia melaporkan luas agroforestri 22,0 juta hektar pada 1990 dan 25,7 juta hektar pada 2000.

Luas sawit bertambah lebih dari dua kali lipat antara 1990–2025, meningkat rata-rata 153.000 hektar per tahun, dengan Asia menyumbang lebih dari 80% dari peningkatan global.

Selain itu, menurut FRA 2020, Indonesia memiliki 21% dari total luas mangrove dunia, salah satu ekosistem penting untuk mitigasi iklim dan biodiversitas.

Pemantauan tahunan Kementerian Kehutanan pada Maret 2025 menunjukkan luas lahan berhutan di Indonesia pada 2024 mencapai 95,5 juta hektar, atau 51,1% dari daratan. Dari angka itu, sekitar 91,9% (87,8 juta hektar) berada di dalam kawasan hutan. Sementara menurut Global Forest Watch, dari 2002–2024, Indonesia kehilangan 10,7 juta hektar hutan primer basah, menyumbang 34% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama.

#FAO: Data Itu Penting, Tapi Harus Dipakai, Jangan Cuma Disimpan di Cloud

Direktur Divisi Kehutanan FAO, Zhimin Wu, menegaskan bahwa laporan FRA ini bukan hasil survei sepihak.

“Data dikumpulkan dari 200 koresponden nasional di 194 negara,” katanya dalam konferensi pers via Zoom di Jakarta.

Bagi negara yang belum mengirim data, FAO bahkan melakukan studi kasus di 42 wilayah lain.

Wu berharap hasilnya bisa benar-benar dipakai untuk bikin kebijakan yang lebih waras, bukan sekadar bahan presentasi di rapat kementerian.

Dunia memang mulai sadar bahwa menebang hutan bukan investasi yang baik, tapi pekerjaan rumahnya masih panjang.

Karena walau deforestasi melambat, 10 juta hektare hutan yang hilang tiap tahun bukan angka yang bisa dibilang “sukses”.

Kalau bumi ini ibarat pasien, ia memang sudah bisa bangun dari ranjang rumah sakit—tapi masih butuh infus dan perawatan intensif.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *