Ancaman mikroplastik yang kian meluas mendorong santri SMP NU Shafiyah Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timir, mendapat edukasi lingkungan melalui pendampingan program Jawa Timur Young Changemaker Academy (JAYCA) oleh ECOTON.
Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) memberikan sosialisasi mengenai bahaya mikroplastik kepada para santri SMP NU Shafiyah Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pendampingan program Jawa Timur Young Changemaker Academy (JAYCA) yang diinisiasi Ashoka, dengan tujuan meningkatkan kesadaran lingkungan sekaligus mendorong santri menjadi agen perubahan dalam pengurangan penggunaan plastik, khususnya di lingkungan pesantren.
Sosialisasi berlangsung di lingkungan sekolah dan diikuti para santri yang sebagian besar tinggal di pondok pesantren. ECOTON menilai pesantren sebagai ruang strategis untuk menanamkan kesadaran lingkungan karena tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter dan kebiasaan hidup sehari-hari.
#Mikroplastik Ancam Lingkungan dan Kesehatan Manusia
Manajer Advokasi ECOTON, Alaika Rahmatullah, menjelaskan bahwa mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yang kini telah mencemari hampir seluruh ekosistem. Partikel tersebut ditemukan di sungai, laut, udara, bahkan telah masuk ke dalam rantai makanan manusia.
“Mikroplastik saat ini bukan lagi ancaman yang jauh. Ia sudah ada di sekitar kita, di air yang kita minum, di ikan yang kita konsumsi, bahkan di udara yang kita hirup,” ujar Alaika saat menyampaikan materi kepada para santri.
Menurut Alaika, pencemaran mikroplastik terjadi akibat tingginya penggunaan plastik sekali pakai yang tidak dikelola dengan baik. Sampah plastik yang terbuang ke lingkungan akan terurai menjadi partikel kecil dan sulit dikendalikan dampaknya. Karena itu, perubahan perilaku menjadi kunci penting dalam menekan laju pencemaran.

Alaika menekankan bahwa santri memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. Dengan pengetahuan yang tepat, santri tidak hanya dapat mengubah perilaku pribadi, tetapi juga memengaruhi lingkungan sekitar, baik di pesantren, sekolah, maupun di rumah.
“Santri memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Mereka dapat menjadi pelopor pengurangan plastik dan menjaga lingkungan pesantren agar terbebas dari sampah plastik,” kata Alaika.
Ia menambahkan, melalui pendekatan edukasi dan pendampingan, ECOTON berharap santri mampu memahami persoalan lingkungan secara kritis dan mempraktikkan solusi sederhana, seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, serta memilah sampah dari sumbernya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
#Sekolah Canangkan Pesantren Zero Waste
Kepala SMP NU Shafiyah Rogojampi, Fuad Akbar Zamzamy, menyambut baik kehadiran ECOTON dan pelaksanaan sosialisasi mikroplastik di sekolah yang ia pimpin. Menurut Fuad, kegiatan ini sejalan dengan visi sekolah dan pesantren dalam membangun lingkungan yang bersih dan sehat.
“Ke depan, kami ingin lingkungan sekolah, terutama pesantren, menjadi pelopor sekolah zero waste di Kabupaten Banyuwangi. Langkah ini penting untuk menghindari ancaman dan bahaya mikroplastik bagi anak-anak serta lingkungan pondok,” ujar Fuad.
Fuad menilai, penerapan gaya hidup minim sampah tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai keagamaan yang diajarkan di pesantren. Ia berharap para santri tidak berhenti pada pemahaman, tetapi mampu mempraktikkan gaya hidup zero waste dalam keseharian.

“Kami ingin gerakan ini berkelanjutan. Santri diharapkan mempraktikkan gaya hidup zero waste, terutama dengan mengurangi penggunaan plastik, baik di lingkungan pesantren maupun di rumah, sebagai wujud kebersihan yang merupakan sebagian dari iman,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, SMP NU Shafiyah Rogojampi juga meluncurkan dua komunitas pelajar sebagai tindak lanjut dari kegiatan edukasi tersebut. Komunitas “Lentera Asa” dibentuk sebagai wadah kampanye pemenuhan hak anak di lingkungan pesantren dan sekolah. Sementara itu, komunitas “Stop-Less” difokuskan pada kampanye pengurangan penggunaan plastik dan pengelolaan sampah.
Pembentukan komunitas ini sejalan dengan rencana pengembangan tata kelola pesantren zero waste. Fokus diarahkan pada pengurangan sampah plastik, pengelolaan sampah berbasis sumber, serta penguatan peran santri sebagai penggerak perubahan lingkungan.
Melalui edukasi, pendampingan, dan pengorganisasian komunitas di tingkat sekolah, ECOTON berharap pesantren dapat menjadi contoh ruang pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi berpengetahuan, tetapi juga berkontribusi aktif dalam upaya mengurangi pencemaran plastik dan melindungi generasi masa depan.***