- Dari Kali Tebu hingga Ninivala, kelestarian sungai kini terancam oleh beragam ulah manusia.
- Sampah Kali Tebu dan ancaman tambang Ninivala cerminan nyata krisis ekosistem sungai kita.
- Mengungkap dua nasib sungai: Kali Tebu terjerat sampah, Ninivala dibayangi ancaman eksploitasi hulu.
- Potret kontras Kali Tebu Surabaya dan Ninivala Maluku dalam menghadapi kerusakan alam hilir-hulu.
- Kerusakan sungai bukan terjadi sendiri, melainkan cerminan nyata dari pilihan dan tindakan manusia.
Penulis: Stien Angelie Manuhutu merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON) selama periode 1 Juli-4 Agustus 2026.
Dua Sungai, Dua Kenyataan
PERJALANAN kuliah dari Masohi ke Malang membawa saya mengenal dua wajah sungai yang berbeda. Sebagai mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya yang sedang menjalani Studi Independen di ECOTON, saya berkesempatan melihat langsung kondisi Kali Tebu di Surabaya. Pengalaman itu seketika mengingatkan saya pada Kali Jodoh Ninivala di tanah kelahiran.
Pada 6 Juli 2026, pengamatan dilakukan di Kali Tebu. Trash barrier yang membentang di sungai dipenuhi botol plastik, bungkus makanan, styrofoam, popok sekali pakai, dan ranting kayu yang terbawa arus. Petugas tampak mengangkat tumpukan sampah menggunakan serokan, alat menyauk sampah.
Namun, tidak lama kemudian, kiriman sampah baru kembali memenuhi trash barrier. Siklus itu terus berulang sepanjang pengamatan, seolah aliran sampah tidak pernah benar-benar berhenti.
Data ECOTON selama Mei–Juni 2026, sedikitnya 27 ton sampah berhasil dievakuasi dari Kali Tebu. Sebanyak 11,5 ton diangkat Tim MOZAIK ECOTON pada 11–26 Mei 2026, sedangkan 16 ton lainnya dievakuasi melalui operasi gabungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Kecamatan Kenjeran, dan Tim MOZAIK pada 20–21 Juni 2026.
Besarnya timbulan sampah menunjukkan bahwa persoalan di Kali Tebu bersifat terus-menerus. Rata-rata sampah yang terkumpul mencapai 895,6 kilogram per hari, atau sekitar 89 karung. Pada periode tertentu, volumenya bahkan melonjak hingga 1,4–2 ton dalam waktu 24 jam.
Karakteristik sampah juga memperlihatkan sumber pencemarannya. Sekitar 80,1 persen merupakan sampah residu yang sulit didaur ulang, 16,8 persen berupa sampah organik, sedangkan sampah yang masih memiliki nilai daur ulang hanya sekitar 3 persen. Audit terhadap 2,4 ton sampah bahkan menunjukkan hampir 45 persen di antaranya merupakan popok sekali pakai, disusul plastik sekali pakai seperti sachet, botol minuman, dan styrofoam.
Data memperlihatkan bahwa trash barrier hanya menjadi penyaring terakhir di hilir. Selama sampah terus dibuang ke saluran drainase dan sungai, volume yang harus diangkat akan terus bertambah setiap hari.
Kondisi menunjukkan bahwa persoalan utama tidak terletak pada trash barrier. Alat hanya menghentikan sampah sebelum hanyut ke sungai yang lebih besar dan bermuara di laut. Sumber pencemaran yang sebenarnya tetap berasal dari sampah rumah tangga yang masuk melalui saluran air pemukiman.
#Sungai Jernih yang Mulai Dibayangi Ancaman
Berbeda dengan Kali Tebu, Kali Jodoh Ninivala di Desa Piliana, Kecamatan Tehoru, Maluku Tengah, masih mempertahankan kejernihan airnya. Telaga di kaki Gunung Binaiya itu terkenal dengan air berwarna biru kehijauan, suhunya yang dingin, serta mitos masyarakat bahwa mandi di sana dapat mempercepat datangnya jodoh.
Di balik cerita rakyat, Ninivala merupakan mata air karst yang keberlangsungannya bergantung pada kelestarian hutan adat sebagai kawasan resapan. Keberadaan tutupan pohon dan sistem sungai bawah tanah menjadi penopang utama debit air yang mengalir sepanjang tahun.
Namun belakangan ini, masyarakat mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap rencana pertambangan dan eksploitasi di kawasan hulu.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

Saya sendiri belum mengetahui kabar persis soal itu, ketika masih berada di Maluku. Informasi mengenai ancaman terhadap kawasan hulu Kali Jodoh Ninivala ini baru saya ketahui, saat magang di Ecoton. Saya temukan setelah menelusuri berbagai pemberitaan media daring dan dokumen yang membahas rencana pemanfaatan kawasan di Kecamatan Tehoru.
Dari penelusuran itu, saya menemukan bahwa wilayah yang melintasi Kecamatan Tehoru, termasuk kawasan di sekitar hulu daerah aliran sungai, menjadi sasaran rencana aktivitas tambang galian C dan penambangan material pasir.
Sejumlah pihak mengkhawatirkan kegiatan yang berpotensi memicu deforestasi itu. Sarat mengganggu kestabilan lereng, serta mengubah bentang alam di kaki Gunung Binaiya yang selama ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air bagi Kali Jodoh Ninivala.
Kekhawatiran itu muncul karena mata air Ninivala bergantung pada ekosistem hutan dan sistem karst di kawasan hulu. Perubahan tutupan lahan maupun aktivitas yang mengganggu struktur tanah dikhawatirkan dapat memengaruhi keberlangsungan debit dan kualitas air telaga tersebut.
Pembukaan hutan berpotensi mengurangi daerah resapan, mengganggu sistem hidrologi, hingga mengancam keberlangsungan mata air. Ancaman lain juga datang dari potensi penambangan ilegal yang berisiko mencemari air tanah jika menggunakan bahan berbahaya seperti merkuri.
#Sungai Tidak Pernah Rusak dengan Sendirinya
Kali Tebu memperlihatkan dampak nyata ketika pencemaran telah terjadi di hilir. Sementara itu, Ninivala mengingatkan, sungai yang masih jernih sekalipun dapat kehilangan fungsinya apabila kawasan hulunya tidak dilindungi.
Dua pengalaman ini menegaskan bahwa menjaga sungai tidak cukup dilakukan di hilir saja. Pengelolaan sampah rumah tangga, perlindungan hutan hulu, pengawasan ketat terhadap aktivitas eksploitasi, serta keterlibatan aktif masyarakat harus berjalan beriringan agar fungsi ekologis sungai tetap terjaga.
Saya menjadi ingat ungkapan Ketua Telapak Indonesia, Prigi Arisandi, belum lama ini mengatakan, “Ketika sungai kehilangan airnya yang jernih, yang sesungguhnya tercemar bukan hanya alam, melainkan juga nurani manusia.”
Pernyataan pembimbing magang saya di Ecoton ini, tentu menjadi pengingat dan kesadaran, bahwa kondisi sungai selalu mencerminkan pilihan tindakan manusia.
Ketika hutan dijaga dan sampah tidak dibuang ke aliran air, sungai akan tetap menjadi sumber kehidupan. Sebaliknya, ketika alam hanya diperlakukan sebagai ruang eksploitasi, yang hilang bukan hanya kejernihan air, melainkan juga rasa tanggung jawab manusia terhadap lingkungannya.***