- MIMO hadir di Sekolah Alam Ramadhani Kediri mengenalkan bahaya mikroplastik lewat lagu dan riset mandiri, memperkuat kesadaran lingkungan siswa sejak dini.
- Lewat lagu dan pengujian sampel lingkungan, MIMO ajak 45 siswa Sekolah Alam Ramadhani Kediri temukan mikroplastik sekaligus perkuat budaya zero waste.
- Pertama kali di Kediri, MIMO edukasi mikroplastik melalui media lagu dan praktikum langsung, dorong siswa Sekolah Alam kurangi sampah plastik sekali pakai.
- Temukan mikroplastik pada air, udara, dan daun, siswa Sekolah Alam Ramadhani Kediri diajak MIMO paham pentingnya pengurangan sampah dari sumbernya lewat lagu.
- Kolaborasi riset lapangan dan lagu dari MIMO sukses gugah kesadaran siswa Sekolah Alam Ramadhani Kediri untuk terapkan gaya hidup ramah lingkungan sehari-hari.

Penulis: Tasya Husna, merupakan pengelola publikasi ilmiah Environmental Pollution Journal (EPJ) dan bagian dari tim peneliti ECOTON. Fokus kajiannya mencakup perubahan iklim, kualitas air sungai, serta pencemaran mikroplastik.
MICROPLASTIC Mobile Laboratory (MIMO) menghadirkan inovasi baru dalam mengedukasi anak-anak mengenai bahaya pencemaran plastik. Bertempat di Sekolah Alam Ramadhani Kediri pada Sabtu (3/10/2026), MIMO untuk Kali pertama memanfaatkan lagu sebagai media pembelajaran. Tujuannya agar pesan pengelolaan lingkungan lebih mudah diingat dan dekat dengan dunia anak-anak.
Sebanyak 45 siswa kelas 2 hingga 6 SD tidak hanya diajak bernyanyi bersama, tetapi juga melakukan riset mandiri di lingkungan sekitar sekolah. Para siswa mengambil sampel dari tiga sumber, yaitu air di Sungai Kedak, udara, dan dedaunan. Sampel itu kemudian diamati langsung dengan menggunakan mikroskop.

Hasil pengujian laboratorium portabel MIMO menunjukkan seluruh sampel positif terkontaminasi mikroplastik:
- Air Sungai Kedak (5 Liter): Ditemukan 4 fiber, 3 fragmen, dan 2 film.
- Udara Ambient: Ditemukan 14 fiber dan 4 fragmen.
- Sampel Dedaunan (15 Jenis Daun): Ditemukan 12 fiber, 6 fragmen, dan 3 film.
Temuan ini menjadi bukti konkret bagi para siswa, bahwa ancaman partikel plastik mikro berada di sekitar mereka, termasuk pada udara yang dihirup dan air yang berada di lingkungan sekolah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPenguatan Budaya Zero Waste
Pendamping Sekolah Alam Ramadhani, Ulya, S.Pd.I., menyampaikan bahwa edukasi dari MIMO memperkuat budaya zero waste yang telah berjalan di sekolah. Kesadaran siswa, katanya, telah terbentuk hingga taraf saling mengingatkan antar-teman maupun kepada pengelola kantin agar tidak menggunakan wadah plastik sekali pakai.

“Selain itu, pemilahan sampah organik diarahkan langsung untuk pakan ternak sebagai bentuk reduksi sampah dari sumbernya, “ kata Ulya di sela kegiatan.
Masih kata Ulya, melalui kolaborasi riset dan media lagu, para siswa diajak untuk memahami bahwa pengelolaan sampah tidak cukup dengan hanya mengandalkan daur ulang, melainkan juga harus dimulai dari pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.
“Untuk memahami pengelolaan sampah bagi siswa, tidak cukup hanya mengandalkan daur ulang saja. Tetapi harus dimulai dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Tentunya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ulya.***