Kalimas mengalir membawa jejak sejarah Surabaya, dari jalur dagang kolonial hingga ruang publik hari ini, menyimpan perubahan, ingatan, dan harapan yang terus bergerak.
Air mengalir tenang di bawah bayang jembatan dan gedung-gedung yang berdiri rapat di kanan kiri. Permukaannya memantulkan langit yang kadang cerah, kadang muram, mengikuti ritme kota yang tak pernah benar-benar berhenti. Di sebuah sudut, perahu wisata melintas pelan, membawa penumpang yang memandang ke sekeliling dengan rasa ingin tahu yang samar, seolah sedang membaca cerita lama dari sebuah kota.
Kalimas telah lama menjadi bagian dari denyut Surabaya. Pada masa awal pertumbuhan kota, aliran ini menghubungkan pedalaman dengan pesisir utara Jawa. Perahu-perahu kecil mengangkut hasil bumi, bergerak mengikuti arus menuju pelabuhan. Jalur air menjadi urat nadi yang menghidupkan perdagangan sekaligus mobilitas manusia.
Memasuki era Hindia Belanda, peran sungai semakin menguat. Kalimas menjadi bagian dari sistem distribusi yang terhubung langsung dengan pelabuhan. Kapal-kapal dagang bersandar, sementara barang-barang dipindahkan ke perahu yang lebih kecil untuk dibawa ke pusat kota. Aktivitas berlangsung hampir tanpa jeda.
Kawasan Jembatan Merah mencatat kesibukan paling padat. Pedagang, pekerja, dan pengangkut barang saling berpapasan dalam ritme yang teratur. Sungai tidak hanya menjadi jalur logistik, melainkan juga ruang interaksi sosial. Kehidupan kota berpusat di tepian air, membentuk lanskap urban yang terus berkembang.
Arsip foto kolonial memperlihatkan kepadatan itu: perahu berjejer, manusia bergerak cepat, dan bangunan-bangunan yang menghadap langsung ke sungai. Kalimas pada masa tersebut berfungsi sebagai tulang punggung kota, tempat ekonomi tumbuh dan menyebar.

#Pergeseran dan Ingatan yang Tersisa
Perubahan mulai terasa ketika jalan raya berkembang pesat. Transportasi darat mengambil alih peran yang sebelumnya dipegang oleh sungai. Truk dan kendaraan bermotor menjadi pilihan utama untuk distribusi barang, menggantikan perahu-perahu yang perlahan berkurang.
Seiring pergeseran itu, aktivitas di Kalimas menyusut. Sungai yang dahulu ramai perlahan menjadi ruang yang terpinggirkan. Di beberapa titik, kualitas air menurun akibat limbah domestik dan sampah yang terbawa arus. Perkembangan kota yang cepat meninggalkan konsekuensi yang tidak kecil.
Bangunan baru berdiri, menutup sebagian pandangan ke arah sungai. Kehidupan urban bergerak menjauh dari air, beralih ke jalan-jalan utama yang lebih cepat dan efisien. Kalimas tetap mengalir, tetapi perannya sebagai pusat aktivitas memudar.
Meski begitu, jejak sejarah tidak benar-benar hilang. Nama-nama kawasan, struktur jembatan, dan pola permukiman di sekitarnya masih menyimpan ingatan kolektif tentang masa ketika sungai menjadi pusat kehidupan. Di beberapa sudut, bangunan tua berdiri berdampingan dengan gedung modern, menghadirkan kontras yang memperlihatkan perjalanan panjang kota.
Bagi warga yang tinggal di sekitar bantaran, perubahan itu terasa nyata. Budi, yang telah menetap bertahun-tahun di dekat Kalimas, mengingat masa ketika sungai masih dipenuhi aktivitas.
“Dulu lebih hidup. Banyak perahu, banyak orang bekerja di sini,” ujarnya.
Perubahan yang terjadi membuat suasana berbeda. Aktivitas ekonomi bergeser, dan kawasan yang dulu ramai sempat kehilangan daya tariknya. Sungai menjadi latar yang dilihat sekilas, bukan ruang yang dihidupi.

#Upaya Menghidupkan Kembali Arus Kota
Dalam beberapa tahun terakhir, wajah Kalimas mulai berubah. Pemerintah kota melakukan penataan bantaran, memperbaiki fasilitas, serta membuka akses bagi masyarakat untuk kembali mendekati sungai. Jalur pedestrian dibangun, ruang terbuka ditata, dan pencahayaan malam hari diperkuat.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Salah satu yang paling mencolok adalah hadirnya wisata perahu. Pengunjung dapat menyusuri Kalimas dengan rute tertentu, melihat Surabaya dari sudut pandang yang berbeda. Dari atas perahu, kota tampak berlapis: bangunan lama berdiri berdampingan dengan struktur modern, jembatan-jembatan melintang seperti penghubung waktu.
Pengalaman itu menghadirkan perspektif baru. Sungai tidak lagi dipandang sebagai bagian belakang kota, melainkan sebagai ruang yang bisa dinikmati. Aktivitas warga perlahan kembali, meski dalam bentuk yang berbeda dari masa lalu.
Budi melihat perubahan tersebut dengan optimisme yang hati-hati. Kawasan yang dulu sepi kini mulai ramai oleh pengunjung. Orang-orang datang untuk berjalan, berfoto, atau sekadar duduk menikmati suasana.
“Sekarang sudah beda. Orang datang, bukan cuma lewat,” katanya.
Meski demikian, persoalan belum sepenuhnya selesai. Sampah masih sesekali terlihat, terbawa arus dari hulu. Upaya menjaga kebersihan membutuhkan keterlibatan lebih luas, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitarnya.
Kalimas hari ini berada di antara dua keadaan: sebagai ruang publik yang kembali dihidupkan dan sebagai ekosistem yang masih menghadapi tekanan. Revitalisasi fisik menjadi langkah awal, tetapi keberlanjutan bergantung pada kesadaran kolektif.
Di tepian sungai, kehidupan berjalan dengan ritme yang berbeda dari masa lalu. Tidak lagi didominasi aktivitas perdagangan besar, tetapi diisi oleh interaksi yang lebih santai. Orang berjalan kaki, berbincang, atau menikmati perjalanan singkat di atas perahu.
Kalimas tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang Surabaya. Dari jalur dagang yang padat hingga ruang publik yang perlahan dihidupkan kembali, sungai ini menyimpan lapisan cerita yang terus bertambah. Air yang mengalir membawa ingatan tentang masa lalu sekaligus harapan untuk masa depan.
Di tengah kota yang terus bergerak, Kalimas menawarkan jeda—ruang untuk melihat kembali bagaimana Surabaya tumbuh, berubah, dan bertahan.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.