Lewati ke konten

Ketua Pemuda Tani Jatim Studi Banding ke Malaysia: Belajar Durian dari Negeri Musang King

| 3 menit baca |Ide | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Supriyadi

SUARABAYA – Biasanya kalau dengar kata “studi banding”, yang kebayang adalah rombongan bapak-bapak berbatik foto bareng di depan spanduk sambil senyum kaku. Tapi kali ini agak beda. Ketua DPD Pemuda Tani Jawa Timur, Ghufron Ahmad Yani alias Gus Yani, memilih Malaysia sebagai tujuan belajarnya—bukan untuk jalan-jalan, tapi buat ngintip rahasia sukses industri durian premium dunia.

Selama enam hari, Gus Yani menjelajahi berbagai lokasi durian ternama, dari The Kebun Tengkek Kuala Pilah sampai Fresco Green SDN BHD Raub Pahang, wilayah yang disebut-sebut sebagai tanah suci-nya Musang King.

“Durian ini buah dengan nilai ekonomi tinggi dan pasar yang terbuka lebar. Pemuda harus melihat ini sebagai prospek masa depan yang cerah,” ujarnya sambil mungkin menahan air liur di depan pohon Musang King yang buahnya seharga iPhone 15 Pro Max.

#Dari Hulu ke Hilir, dari Bau ke Duit

Nggak cuma keliling kebun, Gus Yani juga belajar soal ekosistem bisnis durian Malaysia—mulai dari cara menanam, mengolah, sampai strategi jualannya. Jadi bukan cuma paham kapan durian jatuh, tapi juga paham gimana biar uangnya nggak ikut jatuh.

Yang menarik, setiap pohon durian berusia enam tahun di sana bisa menghasilkan belasan hingga puluhan ribu ringgit. Kalau dikonversi ke rupiah, hasilnya bikin mata para agropreneur muda langsung berbinar.

“Durian premium seperti Musang King, Duri Hitam, Ochee, Tupai King, hingga Musang Queen punya perputaran uang luar biasa,” kata Gus Yani.

Bayangkan, satu pohon bisa nyekolahkan anak sampai kuliah. Sementara di sini, banyak petani masih mikir biaya pupuk naik aja udah pening.

#Indonesia, Negeri Seribu Durian yang Belum Sadar Diri

Menurut Gus Yani, potensi durian Indonesia sebenarnya luar biasa. Hampir semua jenis durian dunia bisa tumbuh subur di sini—mulai dari Musang King, Monthong, sampai Bawor. Tapi ya gitu, banyak yang belum dikelola secara modern.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Kita ini negeri dengan anugerah luar biasa. Semua jenis durian premium bisa tumbuh di Indonesia. Ini peluang emas bagi generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian modern,” tegasnya.

Artinya, jangan cuma bangga bilang “durian kampung lebih enak,” tapi mulai mikir gimana biar “durian kampung” itu bisa punya branding kayak “Musang King”. Karena di dunia modern, yang menang bukan cuma yang enak, tapi yang bisa ngemas enaknya dengan gaya.

#De King Durian Perkasa: Bukti Nyata Durian Bisa Bikin Sultan

Ngomongin durian nggak lengkap tanpa menyebut De King Durian Perkasa Lamongan, kebun durian milik H. Sholahuddin Perdana yang berhasil panen miliaran rupiah dalam sekali musim.

“Contoh sudah ada. Ini bukti bahwa pertanian bukan sektor kuno, tapi masa depan yang cerah kalau dijalankan dengan ilmu dan manajemen modern,” ujar Gus Yani, menutup kunjungan itu dengan optimisme dan mungkin sedikit aroma durian di bajunya.

Melalui perjalanan ini, Pemuda Tani Jawa Timur berkomitmen buat mendorong gerakan petani muda yang bukan cuma jago cangkul, tapi juga melek pasar global. Karena kalau Malaysia bisa bikin Musang King mendunia, bukan nggak mungkin Indonesia bakal punya versi sendiri: Bawor Empire atau Durian Nusantara Premium.

Dan kalau semua berjalan mulus, siapa tahu nanti ekspor kita bukan cuma batu bara, tapi juga durian yang wanginya bisa bikin dunia jatuh cinta (atau pusing).***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *