Dari panggung ludruk di Surabaya, Cak Durasim menjadikan parikan sebagai perlawanan, lalu mati di bawah represi Jepang.
Lampu kota Surabaya mulai menyala satu per satu, berpendar di antara deru knalpot dan kepulan asap sate di pinggiran jalan. Di tengah kota yang terus tumbuh dengan ritme kendaraan, deretan bangunan beton, serta lalu lintas yang nyaris tak pernah reda, sebuah ruang kebudayaan masih berdiri memikul ingatan lama.
Gedung itu Gedung Kesenian Cak Durasim. Berada di kawasan Genteng Muhammadiyah. Berdirinya menyimpan jejak pertunjukan rakyat, sekaligus riwayat seorang seniman yang menjadikan panggung sebagai ruang kritik sosial.
Nama Cak Durasim melekat kuat dalam sejarah ludruk Jawa Timur. Sosoknya dikenal luas sebagai pelaku seni rakyat yang mengubah lawakan, parikan, dan pertunjukan panggung menjadi medium penyadaran publik. Di masa kolonial hingga pendudukan Jepang, pilihan itu mengandung risiko besar: seni yang bersuara kritis bisa diperlakukan sebagai ancaman politik.
Di Surabaya, warisan Durasim bertahan bukan hanya lewat nama gedung, melainkan melalui narasi tentang keberanian. Kisahnya berkembang dari mulut ke mulut, dari pelataran kampung, kelompok ludruk, hingga komunitas teater yang masih membaca karyanya sebagai bentuk perlawanan budaya.
#Dari Hiburan Buruh ke Kritik Kekuasaan
Pada dekade 1930-an, ludruk masih banyak dipandang sebagai hiburan rakyat kelas bawah. Pertunjukan itu tumbuh di ruang-ruang sosial pekerja pelabuhan, buruh, dan masyarakat urban miskin yang mencari pelepas lelah selepas bekerja. Di tangan Cak Durasim, arah pertunjukan bergeser.
Sekitar 1933, ia mendirikan Ludruk Organization (LO), kelompok yang memberi wajah baru bagi kesenian rakyat Surabaya. Struktur pertunjukan mulai lebih tertata, satire sosial diperkuat, dan bahasa Suroboyoan dipakai sebagai alat komunikasi yang tajam, lugas, serta dekat dengan keseharian rakyat.

Ludruk lalu berkembang sebagai ruang ekspresi yang menyampaikan keresahan sosial. Ketika akses masyarakat terhadap informasi terbatas, pertunjukan menjadi kanal penyebaran kritik yang lebih mudah diterima. Tawa penonton hadir bersamaan dengan sindiran pada ketimpangan, kesewenang-wenangan, dan hidup rakyat yang tertekan.
Pada fase itu, seni pertunjukan tak hanya menghadirkan hiburan. Ia berfungsi sebagai ruang artikulasi politik rakyat yang nyaris tak punya saluran formal.
#Parikan yang Menjadi Ancaman Jepang
Situasi berubah drastis saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Surabaya masuk dalam pengawasan ketat militer Jepang. Sensor diperluas. Aktivitas kebudayaan diawasi. Informasi publik dibentuk melalui propaganda Asia Timur Raya.
Di tengah tekanan itu, Cak Durasim tetap memainkan satire. Puncaknya terjadi pada 1943, saat ia melontarkan parikan yang kemudian menjadi sangat dikenal di Jawa Timur:
“Pari pring mrico kecut, melok Nipong tambah mencut.”
Maknanya sederhana sekaligus keras: ikut Jepang justru menambah kesengsaraan. Dalam struktur budaya lisan, parikan itu menjadi bentuk kritik langsung terhadap penjajah.
Ucapan itu dianggap membahayakan. Aparat Jepang menilai pertunjukan ludruk telah bergerak dari hiburan menuju perlawanan politik. Durasim ditangkap. Ia dibawa untuk diperiksa dan dipenjara.
Dalam berbagai penuturan sejarah lokal, Cak Durasim wafat pada 1944 setelah mengalami tekanan keras dari aparat pendudukan Jepang. Riwayat kematiannya membentuk citra dirinya sebagai martir kebudayaan—seniman yang mempertahankan suara rakyat hingga akhir hidup.
Bagi Surabaya, kisah itu menyisakan dampak psikologis yang panjang. Dalam memori kolektif warga, Durasim menjadi lambang bahwa kritik bisa lahir dari panggung kayu, bukan hanya dari ruang politik formal.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

#Warisan Ludruk di Tengah Gempuran Digital
Puluhan tahun berlalu, tetapi nama Cak Durasim masih hidup di kawasan Genteng Muhammadiyah. Gedung kesenian yang memakai namanya berdiri sebagai penanda sejarah, sekaligus pengingat bahwa ludruk pernah memegang peran penting dalam membangun kesadaran sosial.
Gani, 51 tahun, warga yang tumbuh di sekitar kawasan itu, menyebut parikan Durasim dulu menyebar lewat percakapan kampung.
“Dulu orang cerita dari mulut ke mulut. Parikan itu cepat menyebar karena orang merasa hidupnya memang makin susah waktu Jepang datang,” kata Gani.
Menurut dia, spirit ludruk lama bertumpu pada keberanian bicara keras di depan publik. Ada unsur jenaka, tetapi isi kritiknya jelas.
Tantangan hari ini berbeda. Musuh kebudayaan tak lagi berupa tentara pendudukan atau sensor fisik. Ancamannya bergeser menjadi perubahan pola konsumsi hiburan. Generasi muda tumbuh bersama video singkat, media sosial, dan ritme perhatian yang cepat. Pertunjukan tradisional harus bersaing dengan budaya digital yang sangat padat.
Dimas, 23 tahun, pegiat teater independen di Surabaya, menilai warisan Cak Durasim masih relevan.
“Yang kami pelajari dari Cak Durasim itu keberpihakan. Seni bisa indah, tapi juga harus jujur pada keadaan sosial,” ujar Dimas.
Bagi kelompok teater muda, ludruk tak harus dipertahankan dalam bentuk yang sepenuhnya lama. Eksperimen panggung, adaptasi bahasa, hingga distribusi pertunjukan lewat platform digital mulai dibaca sebagai cara menjaga daya hidup kesenian rakyat.
Meski begitu, ada kegelisahan yang tetap terasa. Jika ruang seni berubah terlalu eksklusif, fungsi sosialnya bisa menyempit. Gedung kebudayaan dapat kehilangan relasi dengan masyarakat yang dulu menjadi basis utama ludruk.
Karena itu, pelestarian Cak Durasim tak berhenti pada nama jalan atau gedung. Yang lebih penting adalah menjaga semangat kritik, keterbukaan ruang budaya, dan keberanian menyuarakan persoalan rakyat.
Riwayat hidup Cak Durasim memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat bekerja sebagai alat perlawanan. Dari sebuah parikan pendek, seorang seniman menantang kekuasaan bersenjata. Dari panggung rakyat, kritik bisa menjalar menjadi kesadaran bersama.
Surabaya terus berubah. Kota tumbuh, jalan makin padat, dan suara modernitas makin nyaring. Tetapi dari Genteng Muhammadiyah, gema lama itu masih bertahan: bahwa seni dapat menjadi bahasa perlawanan saat kata-kata lain dibungkam.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.