Lewati ke konten

Peneleh dan Pertarungan Melawan Lupa Kota

| 5 menit baca |Rekreatif | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Kawasan bersejarah di Surabaya menghadapi tekanan modernisasi, sementara kampus dan komunitas mulai mencari cara menjaga ingatan kolektif.

Kampung Peneleh menyimpan sejarah panjang dalam tubuh Kota Surabaya. Di kawasan lama itu, rumah-rumah tua, gang sempit, serta jejak perkembangan kota masih bertahan di antara pertumbuhan bangunan modern yang terus mendesak ruang lama.

Di balik nilai historisnya, Peneleh kini menghadapi persoalan teramat pelik: perhatian publik menurun, fungsi bangunan berubah, dan ruang edukasi heritage belum cukup dekat dengan masyarakat.

Persoalan itu mengemuka dalam kegiatan International Joint Community Service yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), Surabaya bersama TiMe Amsterdam, Rabu (20/5/2026).

Forum akademik dan pengabdian masyarakat itu, membuka diskusi panjang tentang ancaman yang belakangan dihadapi kawasan heritage, bersamaan tumbuhnya kota yang kian semakin cepat.

Melihat hal ini, Ketua LPPM Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., CTA., mengingatkan, kampus perlu turun dan terlibat langsung dalam pelestarian kawasan bersejarah di Surabaya. Ia mengajak tim riset harus banyak berperan memberi jawaban atas persoalan yang terjadi di kampung sejarah, seperti Peneleh ini.

“Perguruan tinggi tidak bisa hanya sebagai penoton, harus berdiri  terlibat. Riset harus dilakukan agar masyarakat tahu sekaligus memberi jawaban atas persoalan sosial maupun budaya,” kata Slamet, yang dikutip TitikTerang, Jumat, (22/5/2026).

Menurut Slamet, pengabdian masyarakat menjadi jalur penting, agar ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai dokumen akademik belaka,  harus hadir sebagai praktik untuk menjawab kebutuhan  yang terjadi.

“Ketika bangunan tua kehilangan fungsi dan warga menjauh dari sejarahnya, kota perlahan kehilangan memorinya, ” ujar Slamet.

Sebagaimana diketahui, Kampung Peneleh punya cerita penting terhadah sejarah perkembangan Surabaya. Kawasan ini berkaitan erat dengan pertumbuhan permukiman lama dan dinamika sosial kota. Seiring usia bangunan yang menua serta perubahan tata ruang, sebagian ruang lama menghadapi ancaman degradasi dan hilangnya fungsi historis.

#Saat Warisan Kota Mulai Terdesak

Tekanan terhadap kawasan heritage sendiri, sering datang perlahan dan bahkan tak pernah dinyana. Banyak bangunan tua berubah fungsi, ruang sejarah kerap kehilangan perhatian khalayak, dan generasi muda makin jauh dari memori kotanya sendiri.

Tentang jal ini, perwakilan TiMe Amsterdam, Petra Timmer, melihat persoalan ini sebagai fenomena yang juga terjadi di banyak kota dunia ini.

“Banyak kawasan heritage, memang menghadapi pilihan sulit antara menjaga identitas sejarah dan beradaptasi dengan perkembangan urban. Kuncinya ada pada keterlibatan masyarakat sendiri,” ujar Petra Timmer.

Selama berada di Surabaya, sejarawan seni ini melakukan observasi di beberapa tempat di Peneleh. Dan juga mengajak  diskusi dengan mahasiswa dan dosen Untag Surabaya yang menyertainya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sepanjang pengamatannya di lokasi itu, kawasan Peneleh ia nilai sebagi tempat yang punya potensi besar untuk dikembangkan, sebagai ruang pembelajaran publik berbasis sejarah dan budaya.

Peneliti arsitektur kolonial ini juga menekankan, pelestarian heritage tidak hanya menyangkut bangunan fisik belaka. Tetapi harus juga membaca mulai dari nilai sosial, ingatan kolektif yang terjadi pada warga, juga sejauhmana relasi warga terhadap ruang sejarah. Karena hal ini ikut menentukan apakah kawasan lama tetap hidup.

International Joint Community Service yang digelar LPPM Untag Surabaya bersama TiMe Amsterdam, Belanda, menjadi ruang kolaborasi lintas negara untuk mengkaji potensi heritage Kampung Peneleh, Surabaya, Rabu (20/5/2026), sekaligus memperkuat peran kampus dalam pelestarian sejarah, budaya, dan edukasi publik. | Dok Untag Surabaya

“Kalau warga merasa memiliki, heritage bertahan sebagai ruang sosial. Jika hubungan itu putus, kawasan sejarah mudah kehilangan makna,” kata Petra.

Peneleh sendiri, telah memperlihatkan bagaimana modernisasi di Kota Surabaya dapat bergerak berdampingan dengan ancaman hilangnya identitas. Ketika pembangunan berjalan agresif, kawasan lama kerap dipandang sebagai ruang sisa, bukan bagian penting dari narasi kota.

#Kampus dan Warga Menjaga Memori

Diskusi di Untag Surabaya juga menegaskan, pelestarian heritage telah menyentuh banyak bidang. Persoalan ini tidak berhenti pada arsitektur semata, tetapi juga berkaitan dengan hukum, psikologi sosial, tata ruang, dan identitas masyarakat.

Forum yang melibatkan akademisi lintas disiplin itu, mulai dari Dr. Ir. R.A. Retno Hastijanti, M.T., Prof. Dr. Made Warka, S.H., M.H., Tigor Wilfritz Soaduon P., S.T., M.T., Ph.D., Dr. Ar. Andarita Rolalisasi, S.T., M.T., IPM., IAI., dan Dr. Niken Titi Pratitis, S.Psi., M.Si., Psikolog., serta Dr. Rachmawati Novaria, M.M.. Telah memperlihatkan, bagaimana dengan hilangnya kawasan sejarah dapat berdampak pada struktur sosial dan identitas warga. Begitu ruang lama menyusut, memori kolektif ikut tergerus.

Program Studi Arsitektur Untag Surabaya sendiri, telah meresmikan Berlage’s Corner di Perpustakaan Graha Wiyata. Ruang itu disiapkan sebagai pusat literasi sejarah arsitektur sekaligus ruang belajar publik untuk memperkuat kesadaran tentang warisan kota.

Dalam hal ini Slamet menyebut, langkah kecil seperti  ini penting untuk membangun kesadaran, sekaligus kedekatan masyarakat dengan sejarah.

“Pelestarian sejarah harus hidup melalui pengetahuan, diskusi, dan keterlibatan warga. Kampus punya tanggungjawab besar menjembatani proses itu semua,” ucap Slamet.

Peneleh, memang hari ini telah menjadi cermin pertarungan antara pembangunan dan ingatan. Kawasan itu kini masih berdiri sebagai simbol sejarah Surabaya, tetapi tekanan zaman bergerak pelan mengikis ruang hidupnya.

Jika perhatian publik terus menyusut, kota bisa kehilangan bagian penting dari memorinya bahkan sebelum generasi berikutnya memahami arti Peneleh dalam perjalanan sejarah Surabaya.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *