Lewati ke konten

Kolaborasi AKSA di Kota Batu Sukseskan Program RW Mandiri Sampah

| 6 menit baca |Ekologis | 24 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Kota Batu mulai membangun pengelolaan sampah dari sumber. Melalui AKSA, RW 09 Kelurahan Sisir diproyeksikan menjadi kawasan percontohan RW Mandiri Sampah dengan dominasi sampah organik.
  • Sebanyak 30 relawan bergotong royong memilah sampah di RW 09 Kelurahan Sisir, Kota Batu. Data AKSA menunjukkan sampah organik mendominasi hingga 76,73 persen dari total timbulan.
  • Sampah organik mendominasi timbulan di RW 09 Kelurahan Sisir. Melalui AKSA, pemerintah dan masyarakat memetakan karakteristik sampah sebagai pijakan membangun pengelolaan mandiri berbasis kawasan.
  • Dari rumah menuju RW, pengelolaan sampah Kota Batu mulai dibangun. AKSA menjadi pijakan untuk memilah, mengolah sampah organik, mendaur ulang anorganik, sekaligus menekan residu.
  • Kelurahan Sisir RW 09 diproyeksikan menjadi percontohan RW Mandiri Sampah. Kolaborasi DLH, warga, kader lingkungan, dan ECOTON mendorong pengelolaan sampah terdesentralisasi menuju Zero Waste Cities.

TENTANG sampah, Kota Batu terus berpacu. Kota yang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Jawa Timur itu, tidak hanya menghadapi persoalan timbulan sampah. Tetapi juga mulai membangun pola pengelolaan dari sumbernya.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di Kelurahan Sisir RW 09. Kawasan ini diproyeksikan menjadi percontohan RW Mandiri Sampah, sekaligus mendorong gerakan memilah sampah organik sejak dari rumah tangga.

AKSA menjadi cara untuk mengetahui secara lebih jelas jenis dan jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat. Data tersebut kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan pola pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik wilayah.

Pejabat Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Eni Maulidiyah, mengatakan kegiatan AKSA di Kelurahan Sisir merupakan pelaksanaan kedua di Kota Batu. Sebelumnya, kegiatan serupa dilakukan di Desa Oro-Oro Ombo.

“Ini pelaksanaan kedua di Kota Batu, setelah kami membangun pengelolaan sampah di Desa Oro-Oro Ombo. Kami terus akan melakukan di tingkat RW lain maupun dusun,” kata Eni dalam rilis yang diterima TitikTerang.co.id, Jumat (16/10/2026).

BACA JUGA:  Sungai Ampel Situbondo Tercemar, Nafas Desa Sletreng Perlahan Hilang

Kegiatan ini melibatkan 30 relawan dari berbagai unsur. Mereka terdiri dari DLH Kota Batu, kader lingkungan, perangkat RT/RW, Kelurahan Sisir, Tim Percepatan Penanganan Sampah Kota Batu, serta ECOTON.

Antusiasme relawan terlihat ketika mereka melakukan pemilahan sampah yang dikumpulkan dari lingkungan warga. Sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, tetapi mulai dilihat berdasarkan jenis dan potensi pengelolaannya.

Bagi Eni, kegiatan tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai aktivitas memilah dan mengelola sampah.

“Mestinya ini bukan sekadar aktivitas pengelolaan sampah semata. Tapi di balik semua itu akan menciptakan hasil yang lebih bagus. Lingkungan bersih dan asri tentunya menjadi harapan semua orang,” ucapnya.

Menurut Eni, kolaborasi berbagai pihak menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah di tingkat kawasan. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri karena pengelolaan sampah bersentuhan langsung dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari.

Pemetaan karakteristik sampah melalui AKSA, kata dia, diharapkan menghasilkan data yang dapat digunakan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Tonis Afrianto berdiskusi dengan warga dalam kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di Kelurahan Sisir RW 09, Kota Batu, membahas pemilahan dan pengelolaan sampah dari sumber. | Foto: Tonis Afrianto

“Harapan ini tentu saja bukan harapan angka semata, tetapi menjadi dasar menentukan pola pengelolaan sampah yang sesuai dengan kondisi wilayah,” ungkap Eni.

Ia juga berharap hasil AKSA dapat menjadi pijakan untuk menjadikan RW 09 Kelurahan Sisir sebagai lokasi percontohan RW Mandiri Sampah.

“Diharapkan Kelurahan Sisir RW 09 ini dapat menjadi lokasi RW Mandiri Sampah,” ujarnya.

“Harapan ini tentu saja bukan harapan angka semata, tetapi menjadi dasar menentukan pola pengelolaan sampah yang sesuai dengan kondisi wilayah.”

Sampah Organik Mendominasi

Sementara itu, Waste Prevention Manager ECOTON, Tonis Afrianto, mengatakan pemilahan sampah dari sumber merupakan salah satu kunci mengurangi beban sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir.

BACA JUGA:  Siswa MI Babussalam Krian Belajar Lingkungan Lewat Praktik di Ecoton

Salah satu pendekatan yang didorong ECOTON adalah penggunaan ORBIN (Organik Bin). Sarana tersebut dirancang untuk mempermudah keluarga memilah sampah organik sejak dari rumah.

“Kami punya ORBIN (Organik Bin) untuk mempermudah keluarga memilah sampah organik. Ini sejalan dengan data kami,” ujar Tonis.

Seorang relawan mencatat hasil pemilahan sampah dalam kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di Kelurahan Sisir RW 09, Kota Batu, sebagai bagian dari upaya membangun pengelolaan sampah berbasis kawasan. | Foto: Tonis Afrianto

Hasil AKSA selama dua hari menunjukkan bahwa sampah organik mendominasi timbulan sampah di wilayah RW 09. Dari keseluruhan sampah yang ditimbang, sampah organik mencapai 197,50 kilogram atau 76,73 persen.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan jenis sampah lainnya. Sampah anorganik tercatat 24,97 kilogram atau 9,70 persen, sedangkan sampah residu mencapai 21,09 kilogram atau 8,19 persen.

Untuk sampah residu khusus, seperti popok, pembalut, dan tisu, tercatat sebanyak 11,12 kilogram atau 4,32 persen. Sementara sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) mencapai 2,73 kilogram atau 1,06 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa sampah organik menjadi bagian terbesar dari sampah yang dihasilkan masyarakat. Kondisi ini sekaligus menunjukkan adanya peluang pengelolaan di tingkat rumah tangga maupun kawasan.

Alih-alih seluruh sampah dikumpulkan dan dibawa keluar kawasan, sampah organik dapat diolah sedekat mungkin dengan sumbernya. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah dan disalurkan kepada mitra daur ulang.

Sedangkan sampah residu menjadi bagian yang perlu ditekan agar jumlahnya semakin kecil.

Menuju Zero Waste Cities

AKSA di Kelurahan Sisir RW 09 dilaksanakan selama delapan hari, mulai 15 hingga 22 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu tahapan untuk mendorong konsep Zero Waste Cities.

Konsep tersebut menempatkan pengelolaan sampah secara lebih terdesentralisasi. Sampah tidak seluruhnya bergantung pada sistem pengangkutan menuju tempat pemrosesan akhir, melainkan sebisa mungkin diselesaikan dari sumbernya.

BACA JUGA:  Sinyal Bahaya Air Baku: Suara Kritis Pelajar Menagih Masa Depan Ekosistem Kali Surabaya!
Sampah organik dan anorganik dipisahkan dalam kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di Kelurahan Sisir RW 09, Kota Batu, untuk mengetahui komposisi dan potensi pengelolaannya. | Foto: Tonis Afrianto

Sampah organik diolah di kawasan. Sampah anorganik dipilah dan diserahkan kepada mitra daur ulang. Sementara sampah residu ditekan seminimal mungkin.

Pendekatan itu juga menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penghasil sampah, melainkan sebagai bagian dari solusi.

Pemilahan dari rumah menjadi langkah awal. Ketika sampah tidak tercampur, masing-masing jenis memiliki jalur pengelolaan yang lebih jelas. Sampah organik dapat diolah, material yang bernilai dapat didaur ulang, sedangkan residu dapat dikurangi.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, kader lingkungan, perangkat RT/RW, kelurahan, Tim Percepatan Penanganan Sampah Kota Batu, hingga organisasi masyarakat sipil seperti ECOTON menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Bagi Kota Batu, pengelolaan sampah berbasis kawasan menjadi tantangan sekaligus kebutuhan. Aktivitas masyarakat dan sektor ekonomi, termasuk UMKM dan kegiatan pariwisata, menghasilkan timbulan sampah yang membutuhkan sistem pengelolaan secara berkelanjutan.

Karena itu, keberhasilan RW 09 Kelurahan Sisir nantinya diharapkan dapat menjadi contoh yang bisa diterapkan di kawasan lain.

Dengan data karakteristik sampah sebagai dasar perencanaan, program RW Mandiri Sampah tidak berhenti pada kegiatan pengumpulan dan pengangkutan. Lebih jauh, program ini diarahkan untuk membangun sistem pengelolaan sampah sejak dari sumber, mengurangi sampah yang dibuang, memperkuat pemilahan, serta meningkatkan pengolahan sampah organik dan anorganik.

Pada akhirnya, AKSA bukan sekadar kegiatan menimbang sampah. Ia menjadi cara untuk membaca persoalan sampah secara lebih nyata.

Dari data itu, masyarakat dan pemerintah dapat melihat jenis sampah apa yang paling banyak dihasilkan, bagaimana sampah tersebut dikelola, dan langkah apa yang perlu dilakukan berikutnya.

Dari rumah, bergerak ke tingkat RT, kemudian RW. Dari pemilahan sederhana, tumbuh menjadi sistem pengelolaan kawasan.

Dari sanalah cita-cita Zero Waste Cities di Kota Batu perlahan dibangun.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *