Sebanyak 90 persen siswa memahami bahaya mikroplastik, namun praktik plastik sekali pakai masih dominan di sekolah. SMAN 1 Driyorejo mencoba memutus paradoks melalui perubahan sistem.
Pengetahuan lingkungan generasi muda Indonesia ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kebiasaan sehari-hari. Riset terbaru organisasi lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) menemukan 90 persen anak telah memahami bahaya mikroplastik terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Bahkan 82 persen di antaranya mengaku siap mengubah perilaku.
Realitas ini tampaknya menunjukkan hal berbeda saat di sekolah. Plastik sekali pakai masih mendominasi aktivitas harian siswa, terutama melalui kantin sekolah dan kemasan makanan-minuman. Tentu saja, kondisi ini menciptakan kondisi paradoks yang terjadi, – siswa sadar risiko, tetapi tidak memiliki pilihan lain.
Founder ECOTON, Prigi Arisandi, mengatakan hambatan utama bukan terletak pada kurangnya edukasi, melainkan sistem yang belum berubah. “Anak-anak sebenarnya sudah paham. Tapi sekolah belum menyediakan alternatif. Akibatnya mereka tetap mengonsumsi plastik setiap hari,” ujarnya, Senin, 2 Maret 2026.
Menurut Prigi, mikroplastik kini menjadi ancaman nyata karena partikel plastik berukuran sangat kecil itu dapat masuk ke tubuh melalui makanan, air, maupun udara. “Karena itu seharusnya sekolah harus menjadi ruang paling strategis untuk memutus rantai polusi sejak dini, sebelum dampaknya meluas pada generasi muda,“ ucap Prigi.

#Mengubah Sekolah Menjadi Ekosistem Lingkungan
Merespons temuannya, SMA Negeri 1 Driyorejo, Gresik, Jawa Timur, meluncurkan Program Sekolah Peduli Lingkungan. Program yang bertemakan “Pengurangan Plastik Sekali Pakai dan Edukasi Bahaya Mikroplastik.” Target utamanya melakukan perubahan perilaku sekaligus kebijakan internal sekolah.
Kepala sekolah, Alif Hanifah menegaskan, pendidikan karakter lingkungan harus dilakukan secara konkret dan hadir dalam praktik nyata.
“Bagi kami sekolah harus menjadi ekosistem perubahan. Siswa tidak cukup hanya belajar teori duduk di kelas, tetapi perlu mengalami langsung, terutama bagaimana hidup tanpa plastik sekali pakai,” katanya.
Alif juga mengungkapkan, langkah awal yang akan dilakukan yaitu melalui pembenahan kantin, terutama pembatasan kemasan sekali pakai. “Tentu saja kami juga perlu melakukan ajakan (aturan) penggunaan botol dan wadah makan guna ulang. Hal ini sekolah juga menyiapkan aturan bertahap menuju penghapusan kantong plastik sepenuhnya, “ jelasnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPerubahan budaya membutuhkan konsistensi, lanjut Alif. Karena itu, evaluasi rutin akan dilakukan agar kebijakan tidak berhenti sebagai seremonial semata. Target besarnya adalah membangun kebiasaan baru yang bertahan bahkan setelah siswa lulus.

#Riset Siswa dan Advokasi Berbasis Teknologi
Program tidak hanya berfokus pada larangan penggunaan plastik. Pelibatan siswa dalam penelitian mikroplastik di lingkungan sekitar sekolah sangat penting. Hal ini sebagai bagian dari pembelajaran ilmiah.
Mereka akan mengamati potensi pencemaran melalui sampel air dan debu, lalu mendiskusikan temuan dalam forum sekolah.
Pendekatan lain yang dianggap inovatif yaitupemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam kampanye lingkungan. Siswa akan dilatih membuat konten edukasi berbasis data untuk disebarkan melalui media sosial.
Prigi menilai strategi ini sangat penting karena perubahan perilaku generasi muda sangat dipengaruhi ruang digital. “Advokasi hari ini tidak cukup lewat poster fisik. Anak-anak harus menjadi komunikator isu lingkungan di dunia digital,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, sekolah berencana mendeklarasikan diri sebagai “Zero Plastic School” setelah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H mendatang atau pada bulan April 2026. Peluncuran nanti diharapkan menjadi contoh bagi sekolah lain di sekitaran Driyorejo, Gresik.
Gerakan di Driyorejo menunjukkan jika persoalan plastik bukan semata soal kesadaran individu, tapi bagaimana sebuah institusi membangun keberanian dalam mengubah sistem. Ketika sekolah menyediakan pilihan ramah lingkungan, kesadaran siswa memiliki peluang nyata menjadi tindakan.***