Sebanyak 50 rumah tangga di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, mengikuti analisis komposisi sampah delapan hari. Data dikumpulkan untuk menyusun sistem pengelolaan berbasis sumber.

Kantong-kantong sampah berjajar rapi di RW 05 Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, Jawa Timur, pagi itu, Kamis, (12/2/2026). Sampah tidak lagi tercampur dalam satu karung besar seperti lazimnya. Warga memisahkan sisa makanan, botol plastik, kertas, hingga residu yang tak bisa didaur ulang. Selama delapan hari berturut-turut, 50 rumah tangga menyerahkan sampah harian mereka dalam kondisi terpilah.
Langkah ini bagian dari program Zero Waste Cities yang digerakkan TPS3R Jalibar Berseri bersama Pemerintah Desa Oro-Oro Ombo, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, dan organisasi lingkungan ECOTON. Program tersebut menitikberatkan pengelolaan sampah dari sumbernya—rumah tangga.
Koordinator program, Titik Setyowati, menyebut tahapan awal ini sebagai Analisis Komposisi Sampah (AKSA). “Kami ingin tahu komposisi timbulan sampah di tingkat RW. Lima puluh rumah tangga menjadi relawan. Mereka memilah sampah menjadi tiga kategori: organik, daur ulang, dan residu. Lalu kami timbang per jenis,” ujarnya.
Tak berhenti di tiga kategori, tim kemudian memilah ulang hingga 40 jenis sampah. Dari plastik kemasan multilapis, botol PET, kardus, hingga sisa dapur. Detail itu penting. Tanpa data komposisi, kebijakan sering kali hanya berujung pada pemindahan masalah – dari rumah ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Titik, yang juga alumnus Zero Waste Academy 2026, mengatakan AKSA bukan sekadar soal pendataan sampah. Kegiatan ini menjadi ruang belajar. Warga dilatih memilah dengan benar melalui pendekatan Door to Door Education (DTDE). “Kalau sampah sudah terpilah dari sumber, proses di TPS3R jauh lebih mudah. Edukasi harus dilakukan terus-menerus,” katanya.
Di antara para relawan, Supriaten, 52 tahun, mengaku tak keberatan memilah sampah setiap hari. “Sebenarnya tidak sulit. Hanya perlu konsisten dan sering diingatkan. Botol-botol kadang saya donasikan,” ujarnya. Kebiasaan kecil itu, bila dilakukan kolektif, bisa mengurangi beban TPA secara signifikan.
#Data Jadi Dasar Kebijakan Kota

Project Manager Zero Waste Cities ECOTON, Tonis Afrianto, menilai banyak sistem pengelolaan sampah dibangun tanpa fondasi data. “Tidak boleh ngawur. Kita harus tahu jenis sampah yang mendominasi. Kalau organik paling banyak, berarti sistemnya harus fokus ke pengolahan organik,” katanya.
Menurut dia, pengelolaan organik bisa dilakukan di tingkat lokal, rumah kompos, komposter komunal di RT/RW, hingga instalasi biogas. Dengan begitu, sampah tak perlu seluruhnya diangkut ke TPA. Prinsipnya sederhana, tangani sedekat mungkin dengan sumbernya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Pendekatan ini selaras dengan kebijakan DLH Kota Batu. Eni Maulidiyah, fungsional bidang persampahan DLH, menyebut sepanjang 2025 pemerintah kota telah membangun 16 Rumah Kompos (RuKom). Fasilitas tersebut disiapkan untuk menekan timbulan sampah organik skala kota.
“Kami menghimbau masyarakat selalu memilah dari sumber. Kalau organik sudah terpisah, pengolahannya jauh lebih mudah,” kata Eni. Ia menambahkan, pengangkutan dari rumah tangga pun dilakukan secara terpilah menggunakan kendaraan roda tiga, agar sampah tidak kembali tercampur di perjalanan.
Selama delapan, 11 – 18 Februari 2026, AKSA berlangsung, data timbulan dan komposisi akan dihimpun sebagai dasar penyusunan rencana induk pengelolaan sampah.
Bagi penggerak program, angka-angka itu lebih dari sekadar statistic belaka. Angka-angka itu akan menjadi pijakan untuk merancang infrastruktur, menentukan prioritas investasi, sekaligus mengukur efektivitas edukasi warga.
Di kota wisata seperti Batu, persoalan sampah tak hanya menyangkut kebersihan lingkungan, tetapi juga citra kota, yang selama ini mengklaim sebagai kota dengan pengelolaan terbaik. Pertumbuhan penduduk dan kunjungan wisata memperbesar tekanan terhadap sistem persampahan. Tanpa perubahan pola dari hulu, TPA akan terus menjadi muara persoalan.
Program di Oro-Oro Ombo menunjukkan satu hal, transformasi sistem dimulai dari dapur rumah tangga. Dari sisa sayur yang dipisahkan, botol yang tak lagi tercampur, hingga residu yang disadari sebagai tanggung jawab bersama. Jika konsisten, kebiasaan memilah bisa menjadi budaya.
Pertanyaannya tinggal satu, mampukah praktik di satu RW ini direplikasi ke seluruh Kota Batu, sehingga melampaui proyek percontohan?***