Lewati ke konten

Longsor Memerah Luka Sumatra Utara, Ketamakan Manusia Mengoyak Hutan Hingga Nyawa Melayang

| 3 menit baca |Opini | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti


Di tengah gelap malam, tanah bergemuruh, air bah mengamuk, dan rumah-rumah tumbang sekejap. Ribuan warga Sumatra Utara terhempas dari hidup normal menuju kepiluan. Bencana akhir November 2025 ini bukan sekadar murka alam—melainkan cermin telanjang dari kerakusan manusia yang menjarah hutan tanpa hati.

#Hutan Gundul, Bencana Meluncur Tanpa Rem

LONGSOR dan banjir bandang yang menelan puluhan nyawa di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, hingga berbagai titik lain di Sumatra Utara seolah menyentak kita dari tidur panjang. Namun, sungguh ironis, ini bukan kejadian tiba-tiba. Sejak bertahun-tahun lalu, peringatan tentang deforestasi sudah berserakan seperti daun gugur.

Aktivis WALHI Sumut berkali-kali menegaskan bahwa kerusakan hulu, terutama di Batang Toru, adalah bom waktu.

Pohon-pohon raksasa yang dulu tegak menjaga tanah kini tak lebih dari ingatan samar. Lahan tambang, perkebunan, hingga pembukaan hutan sembarangan menjadikan lereng rapuh seperti kertas tisu.

Ketika Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B membawa hujan ekstrem, tanah yang kehilangan penahan langsung menyerah, menggelundung bersama rumah dan mimpi warga. Alam memang marah, tapi manusialah yang menajamkan amukannya.

#Tambang, Sawit, dan Jejak Keserakahan yang Membanjiri Sungai

Nama-nama korporasi besar kembali mencuat, PT Toba Pulp Lestari, tujuh perusahaan besar lain, dituding sebagai penjagal ekosistem. Di Tapanuli Raya, penebangan untuk pulp dan kertas meninggalkan luka lebar di hutan. Tambang emas ilegal juga menggali bumi seperti tak kenal batas.

Akibatnya, banjir bandang bukan hanya membawa air dan lumpur, tapi juga racun, limbah tambang yang mencemari sungai. Anak-anak di pengungsian mengalami penyakit kulit, batuk, diare, dan trauma yang tak terukur.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Siti, ibu muda dari Mandailing Natal, mengisahkan bagaimana rumahnya “hilang seperti disedot bumi”, sementara anak-anaknya menangis ketakutan.

Di sisi lain, puluhan desa terisolasi. Jalan-jalan terputus, ladang kopi-karet rusak, dan ribuan warga mengungsi tanpa kepastian. Ini bukan bencana alam biasa; ini adalah tragedi ekologis yang ditulis dengan tinta kerakusan.

Saatnya Menghentikan Pembantaian Hutan dan Menagih Pertanggungjawaban

Warga sudah cukup lama menjerit. Kini giliran pemerintah bergerak. Audit menyeluruh terhadap perusahaan perusak ekologis harus dilakukan segera. Izin yang merusak dicabut, penambang ilegal diburu, dan hutan harus dipulihkan tanpa kompromi.
Masyarakat pun tak bisa hanya mengumpat. Gerakan lingkungan perlu diperkuat, produk perusahaan perusak patut diboikot, dan kampanye restorasi hutan harus digelorakan dari kampung hingga kota.

Sumatra Utara bukan halaman belakang korporasi—ini rumah jutaan manusia. Jika kita membiarkan bencana semacam ini berulang, maka kita sedang memahat masa depan yang gelap bagi generasi berikut.

Dalam duka, selalu ada pintu harapan. Relawan berdatangan, komunitas lokal berjuang bangkit. Namun tanpa perubahan radikal, alam akan terus menagih. Kita tak bisa lagi bersembunyi di balik dalih bencana alam.

Ingat satu hal, alam selalu mencatat, dan ia tak mengenal kata maaf bagi para pengkhianatnya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *