Lewati ke konten

Mahasiswa UB Susuri Kali Surabaya, Pelajari Tanda Awal Kualitas Air Sungai

| 5 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fathimah Maitsaa’ Maulida Editor: Supriyadi
  • Tiga mahasiswa studi independen di ECOTON dari Universitas Brawijaya melakukan pengamatan langsung Kali Surabaya untuk memahami kondisi sungai.
  • Monitoring di lokasi menunjukkan bahwa perubahan warna, aroma, suhu, hingga keberadaan sampah dapat menjadi indikator awal kondisi kualitas air.
  • Warga Desa Sumengko, Wringinanom, Gresik, mengungkapkan kualitas lingkungan sungai mengalami penurunan akibat alih fungsi bantaran menjadi kawasan permukiman dan usaha.
  • Mahasiswa menemukan perbedaan karakteristik air di sejumlah titik sungai dan saluran pembuangan yang diamati selama kegiatan berlangsung.

Memahami kondisi sungai tidak selalu harus dimulai dari laboratorium. Pengamatan langsung di di lokasi menjadi salah satu langkah awal untuk mengenali kualitas lingkungan perairan dan berbagai faktor yang memengaruhinya.

Sebanyak tiga mahasiswa magang ECOTON dari Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya melakukan monitoring di Desa Sumengko dan Kawasan Kali Surabaya, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, pada 25 Juni 2026.

Sungai itu merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, memilki panjang 42 kilometer, mengalir dari DAM Mlirip, Mojokerto hingga DAM Jagir Wonokromo, Surabaya.

Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan metode pengamatan kondisi sungai secara langsung kepada mahasiswa.

Kegiatan diawali dengan wawancara bersama Nur Hamidah, Koordinator Wanita Peduli Lingkungan (WADULING) Desa Sumengko, Wringinanom, Gresik. Dalam keterangannya, ia menjelaskan, kualitas lingkungan sungai di wilayah sungai mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

“Bantaran sungai yang sebelumnya ditumbuhi vegetasi ini, kini banyak beralih fungsi. Kebanyakan menjadi kawasan permukiman. Ada juga yang menjadi tempat usaha. Kondisi ini,  turut juga memengaruhi keberlangsungan ruang hijau di sekitar sungai, “ kata Hamidah, saat ditemui pada, Kamis, 25 Juni 2026.

#Menurunnya Kondisi Bantaran Sungai

Selanjutnya Nur Hamidah juga mengatakan, berbagai kegiatan penanaman pohon yang pernah dilakukan sering tidak berlanjut. Menurut Hamidah, karena minimnya perawatan setelah program selesai. Akibatnya, banyak tanaman yang tidak mampu bertahan hingga tumbuh optimal.

“Sering ada mahasiswa KKN di sini memang. Atau ada juga relawan yang melakukan penanaman, tetapi setelah itu tidak ada yang merawat, sehingga membuat tanaman sulit bertahan,” ujarnya.

Selain kurangnya pemeliharaan, alih fungsi lahan untuk aktivitas industri dan usaha di sekitar bantaran sungai. Hal ini juga menjadi tantangan dalam menjaga keberadaan vegetasi. Padahal, tutupan vegetasi berperan penting dalam menjaga stabilitas ekosistem sungai.

“Kalau melihat kenyataan itu, menurut kami, penanaman saja tidak cukup. Tanaman perlu dirawat agar bisa bertahan, apalagi kondisi bantaran sungai sekarang semakin banhyak dipenuhi sampah dan limbah ktivitas usaha. Tentu sangat berdampah,” ujar Hamidah.

#Pengamatan Parameter Air Sungai

Selama kegiatan monitoring berlangsung, mahasiswa mengamati sejumlah parameter yang dapat dilihat secara langsung. Warna air, tingkat kejernihan, aroma, suhu relatif, keberadaan busa, lapisan minyak, material organik, hingga sampah yang terbawa arus menjadi bagian dari pengamatan lapangan.

Hasil pengamatan menunjukkan setiap titik sungai memiliki karakteristik berbeda. Beberapa lokasi terlihat lebih keruh, sementara lokasi lain mengandung material organik dalam jumlah lebih banyak atau memiliki aroma yang berbeda.

Pengalaman ini memberikan pemahaman, jika sungai merupakan ekosistem yang dinamis. Kondisinya terus dipengaruhi oleh aktivitas manusia maupun proses alami yang berlangsung di sepanjang aliran sungai.

“”Saat berada langsung di lokasi ini, saya bisa melihat bahwa setiap bagian sungai memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang airnya lebih keruh, ada yang membawa banyak material organik, dan ada pula yang memiliki aroma berbeda, “ ucap Aprilianti Nafiah, mahasiswa dari Agroecoteknologi Universitas Brawijaya.

“Dari situ kemudian saya memahami kalau kondisi sungai sangat dipengaruhi oleh aktivitas yang terjadi di sekitarnya,” tambah April, biasa disapa.

Mahasiswa lain juga mengaku, mendapatkan perspektif baru mengenai cara memahami kualitas sungai. Sebelum mengikuti kegiatan ini, mereka menganggap kondisi sungai hanya dapat diketahui melalui hasil analisis laboratorium.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“”Kegiatan ini tentunya mengubah cara pandang saya terhadap sungai. Data laboratorium tetap penting. Tetapi pengamatan secara langsung di lokasi sungai, akan membantu kita memahami kondisinya lebih utuh. Karena banyak tanda-tanda awal yang dapat dikenali sebelum analisis dilakukan,, “ ucap Nadhira Alifia, mahasiswa yang sama turut memberikan pendapatnya.

Namun, kata mereka, pengamatan di loaksi menunjukkan bahwa perubahan-perubahan kecil yang terlihat secara visual. Pastinya dapat menjadi petunjuk awal untuk mengenali kondisi lingkungan perairan.

“Meski demikian, kami berpendapat temuan kami belum dapat digunakan sebagai dasar kesimpulan akhir bagi kami, “ imbuh Nadhira menjelaskan.

#Pengamatan Visual dan Verifikasi Ilmiah

Sementara itu Amalia Fibrianty, pendamping kegiatan sekalaigus Media Communication ECOTON Foundation menjelaskan, pengamatan yang dilakuan para mahasiswa yang sedang studi independen, pengamatan secara visual terhadap titik-titik sungai. Tetap harus didukung dengan pengujian laboratorium. Langkah ini diperlukan, kata Amalia, agar kondisi sungai dapat diketahui secara lebih akurat dan terukur.

“Selama monitoring, mahasiswa diajak ke beberapa saluran industri yang bermuara langsung ke Kali Surabaya. Salah satu titik yang diamati berada di outlet pembuangan PT Dayasa Aria Prima, “ kata Amel, begitu biasa disapa.

Berdasarkan pengamatan secara langsung ini, lanjut Amel, air sungai pada titik tertentu, tidak menimbulkan bau menyengat. Juga memiliki suhu yang relatif normal. “Kondisinya juga tampak tidak terlalu keruh dibanding beberapa saluran lain yang turut diamati, “ jelas Amel.

Sebaliknya, dua saluran pembuangan lain yang tidak diketahui sumbernya menunjukkan karakteristik berbeda.

“Perbedaan ini, memperlihatkan setiap saluran memiliki kondisi tersendiri yang tidak dapat dinilai hanya dari pengamatan kasat mata. Artinya, pencemaran mungkin ada meskipun air tampak bersih, “ ucap Amel.

Kegiatan monitoring yang dilakukan mahasiswa ini, tentu akan memperkuat pemahaman terhadap sungai, jika pengelolaan sungai membutuhkan kombinasi antara observasi langsung di lokasi, juga diperlukan analisis ilmiah.

“Tujuannya, selain menambah pengetahuan teknis, pengalaman tersebut juga mendorong tumbuhnya kepedulian mahasiswa terhadap kualitas sungai sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, “ pungkas Amel.***

Naskah ini ditulis oleh Fathimah Maitsaa’ Maulida mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Brawijaya (UB) yang sedang menjalani program Studi Independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Email: fathimah1604@student.ub.ac.id

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *