Lewati ke konten

Mahasiswa Unej Kenalkan Biokoagulan Biji Kelor untuk Atasi Air Keruh Warga Gucialit Lumajang

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 26 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Mahasiswa Universitas Jember memperkenalkan teknologi pemanfaatan biji kelor sebagai biokoagulan alami untuk membantu mengatasi persoalan air keruh yang rutin dialami warga Desa Gucialit saat musim hujan.
  • Program pemberdayaan masyarakat ini memanfaatkan potensi lokal berupa biji kelor yang selama ini hanya digunakan sebagai bahan pangan menjadi solusi penjernihan air yang ramah lingkungan dan berbiaya rendah.
  • Melalui sosialisasi dan demonstrasi langsung, warga diperlihatkan proses perubahan air keruh menjadi lebih jernih menggunakan bubuk biji kelor dan sistem filtrasi sederhana.
  • Kegiatan yang melibatkan Tim Penggerak PKK Desa Gucialit ini mendapat respons positif karena dinilai menjawab kebutuhan masyarakat terhadap akses air bersih pada musim penghujan.
  • Selain mengenalkan teknologi tepat guna, tim mahasiswa juga memberikan pemahaman mengenai kelebihan dan keterbatasan biokoagulan agar dapat diterapkan secara aman di tingkat rumah tangga.

Penulis: Vika Anjani, Mahasiswa Program Studi Penyuluhan Pertanian, Universitas Jember.

Air Keruh Saat Musim Hujan Jadi Permasalahan Tahunan

PERMASALAHAN air keruh yang kerap dialami masyarakat Desa Gucialit, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang setiap musim hujan menjadi perhatian Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pemberdayaan Masyarakat (PKM-PM) Universitas Jember. Melalui inovasi berbasis potensi lokal, lima mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan biji kelor sebagai biokoagulan alami untuk membantu menjernihkan air yang tercampur lumpur dan sedimen.

Program tersebut dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi teknologi tepat guna di Balai Desa Gucialit pada 20 Juli 2026. Kegiatan diikuti oleh Tim Penggerak PKK Desa Gucialit, pemerintah desa, dosen pendamping, serta mahasiswa dari Program Studi Penyuluhan Pertanian dan Teknik Lingkungan Universitas Jember.

Menurut tim pelaksana, tingginya curah hujan menyebabkan debit air meningkat dan membawa material sedimen sehingga kualitas air yang digunakan masyarakat menurun. Di sisi lain, tanaman kelor tumbuh cukup melimpah di wilayah tersebut, namun pemanfaatannya masih didominasi sebagai bahan konsumsi sehari-hari.

Melihat kondisi tersebut, tim PKM-PM mengembangkan pemanfaatan biji kelor tua sebagai koagulan alami yang dinilai lebih ramah lingkungan dan mudah diperoleh masyarakat setempat.

Mahasiswa Universitas Jember dan TP PKK mempraktikkan penjernihan air menggunakan biokoagulan biji kelor. | Foto: Vika Anjani

#Biji Kelor Dimanfaatkan sebagai Koagulan Alami

Dalam sesi pemaparan, mahasiswa menjelaskan bahwa biji kelor mengandung protein aktif bermuatan positif atau cationic polyelectrolyte. Kandungan tersebut mampu mengikat partikel lumpur dan sedimen yang bermuatan negatif sehingga membentuk flok yang kemudian mengendap.

Tim juga menjelaskan bahwa penggunaan biokoagulan memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan koagulan kimia, seperti lebih aman bagi kesehatan, ramah lingkungan, serta relatif hemat biaya. Meski demikian, mereka turut menyampaikan bahwa air hasil pengolahan memiliki masa simpan terbatas sehingga sebaiknya segera dimanfaatkan.

Setelah penyampaian materi, peserta diajak menyaksikan demonstrasi pengolahan air. Bubuk biji kelor dicampurkan ke dalam sampel air keruh, kemudian diaduk hingga terbentuk gumpalan lumpur yang mengendap sebelum dialirkan melalui sistem filtrasi sederhana.

Perubahan kondisi air dapat diamati secara langsung oleh peserta. Air yang semula keruh tampak menjadi lebih jernih setelah melalui tahapan biokoagulasi dan penyaringan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sesi praktik berlangsung interaktif. Peserta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai dosis penggunaan bubuk biji kelor, teknik pengeringan biji, hingga cara penerapan teknologi tersebut agar dapat digunakan secara mandiri di rumah.

Hasil praktik menunjukkan air lebih jernih setelah melalui proses biokoagulasi dan filtrasi menggunakan biji kelor. | Foto: Vika Anjani

#Warga Berharap Inovasi Terus Dikembangkan

Respons positif datang dari peserta yang mengikuti kegiatan. Mereka menilai teknologi sederhana tersebut berpotensi membantu masyarakat menghadapi persoalan air keruh yang muncul hampir setiap musim hujan.

Anggota Tim Penggerak PKK Desa Gucialit, Lida Wahyuni, mengatakan kegiatan tersebut memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. “Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali untuk warga di desa kami karena memang saat musim hujan debit air sangat tinggi, tetapi airnya tidak jernih lagi karena banyak lumpurnya. Jadi dengan adanya kegiatan ini sangat membantu sekali,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Ketua TP PKK Desa Gucialit, Sukarni. Menurutnya, inovasi yang diperkenalkan mahasiswa sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang selama ini menghadapi persoalan kualitas air saat curah hujan meningkat.

“Ini kegiatan yang bermanfaat sekali karena memang terkait air keruh yang ada di sini. Program ini sangat bagus dan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat Desa Gucialit,” tuturnya.

Dukungan dari pemerintah desa dan kelompok masyarakat tersebut menjadi indikator bahwa pemanfaatan biji kelor sebagai biokoagulan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas. Melalui pendampingan lanjutan dan pemanfaatan sumber daya lokal, teknologi sederhana ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif penjernihan air yang mudah diterapkan oleh masyarakat di tingkat rumah tangga.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *