Lewati ke konten

Mahasiswa UTM Telusuri Proses Pengolahan Air Bersih PDAM Ngagel Surabaya

| 4 menit baca |Sorotan | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi

Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan UTM mempelajari langsung tahapan pengolahan air PDAM Ngagel Surabaya dari Kali Surabaya hingga distribusi

Sebanyak 31 mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) bersama satu dosen pembimbing melakukan kunjungan industri ke Instalasi PDAM Ngagel Surabaya pada 9 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 – 12.00 WIB itu, merupakan bagian dari Mata Kuliah Pengolahan Limbah yang berfokus pada pemahaman sistem pengolahan air baku perkotaan secara langsung di lapangan. Kunjungan tersebut dipandu oleh Langgeng, salah seorang pegawai perusahaan, menjelaskan alur pengolahan air dari tahap awal hingga siap digunakan masyarakat.

Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura mengikuti penjelasan mengenai setiap tahapan pengolahan air di PDAM Ngagel Surabaya, termasuk proses koagulasi, sedimentasi, filtrasi, dan klorinasi. | Foto: Dokumentasi UTM

#Pengambilan Air Baku dan Proses Awal Pengolahan

Proses pengolahan dimulai dari pengambilan air baku Kali Surabaya yang dipompa menuju bak intake. Pada tahap ini dilakukan aerasi untuk menjaga kadar dissolved oxygen (DO) tetap stabil serta penyaringan awal guna memisahkan sampah seperti daun dan ranting. Air kemudian melewati proses prasedimentasi dan sedimentasi melalui kanal-kanal penampungan yang berfungsi mengendapkan pasir, lumpur, dan partikel lain yang terbawa aliran.

Tahapan sedimentasi dilakukan sebanyak dua kali sebelum air dialirkan ke unit filtrasi. Sistem ini dirancang untuk mengurangi beban partikel sejak awal agar proses lanjutan berjalan lebih efektif. “Kanal dalam untuk proses sedimentasi dibersihkan setiap 3 bulan sekali secara bergantian, agar pengolahan air tetap beroperasi 24 jam,” ujar Langgeng dalam penjelasannya kepada peserta kunjungan.

Pada tahap ini, operator juga menekankan bahwa karakteristik air baku dari Kali Surabaya sangat memengaruhi stabilitas proses. Perubahan debit dan kualitas air menyebabkan proses pengendapan harus terus diawasi secara berkala. Kondisi tersebut menjadi dasar penting dalam pengoperasian instalasi pengolahan air minum di wilayah perkotaan.

#Koagulasi, Filtrasi, dan Standar Kualitas Air

Setelah proses sedimentasi awal, air masuk ke tahap filtrasi dan penjernihan menggunakan bahan kimia PAC sebagai pengganti tawas. Penggunaan PAC dinilai lebih efektif dalam menggumpalkan partikel halus yang masih tersuspensi di dalam air.

“Penggunaan PAC sendiri lebih efektif dibandingkan dengan tawas sehingga beralih ke PAC untuk penjernihan. Selain itu untuk kadar PAC tergantung kondisi air baku sehingga perlu pengecekan 1 jam sekali,” kata Langgeng.

Setelah tahap koagulasi, air mengalami proses turbiditas dan sedimentasi lanjutan untuk meningkatkan pengikatan partikel tersuspensi seperti lumpur, mikroorganisme, dan bahan organik. Pada tahap ini, air mulai menunjukkan kondisi visual yang lebih jernih, namun secara kualitas belum sepenuhnya memenuhi standar air minum. Air kemudian masuk kembali ke proses sedimentasi sebelum dinyatakan sebagai air setengah jadi.

Bangunan kantor pusat tampak di kejauhan, sementara fasilitas intake PDAM Ngagel Surabaya bekerja mengalirkan air baku dari Kali Surabaya untuk diolah menjadi air bersih bagi masyarakat. | Foto: Dokumentasi UTM

Standar kualitas air minum mengacu pada Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 yang menetapkan ambang kekeruhan sebesar 4 NTU.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Namun PDAM Ngagel Surabaya menerapkan standar internal yang lebih ketat yakni 1 NTU sebelum air dinyatakan layak distribusi. “Standar air minum menurut Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 untuk kekeruhan sebesar 4 NTU namun di PDAM Ngagel Surabaya menggunakan nilai 1 NTU,” jelas Langgeng.

Setelah memenuhi parameter tersebut, air masih melalui tahap filtrasi akhir dan penambahan klorin untuk membunuh bakteri serta mikroorganisme patogen. Proses ini menjadi tahapan penting sebelum air masuk ke sistem distribusi masyarakat. Air yang telah memenuhi baku mutu kemudian ditampung di reservoir untuk disalurkan ke wilayah pelayanan.

Selain itu, pencucian media filtrasi dilakukan setiap 24 jam untuk menjaga kinerja sistem tetap optimal. “Pencucian filtrasi dilakukan 24 jam sekali untuk memaksimalkan fungsinya dalam menyaring partikel yang terbawa oleh air,” ujar Pak Langgeng.

Temuan lapangan menunjukkan bahwa pengolahan air di PDAM Ngagel sangat bergantung pada fluktuasi kualitas air baku Kali Surabaya. Variasi beban pencemar dari hulu memaksa operator melakukan penyesuaian dosis bahan kimia secara berkala. Kondisi ini membuat pengawasan tidak dapat dilakukan secara statis, melainkan harus adaptif terhadap perubahan real-time kualitas air.

Dari perspektif teknis, sistem pengolahan yang diterapkan menunjukkan pendekatan berlapis untuk memastikan penurunan beban pencemar secara bertahap. Setiap tahapan, mulai dari sedimentasi hingga desinfeksi, memiliki fungsi spesifik dalam mengurangi parameter fisik, kimia, dan biologis air. Pendekatan ini memperlihatkan kompleksitas sistem pengolahan air perkotaan yang bergantung pada integrasi proses fisik dan kimia.

Kegiatan kunjungan ini juga memberikan gambaran langsung kepada mahasiswa mengenai keterkaitan antara teori pengolahan limbah dengan praktik operasional di lapangan. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa pengelolaan air bersih tidak hanya soal teknologi, tetapi juga ketepatan pengambilan keputusan berdasarkan kondisi lingkungan yang dinamis.

Pada akhirnya, instalasi PDAM Ngagel Surabaya menunjukkan bahwa sistem penyediaan air bersih merupakan rangkaian proses yang saling terhubung dari hulu hingga hilir. Ketergantungan terhadap kualitas air baku menjadi faktor kunci yang menentukan efisiensi dan efektivitas seluruh sistem pengolahan yang berjalan setiap hari.***

Artikel ini disusun Meir Tsabita Rihadatul Aisy, Fikri Iqbal Rahmatullah, Dwi Ayu Lestari, Dwi Kartini, Aswinnia Buatan, dan Mohammad Rafil Maulana Putra, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Trunojoyo Madura (UTM), melalui penyuntingan redaksi.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *