Lewati ke konten

Melawan Dominasi Sachet, Refilin Hadirkan Sistem Guna Ulang bagi Masyarakat Desa

| 8 menit baca |Sosok | 27 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Refilin hadir menawarkan belanja isi ulang untuk menekan sampah sachet. Lewat edukasi dan botol guna ulang, inisiatif ini mencoba mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat desa.

Deretan kemasan kecil sekali pakai telah lama menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat Indonesia. Mulai dari jajanan anak hingga kebutuhan rumah tangga seperti sabun cuci, sampo, dan sabun mandi, sebagian besar dijual dalam kemasan sachet yang praktis dan murah. Di balik kemudahan itu, kemasan berlapis plastik, aluminium, dan kertas tersebut sulit didaur ulang dan kerap berakhir menumpuk di tempat pembuangan atau dibakar di lingkungan permukiman.

Keresahan atas persoalan itu mendorong sejumlah pegiat lingkungan di bawah organisasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengembangkan inisiatif toko isi ulang bernama Refill Loop Indonesia (Refilin).

Konsepnya sederhana, menyediakan produk kebutuhan rumah tangga tanpa kemasan sekali pakai dengan sistem botol guna ulang. Melalui pendekatan penjualan sekaligus edukasi, Refilin mencoba memutus sumber timbulan sampah sachet dari hulunya – yakni pola konsumsi sehari-hari masyarakat.

Sejak berdiri, Refilin tidak hanya menawarkan alternatif belanja yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membangun jaringan komunitas dan masyarakat desa untuk beralih ke sistem guna ulang.

Berikut wawancara jurnalis TitikTerang, Supriyadi dengan Manager Operasional Refilin, Jofan Ahmad Arianto, yang mejelaskan latar belakang berdirinya inisiatif Refelin, cara kerjanya di lapangan, hingga tantangan mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat yang selama ini lekat dengan kemasan sachet berlangsung pada Senin, 16 Maret 2026.

Apa latar belakang berdirinya Refilin dan masalah lingkungan apa yang ingin diselesaikan melalui konsep refill ini?

Begini. Pada 2019, Ecoton pernah melakukan riset bernama brand audit terhadap sejumlah perusahaan seperti Wings dan Mayora. Dari riset itu kami mencoba mencari sasaran yang tepat. Ketika berbicara soal sampah sachet, perilaku konsumsi masyarakat Indonesia memang sangat didominasi oleh kemasan kecil.

Misalnya jajanan anak-anak seperti makanan ringan yang sering kita sebut ciki, itu sudah pasti menghasilkan sampah sachet. Lalu kebutuhan rumah tangga seperti sabun cuci, sabun mandi, dan sampo juga umumnya menggunakan kemasan sachet.

Hal itulah yang mendasari kami membangun infrastruktur guna ulang ini, karena kami melihat perlu ada solusi yang pasti. Kami mencoba menyelesaikan masalahnya dari hulu, yakni dengan menghentikan timbulan sampah sachet.

Kami juga melihat potensi dari sisi konsumsi. Jika menyasar produk untuk anak-anak tentu lebih sulit karena harus melalui izin BPOM dan lain-lain. Karena itu kami memulai dari kebutuhan rumah tangga, mengingat jumlah penduduk di pedesaan juga sangat padat.

Bagaimana sistem operasional Refilin berjalan sehari-hari, mulai dari pengadaan produk hingga proses pengisian ulang oleh konsumen?

Saat ini kami masih bergantung pada e-commerce dan supermarket besar, misalnya Palapa (supermarket di Sidoarjo). Untuk pembelian melalui e-commerce, kami membeli dari akun resmi produsen. Dari pihak Unilever misalnya, kami membeli produk dalam ukuran besar, seperti jeriken 5 liter.

Hal ini karena perusahaan produsen sendiri belum menyetujui sistem refill. Salah satu alasannya adalah faktor higienitas. Mereka khawatir jika sistem refill dimasifkan, kualitas produk akan menurun karena kemungkinan terkontaminasi udara, panas, atau penyimpanan yang tidak sesuai.

Untuk operasional refill sendiri, kami memiliki metode yang kami sebut NYADUK (Nyeles lan Edukasi). Pertama tentu selling atau penjualan, karena kami harus memastikan keberlanjutan toko melalui pemasukan. Kedua adalah edukasi kepada masyarakat, misalnya tentang bahaya sampah sachet dan alasan mengapa masyarakat perlu mengurangi penggunaan kemasan tersebut.

Kami juga menyediakan botol khusus guna ulang. Botol ini didistribusikan kepada masyarakat desa. Mereka membeli botol tersebut, kemudian kami isi dengan produk. Setelah habis, botol dikembalikan kepada kami untuk dicuci dan diisi kembali.

Jofan Ahmad Arianto memaparkan pentingnya membangun usaha ramah lingkungan di hadapan pelaku social business, dengan menekankan peran sistem guna ulang dalam menekan sampah plastik melalui Refill Loop Indonesia. | Foto: Dok. Refilin

Produk apa saja yang paling diminati oleh pelanggan di Refilin, dan mengapa produk tersebut menjadi favorit?

Seiring waktu, preferensi pelanggan tentu berubah. Kami juga harus mengenali karakter konsumen. Berdasarkan pengalaman kami, pelanggan refill umumnya loyal terhadap merek tertentu. Jika mereka sudah percaya pada satu merek, mereka akan terus menggunakan merek tersebut karena merasa produknya lebih bersih, busanya banyak, atau wanginya kuat.

Pada awalnya, produk yang paling diminati didominasi oleh produk Unilever seperti Rinso. Alasannya karena harganya relatif murah dan busanya banyak.

Seiring waktu kami juga mengenalkan produk lokal, seperti softener dari Oma Wangi. Setelah diperkenalkan, beberapa pelanggan mulai beralih dari produk seperti Molto atau SoSoft karena mereka melihat kualitas produk lokal ternyata bisa bersaing, bahkan ada yang lebih baik.

Saat ini pergeseran mulai terlihat. Dari produk FMCG besar, sebagian pelanggan mulai beralih ke produk lokal karena kami aktif mengenalkan produk tersebut kepada mereka.

Untuk sabun cuci piring, rumah tangga masih banyak menggunakan Sunlight. Namun bagi pelanggan yang memiliki usaha UMKM, mereka cenderung memilih Mama Lemon karena harganya lebih murah.

Sejauh ini, berapa besar pengurangan sampah plastik yang berhasil dicapai melalui layanan Refilin?

Hingga Januari 2026, berdasarkan data yang kami miliki, Refilin telah menjual sekitar 3.400 liter produk. Jika dikonversikan ke ukuran sachet 20 mililiter, maka kami berhasil mengurangi sekitar 143.720 sachet.

Dalam praktiknya, pola konsumsi masyarakat desa memang tidak selalu terjadwal. Biasanya mereka membeli sabun ketika berbelanja sayur di pagi hari. Jika ada kembalian sekitar Rp2.000, uang tersebut sering digunakan untuk membeli sachet. Dengan harga tersebut biasanya mereka mendapatkan kemasan 20 atau 40 mililiter.

Tantangan terbesar apa yang dihadapi dalam menjalankan bisnis berbasis refill atau tanpa kemasan sekali pakai?

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kami mencoba membuat harga refill lebih murah dibandingkan sachet. Misalnya jika sachet seharga Rp2.000 berisi 40 mililiter, maka harga per mililiternya sekitar Rp50. Sementara kami menjual dengan harga sekitar Rp40 per mililiter.

Untuk pembelian dalam jumlah besar seperti jeriken 5 liter, kami menjual dengan harga sekitar Rp33 per mililiter karena biasanya dibeli oleh pelaku UMKM.

Selain harga, tantangan lain adalah edukasi. Kami menjelaskan kepada masyarakat bahwa kemasan sachet sangat sulit terurai karena terdiri dari beberapa lapisan material, seperti plastik, aluminium, dan kertas. Karena itu kemasan tersebut juga tidak memiliki nilai ekonomi bagi pengepul sampah.

Bagaimana respons masyarakat terhadap konsep belanja isi ulang yang mungkin masih baru bagi sebagian konsumen?

Tantangan utamanya adalah pola konsumsi. Kata “praktis” dan “murah” sudah sangat melekat pada kemasan sachet. Hal itu membuat masyarakat terbiasa membeli produk dalam kemasan kecil.

Karena itu kami mencoba menjelaskan bahwa sachet sebenarnya tidak selalu lebih murah. Kami sering menghitung bersama pelanggan untuk menunjukkan perbandingan harga antara sachet dan refill. Kami juga menjelaskan dampak lingkungan dari sampah sachet.

Saat Refilin Tour dilakukan di beberapa kota seperti Jombang, Kediri, Sidoarjo, dan Gresik, respons masyarakat sebenarnya cukup baik. Mereka mulai sadar bahwa sampah yang paling sering dibakar di rumah adalah sampah sachet.

Banyak dari mereka tertarik beralih ke refill, asalkan lokasi toko refill mudah dijangkau. Saat ini basis kami masih berada di Wringinanom, Gresik.

Jofan Ahmad Arianto berkeliling kampung di kawasan Wringinanom, Gresik, mengantarkan layanan isi ulang sekaligus mengedukasi warga tentang pengurangan sampah sachet melalui Refill Loop Indonesia. Pendekatan langsung ini menjadi cara efektif mendekatkan gaya hidup minim sampah ke masyarakat. | Foto: Dok. Refilin

Apakah Refilin bekerja sama dengan produsen atau komunitas tertentu untuk menyediakan produk yang lebih ramah lingkungan?

Untuk produk sabun sendiri saat ini kami belum bekerja sama langsung dengan produsen ramah lingkungan. Fokus kami masih menggaet sebanyak mungkin orang agar tertarik pada sistem guna ulang.

Kami cukup aktif bekerja sama dengan komunitas. Misalnya dengan Komunitas Waduling (Wanita Peduli Lingkungan) di wilayah Sumengko. Mereka menanam pohon kelor di bantaran sungai untuk menjaga kawasan tersebut dari pembangunan.

Kami kemudian membantu mereka dengan pelatihan pengolahan produk seperti kerupuk kelor dan cookies kelor, serta membantu distribusi produknya. Kami juga membuka peluang bagi komunitas lain di Jawa Timur yang memiliki produk ramah lingkungan tetapi kesulitan dalam distribusi dan pemasaran.

Bagaimana strategi Refilin dalam mengedukasi masyarakat agar beralih ke gaya hidup yang lebih minim sampah?

Saat ini kami mulai memetakan orang-orang yang tertarik membuka toko refill, terutama yang menghubungi kami melalui Instagram. Kami juga sedang menyusun model bisnis untuk sistem franchise yang bisa diikuti oleh komunitas, individu, maupun sekolah.

Selain itu, kami melihat peluang dari program Adiwiyata di sekolah. Banyak sekolah yang berlomba menjadi sekolah berwawasan lingkungan. Kami berharap sekolah tidak hanya menjalankan program yang sudah ada, tetapi juga menciptakan produk ramah lingkungan yang menjadi ciri khas mereka.

Apakah ada rencana pengembangan Refilin ke kota lain atau penambahan jenis produk?

Ke depan kami ingin memperluas titik Refilin di berbagai desa. Jika di Desa A ada, di Desa B juga ada, maka dampaknya terhadap pengurangan sampah sachet akan jauh lebih besar.

Saat ini, di wilayah Wringinanom kami sudah memiliki pelanggan konsisten di empat desa: Sumengko, Wringinanom, Lebani, dan Pasinan. Pelanggannya didominasi masyarakat kontrakan, anak kos, dan ibu rumah tangga.

Di Gresik Kota, misalnya di SIBA, awalnya kami mendampingi mereka. Sekarang mereka sudah mandiri mengelola operasionalnya sendiri. Di Kediri juga ada TOMS (Toko Minim Sampah). Sementara di Bulukumba, teman-teman Ecoton mendirikan toko refill yang perkembangannya cukup masif.

Menurut Anda, bagaimana peran bisnis seperti Refilin dalam mendukung upaya pengurangan sampah plastik di Indonesia?

Tentunya sangat mendukung. Pada skala kecil saja kami sudah berhasil mengurangi sampah dalam jumlah tertentu. Jika konsep ini dimasifkan dan ditempatkan di berbagai titik desa, dampaknya akan jauh lebih besar.

Saat ini TPS dan TPA sangat kesulitan menangani sampah sachet karena kemasannya terdiri dari beberapa lapisan material dan sangat sulit didaur ulang. Bahkan pemulung sering tidak mengambilnya karena tidak memiliki nilai ekonomi.

Karena itu, jika konsumsi masyarakat bisa beralih dari sachet ke sistem guna ulang, dampaknya akan sangat signifikan dalam mengurangi sampah plastik.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *