Pengadilan Santa Ana mengakui Sungai Portoviejo sebagai subjek hak konstitusional setelah gugatan warga. Putusan ini menyoroti pencemaran berat dan tanggung jawab pemerintah daerah.
Pengadilan di Provinsi Manabí, Ekuador, membuat keputusan penting bagi perlindungan lingkungan. Dalam perkara nomor 13315202500701, Unidad Judicial Multicompetente dengan sede di kantor Santa Ana menerima gugatan aksi perlindungan konstitusional yang diajukan dua aktivis lingkungan atas nama Sungai Portoviejo.
Putusan itu membuka jalan bagi pengakuan sungai sebagai entitas dengan hak hukum, mengikuti prinsip hak-hak alam yang diakui dalam Konstitusi Ekuador 2008. Gugatan diajukan oleh José Xavier Castro Moreira dan Walter Stalin Melo Rivera, yang mewakili organisasi masyarakat sipil yang bergerak dalam advokasi lingkungan di wilayah tersebut.
Kedua penggugat menilai pemerintah daerah Santa Ana telah melakukan tindakan maupun kelalaian yang menyebabkan pencemaran serius terhadap sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.
Dalam dokumen gugatan, mereka menggambarkan kondisi sungai yang disebut “hampir kehilangan seluruh kemampuan ekologisnya”. Pencemaran air dinilai telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan memadai.
“Sungai Portoviejo telah mengalami kontaminasi permanen dan progresif. Ia kehilangan kemampuan menjalankan siklus alami serta fungsi ekologisnya,” demikian tertulis dalam dokumen gugatan yang dibacakan dalam persidangan, pada 10 Februari 2026.
Menurut para penggugat, kerusakan ekosistem sungai kini mencapai titik kritis. Mereka menyebut hampir seluruh spesies alami yang sebelumnya hidup di dalam sungai – mulai dari invertebrata hingga mikroorganisme – telah hilang.
Sebagai gantinya, hanya organisme yang tahan terhadap tingkat polusi tinggi yang masih mampu bertahan.
Pengacara penggugat, Jhonny Marcelo Toala, dalam persidangan mengatakan gugatan tersebut bukan sekadar perkara lingkungan biasa. Ia menyebut masyarakat datang ke pengadilan untuk menyuarakan nasib sungai yang tidak memiliki suara.
“Kami datang bukan hanya sebagai warga negara, tetapi sebagai bagian dari alam itu sendiri. Hari ini kami berbicara atas nama Sungai Portoviejo yang tidak bisa lagi berbicara,” kata Toala dalam keterangnnya, Jumat, (6/3/2026).
Ia menambahkan, konstitusi Ekuador memberikan dasar hukum kuat untuk melindungi alam sebagai subjek hukum.
“Konstitusi 2008 mengakui bahwa alam memiliki hak untuk dihormati keberadaannya dan menjaga siklus kehidupan. Ketika siklus itu rusak, hak alam telah dilanggar,” ujarnya.
Dalam gugatan tersebut, pemerintah kota Santa Ana dituding tidak menjalankan kewajibannya dalam pengelolaan lingkungan. Beberapa tuduhan yang disampaikan antara lain kegagalan membangun sistem pengolahan air limbah serta tidak adanya kebijakan konkret untuk memulihkan kualitas air sungai.

#Gugatan Warga Membuka Jalan Hak Sungai
Para penggugat juga menyebut sistem drainase kota tidak dirancang dengan baik, sehingga limbah domestik seringkali mengalir langsung ke sungai.
Selain itu, rencana pembangunan dan tata ruang wilayah disebut tidak memasukkan program perlindungan ekosistem sungai.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelAkibatnya, Sungai Portoviejo terus menerima beban pencemaran dari aktivitas manusia di wilayah perkotaan.
Dalam sidang, tim penggugat juga memaparkan sejumlah bukti ilmiah. Salah satunya hasil uji laboratorium dari Universitas Laica Eloy Alfaro de Manabí yang menunjukkan tingkat pencemaran air sangat tinggi.
Dalam penelitian itu ditemukan kandungan minyak dan lemak dalam air sungai mencapai 200 kali lipat di atas ambang batas yang diperbolehkan. Sementara kebutuhan oksigen biologis dan kimia air tercatat puluhan kali lebih tinggi dari standar.
Kondisi ini menunjukkan kualitas air sungai telah mengalami kerusakan serius. “Dalam istilah sederhana, sungai ini sedang mati karena kekurangan oksigen,” kata Toala di hadapan hakim.
Para penggugat juga memaparkan estimasi pencemaran yang terjadi setiap hari. Berdasarkan perhitungan teknis yang mereka ajukan, sekitar 19 kuintal limbah tinja manusia diperkirakan masuk ke sungai setiap hari dari kawasan Ayacucho di Santa Ana.
Angka itu diperoleh dari estimasi aliran limbah domestik yang masuk melalui sistem pembuangan yang tidak memiliki pengolahan memadai.
Selama proses persidangan berlangsung, mereka menghitung hampir 500 kuintal limbah telah mengalir ke sungai.
Selain dampak ekologis, penggugat juga menyoroti konsekuensi kesehatan bagi masyarakat. Data dari pusat kesehatan setempat menunjukkan ratusan kasus penyakit parasit usus pernah tercatat akibat konsumsi air yang terkontaminasi.
Di sisi lain, pemerintah kota Santa Ana melalui kuasa hukumnya membantah sebagian tuduhan tersebut. Pihak pemerintah menyatakan pengelolaan sanitasi kota telah dilakukan sesuai kewenangan yang dimiliki pemerintah daerah.
Namun para penggugat menilai langkah tersebut belum cukup untuk menghentikan kerusakan sungai.
Bagi mereka, pengakuan Sungai Portoviejo sebagai subjek hak merupakan langkah penting untuk memastikan perlindungan jangka panjang.
“Sungai ini bukan hanya aliran air yang kita lihat. Tapi sungai sudah menjadi bagian dari sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Manabí,” kata José Xavier Castro Moreira.
Ia berharap keputusan pengadilan dapat menjadi titik awal pemulihan ekosistem sungai serta membangun kembali hubungan masyarakat dengan alam.
“Memulihkan Sungai Portoviejo berarti memulihkan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya,” ujarnya. ***