Lewati ke konten

MIMO dan Pelajar SMKN 10 Surabaya: Melihat Bahaya Plastik yang Mengintai Manusia

| 5 menit baca |Mikroplastik | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Pelajar SMKN 10 Surabaya diajak mengenal bahaya mikroplastik melalui Mimo dalam Roadshow Asri Menyapa Surabaya. Edukasi ini mengajak siswa melihat langsung ancaman plastik yang kerap tak terlihat sehari-hari di lingkungan.
  • Mikroplastik bukan sekadar sampah kecil. Melalui Mimo, pelajar SMKN 10 Surabaya diajak melihatnya lewat mikroskop sekaligus memahami pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar mereka.
  • Roadshow Asri Menyapa Surabaya menghadirkan Mimo untuk membuka wawasan pelajar tentang mikroplastik. Dari sampah plastik, siswa belajar bahwa ancaman lingkungan dapat berubah menjadi partikel kecil yang sulit terlihat secara langsung.
  • Di tengah rangkaian Roadshow Asri Menyapa Surabaya, Mimo mengajak pelajar SMKN 10 Surabaya menyaksikan mikroplastik secara langsung. Pengalaman itu menjadi pintu masuk memahami bahaya plastik bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
  • Melalui edukasi interaktif Mimo, pelajar SMKN 10 Surabaya tidak hanya mendengar tentang mikroplastik, tetapi juga mengamatinya melalui mikroskop. Mereka diajak lebih sadar mengurangi plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari bersama.

Penulis, Ferlita Aurelia Wijaya, adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang saat ini sedang melangsungkan magang di Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) sejak 31 Agustus hingga 11 Desember 2026.

SAMPAH plastik tidak selalu hilang ketika dibuang. Sebagian justru berubah menjadi serpihan sangat kecil yang sulit dilihat mata. Hal itu terungkap saat Ecoton bersama para pelajar menggelar kegiatan di SMK Negeri 10 Surabaya pada Senin, 12 Oktober 2026.

Melalui Roadshow Asri Menyapa Surabaya bersama Mimo (Mikroplastik Journey) dalam kegiatan Roadshow Asri Menyapa Surabaya. Kegiatan mengangkat tema “Sampah dan Pahlawan Dibaliknya!” diikuti delegasi dari lebih dari 50 sekolah di Surabaya.

BACA JUGA:  Menghentikan Metana, Menyelamatkan Kota dari Krisis Iklim

Yang lebih menarik dari kegiatan itu, talkshow interaktif, permainan, dan eco-market, yaitu mengenalkan pentingnya keberlanjutan menjaga lingkungan. Sekaligus mengajak siswa lebih peduli terhadap persoalan sampah.

Di tengah rangkaian kegiatan itu, booth Mimo menjadi salah satu ruang yang menarik perhatian pelajar. Dengan bantuan mikroskop, siswa diajak melihat langsung serpihan mikroplastik yang selama ini tidak terlihat oleh mata.

Bagi para siswa, pengalaman mengenal mikroplastik menjadi hal baru. Yang mereka pahami, tidak hanya mendengar tentang bahaya plastik. Tetapi juga bisa melihat sendiri, bagaimana plastik dapat berubah menjadi serpihan berukuran sangat kecil.


Suasana Roadshow Asri Menyapa Surabaya yang diikuti para pelajar dalam rangkaian edukasi lingkungan dan kampanye pengelolaan sampah. | Foto: M. Iffan

Edukasi ini, kemudian berlanjut dalam sesi talkshow, yang diisi oleh Founder Ecoton Prigi Arisandi, S.Si., M.Si., dengan materi “Basmi Mikroplastik, Munculkan Peluang Usaha.”

Prigi tidak hanya membahas ancaman mikroplastik. Tetapi juga mengajak pelajar melihat persoalan lingkungan sebagai ruang untuk melahirkan inovasi dan peluang usaha.

“Upaya membasmi mikroplastik harus dibarengi dengan inovasi. Dari persoalan lingkungan ini, kita bisa mendorong lahirnya peluang usaha yang tetap menjaga lingkungan,” kata Prigi.

Plastik yang Tidak Benar-Benar Hilang

Sementara itu, Guru Jurusan Farmasi SMKN 10 Surabaya, Wahyu Puji Astuti mengatakan, melihat kehadiran Mimo di sekolah, merupakan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa.

Menurutnya, masih banyak siswa yang menggunakan wadah makanan dan minuman berbahan plastik karena belum memahami dampaknya.

“Siswa kita masih sangat sering menggunakan wadah makanan dan minuman dari plastik karena ketidaktahuan mereka akan bahayanya. Melalui pameran Mimo, peserta bisa melihat langsung wujud mikroplastik menggunakan fasilitas mikroskop,” kata Wahyu di sela kegiatan.

Ia menilai, pengalaman melihat mikroplastik secara langsung ini, membuat siswa lebih mudah memahami persoalan plastik sesungguhnya. Bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:  Warga Surabaya Keluhkan Pajak Kendaraan: Antara NJKB, Depresiasi, dan Dompet yang Menipis
Pelajar SMKN 10 Surabaya antusias mengamati sampel melalui mikroskop dalam kegiatan edukasi Mimo (Mikroplastik Journey), untuk mengenali mikroplastik secara langsung. | Foto: M. Iffan

Wahyu berharap edukasi semacam ini, terus dilakukan sehingga cita-cita sekolah yang nyaman dan bebas sampah tidak berhenti sebagai slogan semata.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Sebaiknya cara-cara seperti ini terus dilakukan. Agar tidak nampak seperti sekadar kampanye atau sosialisasi. Karena persoalan seperti ini nyata terjadi,” ucapnya.

Hal serupa juga dirasakan Rafel Aldiansyah, Duta SMKN 10 Surabaya. Setelah mengunjungi booth Mimo, ia memahami bahwa plastik yang dibuang tidak serta-merta menghilang.

“Mikroplastik itu adalah pecahan atau fragmentasi dari plastik yang berubah wujud menjadi bagian kecil-kecil. Ternyata plastik itu tidak hilang, tapi berubah bentuk menjadi serpihan kecil,” ujar Rafel.

Rafel kemudian mengajak masyarakat, khususnya anak muda, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Ia menyoroti kemasan sachet yang selama ini banyak digunakan masyarakat. Karena alasan praktis dan ekonomis. Hanya saja tak banyak disadari dampaknya, yaitu sulit dikelola.

“Kebiasaan seperti menggunakan refill ini, sebenarnya sederhana. Mudah dilakukan. Tapi karena kesadaran masih kurang dan dampak yang terjadi belum dipahami, memang agak susah. Padahal menggunakan bahan alternatif ini, nonplastik dapat menjadi langkah yang bisa dilakukan sehari-hari,” ungkap Rafel.

Mikroplastik Perlu Dibicarakan di Sekolah

Persoalan sampah juga menjadi perhatian Puji Karimulyo, Guru Matematika SMK Al-Islah Surabaya yang hadir sebagai pendidik tamu.

Ia melihat masih banyak anak yang belum mendapatkan pengetahuan memadai mengenai pengelolaan sampah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dan penggunaan bahan yang berpotensi berbahaya masih menjadi persoalan.

“Melalui informasi dari program Asri ini, siswa menjadi tahu mengenai risiko-risiko tersebut,” kata Puji.

BACA JUGA:  Misi Sungai Lestari: Delegasi UEA Turun ke Surabaya, Susuri Kampung MOZAIK-ECOTON di Sepanjang Kali Tebu

Menurut Puji, isu mikroplastik perlu terus dibawa ke ruang publik. Juga tak kalah pentingnya di lingkungan sekolah. Dengan begitu, kata Puji, siswa tidak hanya mengetahui istilah mikroplastik.

“Tetapi berharap juga siswa memahami dari mana asalnya, bagaimana plastik berubah menjadi serpihan kecil, serta mengapa penggunaannya perlu dikurangi,” kata Puji.

Roadshow Asri di SMKN 10 Surabaya ini, akhirnya tak hanya menjadi ajang kegiatan edukasi tentang sampah semata. Kehadiran Mimo memberi kesempatan kepada pelajar, melihat persoalan plastik dari jarak yang lebih dekat, bahkan melalui lensa mikroskop.

Dari sana, persoalan mikroplastik menjadi semakin jelas, yaitu plastik yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Dan perubahan perilaku bisa dimulai dari hal yang paling dekat, yakni mengurangi plastik sekali pakai.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *