Lewati ke konten

Monkasel: Saat Kapal Selam Uni Soviet “Terdampar” di Pusat Kota Surabaya

| 7 menit baca |Rekreatif | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Di pusat kota Surabaya, KRI Pasopati 410 berdiri sebagai monumen. Kapal selam era Perang Dingin ini menyimpan kisah militer, teknologi, dan perjalanan sejarah Indonesia.

Sebuah kapal selam berwarna abu-abu berdiri mencolok di pusat Kota Surabaya, tepat di kawasan Jalan Pemuda yang padat lalu lintas dan gedung modern. Tubuh baja kapal itu tampak kontras dengan lanskap perkotaan di sekelilingnya, seolah muncul dari daratan setelah perjalanan panjang dari laut.

Bagi sebagian orang yang melintas, kapal tersebut mungkin hanya terlihat sebagai objek wisata atau latar foto. Kendati bagi mereka yang mengenal sejarahnya, kapal itu menyimpan cerita panjang tentang perjalanan militer, teknologi, dan kekuatan maritim Indonesia pada masa lalu.

Kapal itu bernama KRI Pasopati 410, yang kini dikenal sebagai Monumen Kapal Selam Surabaya (Monkasel). Dahulu, kapal ini beroperasi sebagai bagian dari armada kapal selam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Kini, kapal yang berdemensi Panjang 76 meter dan Lebar 6,30 meter itu, berdiri diam di daratan sebagai museum yang membuka pintunya bagi masyarakat untuk melihat langsung bagian dari sejarah pertahanan Indonesia.

Monumen Kapal Selam Surabaya, atau yang lebih dikenal sebagai Monkasel, merupakan salah satu landmark kota yang paling dikenal. Berbeda dengan monumen konvensional yang biasanya berupa patung atau bangunan simbolik, Monkasel adalah kapal selam asli yang pernah beroperasi sebagai bagian dari armada Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.

Kapal yang kini menjadi museum tersebut adalah KRI Pasopati 410, kapal selam tipe Whiskey Class yang diproduksi di Uni Soviet pada awal masa Perang Dingin tahun 1952. Kapal ini mulai bergabung dengan armada TNI Angkatan Laut pada 1962, periode ketika Indonesia sedang berupaya memperkuat kekuatan militernya di tengah dinamika politik global.

Pada dekade 1960-an, hubungan geopolitik dunia sedang berada dalam ketegangan antara blok Barat dan blok Timur. Indonesia, yang saat itu menjalankan kebijakan politik luar negeri yang aktif, juga memperkuat kemampuan militernya. Armada laut menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian besar karena wilayah Indonesia yang didominasi oleh perairan.

Kapal selam seperti KRI Pasopati berfungsi sebagai alat strategis dalam berbagai operasi militer. Kapal jenis ini mampu melakukan patroli laut secara senyap, melakukan pengintaian, hingga menjalankan misi pertahanan yang membutuhkan kerahasiaan tinggi.

Dalam berbagai catatan sejarah militer, kapal selam Indonesia pada masa itu sering dikaitkan dengan operasi pembebasan Irian Barat pada awal 1960-an. Armada kapal selam menjadi simbol kekuatan laut Indonesia yang mulai diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.

Keberadaan kapal seperti KRI Pasopati menunjukkan bahwa pada masanya Indonesia pernah memiliki salah satu armada kapal selam terbesar di kawasan. Teknologi yang digunakan juga dianggap cukup maju untuk periode tersebut.

Bagi banyak pengamat militer, kapal selam tidak hanya menjadi alat perang, tetapi juga simbol kemampuan teknologi dan strategi sebuah negara maritim.

Gerbang Monumen Kapal Selam Surabaya dengan latar KRI Pasopati 410 yang kini difungsikan sebagai museum, menjadi pengingat sejarah kekuatan maritim Indonesia sekaligus destinasi wisata edukasi di pusat kota. | Foto: Shella.

#Dari Lautan ke Tengah Kota

Setelah hampir tiga dekade beroperasi sebagai bagian dari armada TNI Angkatan Laut, KRI Pasopati akhirnya dipensiunkan pada tahun 1990. Namun kapal tidak langsung menghilang dari sejarah. Pemerintah Kota Surabaya bersama TNI AL memutuskan untuk menjadikannya monumen sekaligus museum maritim.

Gagasan itu lahir dari keinginan untuk menjaga warisan sejarah militer sekaligus menghadirkan ruang edukasi kepada masyarakat. Surabaya sendiri dikenal sebagai kota dengan banyak situs sejarah perjuangan, terutama yang berkaitan dengan pertempuran kemerdekaan.

Kapal selam tersebut kemudian dipindahkan dari pangkalan militer menuju lokasi monumen di pusat kota. Proses pemindahannya bukan pekerjaan sederhana. Dengan panjang sekitar 76 meter dan tinggi haluan dari lunas garis air 4,25 meter, kapal tidak mungkin dipindahkan secara utuh.

Untuk memindahkannya, kapal harus dipotong menjadi beberapa bagian besar. Bagian-bagian  kapal kemudian diangkut melalui jalur darat menuju lokasi pembangunan monumen.

Setelah tiba di lokasi, bagian-bagian kapal dirakit kembali hingga membentuk struktur kapal selam yang utuh seperti saat ini. Proses perakitan kembali memerlukan ketelitian tinggi agar struktur asli kapal tetap terjaga.

Pada 1998, Monumen Kapal Selam Surabaya akhirnya resmi dibuka untuk umum.

Lokasinya dipilih di kawasan strategis di pusat kota, tidak jauh dari Sungai Kalimas dan kawasan perbelanjaan. Letaknya yang mudah dijangkau menjadikan monumen ini cepat dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Surabaya.

Seiring waktu, Monkasel tidak hanya menjadi monumen militer. Tempat ini juga berkembang sebagai ruang publik yang menggabungkan unsur edukasi, sejarah, dan pariwisata kota.

Deretan foto para komandan KRI Pasopati 410 terpajang di dalam Monumen Kapal Selam Surabaya (Monkasel). Galeri ini menampilkan para perwira yang pernah memimpin kapal selam tersebut sejak masa operasionalnya di TNI Angkatan Laut hingga akhirnya dipensiunkan dan dijadikan museum. | Foto: indonesiadefense

#Lorong Sempit yang Menyimpan Cerita

Berbeda dengan banyak monumen lain yang hanya bisa dilihat dari luar, Monkasel menawarkan pengalaman yang lebih dekat bagi pengunjung. Pengunjung dapat masuk langsung ke dalam kapal selam dan berjalan melalui lorong-lorong sempit yang dulu digunakan awak kapal.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tangga logam yang sempit membawa pengunjung turun ke ruang utama kapal. Di dalamnya, berbagai peralatan navigasi, panel kontrol, hingga mesin-mesin kapal masih dipertahankan seperti kondisi aslinya.

Lorong kapal terasa sempit dengan langit-langit rendah. Di beberapa bagian, pengunjung harus sedikit menunduk agar tidak terbentur struktur kapal.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian, ruang torpedo di bagian depan kapal. Di ruang ini, pengunjung dapat melihat tabung peluncur torpedo yang dahulu digunakan sebagai senjata utama kapal selam.

Selain itu terdapat ruang kendali yang dipenuhi panel instrumen mekanis. Perangkat ini  menggambarkan bagaimana teknologi militer pada masa itu bekerja secara manual dan mekanis, jauh sebelum sistem digital modern mendominasi peralatan militer.

Di bagian lain terdapat ruang tidur awak kapal yang sangat sederhana. Tempat tidur bertingkat dengan ruang sempit menunjukkan bagaimana para pelaut harus hidup berhari-hari bahkan berminggu-minggu di ruang terbatas di bawah laut.

Pengalaman berkunjungan ke Monkasel, sering membuat pengunjung membayangkan bagaimana kehidupan awak kapal saat menjalankan misi. Suasana tertutup, ruang sempit, serta suara mesin yang terus beroperasi menjadi bagian dari keseharian para pelaut.

Rani (27), wisatawan asal Sidoarjo yang ditemui di area monumen, mengaku awalnya tidak menyangka bisa masuk ke dalam kapal selam asli.

“Saya kira cuma lihat dari luar saja. Ternyata bisa masuk dan lihat ruang-ruangnya langsung. Jadi kebayang bagaimana dulu prajurit tinggal di dalam kapal selam,” ujar Rani. Sabtu, (7/3/2026).

Menurut Rani, pengalaman itu membuatnya lebih memahami sejarah militer Indonesia yang selama ini hanya ia ketahui dari buku atau pelajaran sekolah.

Cerita serupa juga datang dari Agus (45), pedagang minuman yang sudah lama berjualan di sekitar kawasan monumen. Ia mengatakan Monkasel hampir selalu ramai pada akhir pekan atau musim liburan.

“Kalau hari libur biasanya ramai keluarga dan rombongan sekolah. Anak-anak biasanya penasaran ingin masuk ke dalam kapal,” katanya.

Menurut Agus, banyak pengunjung yang awalnya datang hanya untuk berfoto. Namun setelah masuk ke dalam kapal selam, mereka mulai tertarik mengetahui sejarah di baliknya.

Fenomena itu menunjukkan bahwa monumen seperti Monkasel memiliki peran penting sebagai jembatan antara sejarah dan pengalaman langsung masyarakat.

Di tengah perkembangan kota yang semakin modern, keberadaan Monumen Kapal Selam Surabaya menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu harus disimpan di ruang museum yang tertutup.

Kadang-kadang sejarah justru hadir di ruang publik, berdiri di tengah kota, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kapal yang dahulu bergerak senyap di bawah laut kini berdiri diam di daratan. Dari tubuh baja yang membeku dalam waktu itu, cerita tentang perjuangan, teknologi, dan perjalanan bangsa terus hidup. Bisa diceritakan kembali kepada setiap orang yang melangkah masuk ke lorong sempitnya.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *