Lewati ke konten

MOZAIK: Sinergi Multipihak Ungkap Temuan Sampah Kali Tebu Surabaya

| 4 menit baca |Mikroplastik | 11 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Redaksi

Program kolaboratif ECOTON dan Pemkot Surabaya mengungkap 907 kilogram sampah dalam sehari, dorong satgas sungai dan kampung percontohan untuk pengurangan dari sumber.

Upaya menekan kebocoran sampah plastik di Kali Tebu memasuki babak baru melalui kolaborasi multipihak antara Yayasan ECOTON dan Pemerintah Kota Surabaya. Pertemuan strategis yang melibatkan kelurahan, kecamatan, serta pemangku kepentingan lain digelar untuk menyelaraskan peran dalam program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK).

Manajer Program MOZAIK ECOTON, Amiruddin Muttaqin, menjelaskan program ini dirancang sebagai kerja bersama lintas level pemerintahan. “Inisiatif ini membutuhkan keterlibatan kelurahan, kecamatan hingga kota. Setiap wilayah memiliki potensi yang bisa dikembangkan untuk mendukung kawasan bebas sampah dan pemulihan ekosistem sungai,” kata Amiruddin, Selasa, (6/5/2026).

Program MOZAIK direncanakan berjalan selama 18 bulan dengan pendampingan intensif dari ECOTON. Cakupannya membentang dari hulu hingga hilir Kali Tebu, meliputi sejumlah wilayah seperti Kapas Madya, Simokerto, Tanah Kali Kedinding, Sidotopo Wetan, Bulak Banteng, hingga Tambak Wedi.

Data awal dari uji coba pemasangan penjaring sampah atau trashboom menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Dalam waktu 24 jam, pada 24–25 April 2026, tim berhasil mengangkat 907 kilogram sampah dari aliran Kali Tebu.

Temuan diperkuat dengan audit merek sampah plastik. Hasilnya menunjukkan dominasi sampah kemasan sekali pakai dari produsen besar. “Kami mengidentifikasi 1.641 potongan sampah bermerek, 77,5 persen berupa bungkus makanan. Sebanyak 56,3 persen termasuk plastik multilapis yang sulit didaur ulang,” ujar Alaika Rahmatullah, Manajer Data dan Informasi Program MOZAIK.

Ia menilai temuan ini penting sebagai dasar mendorong perubahan sistem produksi dan konsumsi. “Solusi pengurangan harus mengarah pada alternatif seperti guna ulang, karena jenis multilapis sangat sulit ditangani di hilir,” kata Alaika.

Audit juga mencatat kontribusi sejumlah produsen terhadap sampah yang ditemukan, antara lain Wings sebesar 9,13 persen, Unilever 10,48 persen, Indofood 8,71 persen, Mayora 4,94 persen, serta produsen lokal 4,02 persen.

Selain plastik kemasan, tim juga menemukan dominasi sampah popok sekali pakai. Total beratnya mencapai 420 kilogram dalam satu hari pengangkatan. “Ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam pengelolaan limbah domestik. Tanggung jawab produsen perlu diperkuat sesuai regulasi yang ada,” ujar Alaika.

Camat Simokerto, Noer Novita Amin, Camat Kenjeran Gin Gin Ginanjar, perwakilan DLH Kota Surabaya Agustinus, serta Amiruddin Muttaqin dari ECOTON dalam diskusi kolaborasi penanganan sampah Kali Tebu. | Foto: Alaika

#Dorong Satgas dan Kampung Percontohan

Pertemuan juga menghasilkan sejumlah rencana strategis, termasuk pembentukan satuan tugas atau satgas Kali Tebu. Satgas ini diharapkan berperan dalam patroli, penertiban, serta edukasi masyarakat terkait perlindungan sungai.

Camat Kenjeran, Gin Gin Ginanjar, menilai keberadaan satgas akan mempercepat perubahan di lapangan. “Kami ingin pembentukan satgas dipercepat dengan anggota dari kelurahan, dinas terkait, praktisi, dan masyarakat. Peran mereka penting untuk patroli sekaligus edukasi,” kata dia.

Ia juga menyebut pentingnya pengembangan Kampung MOZAIK sebagai model percontohan. Program ini mencakup edukasi pemilahan sampah dari rumah, pendampingan warga, serta pengembangan toko isi ulang untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Pendekatan ini membuka peluang perubahan perilaku sekaligus memberikan solusi praktis bagi masyarakat,” ujar Gin Gin.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dukungan juga datang dari Camat Simokerto, Noer Novita Amin, yang menekankan pentingnya kombinasi antara edukasi dan penegakan aturan. “Perlu ada sanksi sosial maupun administratif bagi pembuang sampah sembarangan. Di sisi lain, masyarakat harus diberi pemahaman dan alternatif,” kata dia.

Ia menambahkan pengelolaan sampah juga bisa diarahkan menjadi sumber nilai ekonomi. “Harapannya, warga tidak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga terlibat dalam solusi yang memberi manfaat ekonomi,” ujarnya.

Dari sisi kewilayahan, masing-masing kelurahan menghadapi kondisi berbeda. Simokerto memiliki potensi melalui kegiatan budidaya lele dan pengalaman pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Tanah Kali Kedinding menghadapi tantangan kepadatan wilayah yang tidak merata.

Di Tambak Wedi, persoalan kepatuhan pembayaran iuran sampah serta perilaku warga masih menjadi kendala, meski bank sampah telah terbentuk. Sementara itu, Kapas Madya Baru menghadapi praktik pembuangan sampah oleh pengguna jalan dan keterbatasan pengelolaan sampah organik.

Sejumlah persoalan lain juga mencuat, seperti keterbatasan layanan pengangkutan, tingginya volume sampah rumah tangga dan usaha, serta limbah cair domestik yang belum tertangani optimal.

Sebagai langkah lanjutan, proyek MOZAIK dijadwalkan melakukan peluncuran resmi pada Juni 2026 mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup. Momentum ini diharapkan memperkuat dukungan dari Pemerintah Kota Surabaya serta memperluas partisipasi masyarakat.

ECOTON juga mendorong pendekatan pengurangan sampah dari sumber sebagai strategi utama. Upaya ini dinilai lebih efektif dibanding penanganan di hilir yang sering kali terbatas.

Melalui kolaborasi ini, bantaran Kali Tebu diharapkan dapat bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih produktif. Salah satu gagasan yang muncul adalah pengembangan taman tematik atau destinasi wisata air.

Transformasi diarahkan untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap sungai. Dari yang sebelumnya dianggap sebagai tempat pembuangan, menjadi aset lingkungan yang memiliki nilai sosial dan ekonomi.

Kolaborasi lintas sektor dalam proyek MOZAIK memperlihatkan penanganan sampah tidak bisa dilakukan secara parsial. Keterlibatan pemerintah, komunitas, serta pelaku usaha menjadi kunci dalam mendorong perubahan yang lebih sistematis dan berkelanjutan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *