Lewati ke konten

Negeri yang Takut pada Buku, Santai pada Korupsi dan Bangga Akan Kebodohan

| 4 menit baca |Sorotan | 24 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi

 SURABAYA – Di negeri ini, yang paling ditakuti penguasa bukan Valak, bukan Pocong, bukan pula tuyul. Yang paling bikin pucat bukan angka inflasi atau serangan netizen. Tapi… buku. Iya, buku. Seolah-olah tiap lembar kertas itu berisi jampi-jampi penggulingan rezim.

Polisi belum lama ini menyita puluhan buku dari tersangka demonstran Agustus 2025. Di Surabaya dan Sidoarjo, aparat mengamankan 11 buku dari massa aksi yang berujung ricuh. Di Kediri, seorang pelajar SMA yang juga penulis ditangkap karena diduga terlibat kerusuhan—buku-bukunya ikut diseret sebagai barang bukti.

Buku-buku yang jadi “tersangka” itu antara lain Anarkisme karya Emma Goldman, Kisah Para Diktator karya Jules Archer, Karl Marx karya Franz Magnis, Apa Itu Anarkisme Komunisme karya Alexander Berkman, hingga karya Pramoedya Ananta Toer. Semua ikut “ngantor” di lemari arsip kepolisian.

#Mendikti: “Belum Tahu” — Buku Jadi Barang Bukti

Ironi? Jelas. Di saat negara-negara lain sibuk bikin program literasi—bagi-bagi buku gratis, bikin taman baca Instagramable, sampai lomba bedah buku di kampung—di sini buku malah diperlakukan kayak bom waktu. Pemerintah kita kayaknya punya trauma masa kecil yang mendalam sama perpustakaan.

“Penyidik memiliki kewajiban untuk mengumpulkan bukti yang cukup dan relevan untuk membuktikan suatu perbuatan tindak pidana,” kata Abraham kepada Tempo pada Sabtu, 20 September 2025. Kalimat yang kedengarannya formal, tegas, tapi entah kenapa tetap terasa aneh ketika “bukti” yang dimaksud adalah buku.

Bayangkan, aparat kita rajin menyita buku seolah-olah mereka menyita sabu. Di mata aparat, Anarkisme bukan lagi teori politik, tapi semacam panduan membikin bom molotov. Pramoedya bukan lagi penulis sastra, tapi “guru spiritual” pemberontakan.

Padahal, yang lebih berbahaya dari buku-buku itu adalah kemalasan berpikir yang menjangkit banyak orang. Tapi ya sudahlah, menyita buku lebih gampang ketimbang menyita pola pikir.

Lucunya lagi, ketika wartawan nanya soal penyitaan buku ini, Mendikti menjawab santai: “Belum tahu.” (Sumber: Bisnis.com). Jawaban yang klise dan sekaligus jujur—karena kalau pejabat ditanya hal-hal yang bikin runyam, jawaban paling aman memang “belum tahu”.

Padahal mahasiswa, pelajar, bahkan masyarakat umum sudah ramai membicarakan soal ini di media sosial. Tapi ya itu tadi, “belum tahu” adalah versi sopan dari “nggak mau ikut pusing”.

#Aneh, Buku Jadi Tersangka

Buku-buku itu sekarang seperti tersangka kriminal. Diinterogasi, difoto, dijadikan barang bukti. Padahal isi mereka cuma kalimat, bukan koktail Molotov. Buku-buku itu mungkin sekarang lagi berdebat di lemari arsip kantor polisi:
“Eh, kita diapain sih kok sampai disita?” tanya Karl Marx.
“Tenang, mungkin mereka butuh bahan bacaan,” jawab Pramoedya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di negeri ini, puisi bisa lebih diawasi ketimbang rekening pejabat. Literasi dianggap berbahaya, korupsi dianggap “kesalahan administrasi”. Kita hidup di zaman di mana kata-kata lebih diawasi ketimbang tender proyek.

#Dari Puisi ke Politik Jadi Buku Resep Kue

Lucunya, buku-buku itu mungkin sekarang sedang nongkrong bareng di lemari arsip kantor polisi. Kumpulan Puisi Rindu berkata, “Aku cuma ingin menceritakan cinta.” Manifesto Politik menyahut, “Justru itu. Cinta bikin rakyat berani melawan ketidakadilan.” Adegan imajiner itu terasa seperti komedi satir yang kelewat nyata.

Di negeri ini, puisi bisa lebih diawasi ketimbang rekening pejabat. Literasi dianggap berbahaya, sementara korupsi disebut “kesalahan administrasi”. Kita hidup di zaman di mana kata-kata lebih ketat diawasi ketimbang tender proyek. Padahal, dari puisi ke politik jaraknya tak sejauh yang dibayangkan aparat. Di balik kata-kata, selalu ada gagasan. Dan gagasan yang dibaca dengan jernih tak otomatis bikin orang turun ke jalan. Tapi ketakutan sering kali lahir dari ketidaktahuan.

Kalau begini terus, mungkin buku-buku di negeri ini harus ganti wujud. Jadi buku resep kue, biar tak dicurigai. Bayangkan Manifesto Politik berubah jadi Panduan Membuat Nastar Antikorupsi. Atau Anarkisme diubah jadi 101 Cara Menanam Cabai Organik. Buku resep kue jelas lebih aman. Tak ada aparat yang bakal curiga. Paling banter mereka cuma minta dibikinkan kue setelah membaca resepnya.

Buku mewarnai juga oke—dianggap edukatif, ramah anak, sekaligus tidak mengandung “bibit makar”. Karena pada akhirnya, sejarah akan mencatat: di negeri ini, sebuah buku dianggap lebih berbahaya daripada kebodohan massal. Dan di hari ketika kebodohan massal dianggap normal, membaca justru menjadi perlawanan paling damai.***

 

Penulis: Ulung Hananto | Editor: Supriyadi

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *