Lewati ke konten

Ngintir Kali Surabaya Rekam Krisis Ekologis Sungai

| 7 menit baca |Eksploratif | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

Penyusuran tiga hari menemukan sampah plastik, bangunan liar, limbah domestik, serta penurunan spesies ikan di Kali Surabaya drastis.

Kali Surabaya masih menjadi sumber air baku bagi jutaan warga di Jawa Timur. Namun, hasil penyusuran tiga hari yang dilakukan komunitas lingkungan menunjukkan sungai itu menghadapi tekanan ekologis serius akibat sampah plastik, limbah domestik, alih fungsi bantaran, hingga penurunan spesies ikan.

Penyusuran bertajuk “Ngintir Kali Surabaya 2026” itu, berlangsung 30 Mei – 1 Juni 2026. Tim menyusuri aliran sungai dari Pintu Air Mlirip, Mojokerto, sampai Karangpilang, Surabaya, dengan cara mengikuti arus menggunakan jaket pelampung.

Kegiatan yang melibatkan Posko Ijo, AKAMSI, River Warrior, Ecoton, dan Sungai Nusantara, serta Media TitikTerang. Selama ngintir, tim banyak mendokumentasikan kondisi sungai dari badan air, termasuk sumber pencemaran yang tidak terlihat dari jalan raya.

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan kondisi sungai tampak berbeda ketika dilihat dari dalam aliran air.

Peserta Ngintir Kali Surabaya mengikuti arus sungai menggunakan perlengkapan pelampung saat mendokumentasikan kondisi ekologis bantaran dan kualitas air di kawasan hilir DAS Brantas. | Foto: Fully Syafi

“Kalau lihat dari jalan raya, sungai kadang terlihat biasa. Tapi saat masuk ke badan sungai, sampah plastik yang menggantung di pohon itu terlihat terus,” kata Prigi pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Etape pertama dimulai dari Pintu Air Mlirip menuju Wringinanom, Gresik. Penyusuran berlangsung sekitar tiga jam, dimulai pukul 08.15 WIB dan berakhir pukul 11.27 WIB.

Selama perjalanan, tim menemukan 180 pohon terlilit sampah plastik. Mereka juga mencatat 80 titik timbunan sampah liar dan sekitar 120 bangunan berdiri di kawasan sempadan sungai.

Jika mengikuti alur sungai, jarak tempuh mencapai sekitar 42 kilometer. Dari jalan raya, jaraknya hanya sekitar 13 kilometer.

Plastik kresek, styrofoam, dan sampah rumah tangga terlihat menyangkut di ranting pohon dan semak bantaran. Sebagian lainnya menumpuk di tepian sungai dan terbawa arus menuju hilir.

Di sejumlah lokasi, bangunan semi permanen berdiri menjorok ke badan sungai. Sebagian digunakan sebagai tempat usaha kecil hingga lokasi berkumpul warga.

Peserta penyusuran mengenakan jaket pelampung sederhana selama mengikuti arus. Metode ngintir dipilih karena memungkinkan pengamatan lebih dekat terhadap perubahan bantaran dan sumber pencemaran.

#Sampah Plastik dan Limbah Mendominasi Bantaran

Kondisi pencemaran terlihat semakin berat saat tim memasuki etape kedua dari Wringinanom menuju Desa Cangkir, Driyorejo, Gresik.

Manager Edukasi dan Kampanye Ecoton, Alaika Rahmatullah, mencatat sedikitnya 215 pohon di bantaran sungai terlilit sampah plastik. Tim juga menemukan 127 titik timbulan sampah liar di sepanjang jalur penyusuran.

Jenis sampah didominasi limbah domestik seperti plastik rumah tangga, styrofoam, kain bekas, hingga kemasan sekali pakai.

“Banyak pohon berubah seperti tempat sangkutan sampah. Plastik menggantung hampir di setiap tikungan sungai,” kata Alaika pada Ahad, 31 Mei 2026.

Selain sampah, tim mendata sekitar 247 bangunan liar berdiri di bantaran sungai. Beberapa bangunan disebut membuang limbah domestik langsung ke badan air melalui saluran terbuka.

Tim juga menemukan indikasi pengurukan baru di sejumlah titik bantaran. Material tanah dan puing tampak menjorok ke sungai dan mempersempit aliran air.

Di beberapa lokasi, air sungai berubah lebih keruh dan mengeluarkan bau menyengat. Sejumlah peserta penyusuran mengaku mulai merasakan gatal saat memasuki wilayah Driyorejo.

Relawan lingkungan Heri Purwanto mengatakan kondisi itu sudah lama dirasakan warga sekitar.

Sumber Tim Ngintir Kali Surabaya | Desain AI

“Kalau sudah masuk wilayah sini, nelayan biasanya enggan makan ikannya sendiri. Banyak yang memilih menjual hasil tangkapan,” ujar Heri.

Selain limbah domestik, tim juga menemukan aliran air yang diduga berasal dari kawasan industri di sekitar bantaran.

Meski demikian, komunitas mengaku belum melakukan pengujian laboratorium untuk memastikan kandungan limbah di dalam air sungai.

Anggota AKAMSI, Jofan Ahmad Arianto, mengatakan pencemaran sungai tidak dapat dipahami hanya melalui pengamatan dari darat.

“Kalau dari atas terlihat normal. Tapi begitu masuk sungai, baru terlihat saluran-saluran pembuangan dan sampah yang menumpuk,” kata Jofan.

Ia menilai kepadatan permukiman di bantaran sungai berkontribusi terhadap buruknya pengelolaan limbah domestik.

Menurutnya, sebagian sampah kemungkinan berasal langsung dari aktivitas rumah tangga di tepi sungai yang tidak memiliki sistem pengelolaan memadai.

Di sejumlah titik, peserta juga melihat warga masih membuang sampah langsung ke badan sungai. Praktik itu membuat timbunan sampah terus bertambah ketika debit air meningkat.

Kondisi bantaran juga mengalami perubahan cukup besar. Vegetasi alami di beberapa kawasan tergantikan bangunan semi permanen dan saluran pembuangan domestik.

#Tekanan Permukiman Menuju Kawasan Hilir

Etape ketiga dilakukan dari kawasan Bambe, Driyorejo, menuju Karangpilang, Surabaya. Memasuki kawasan urban, tekanan terhadap sungai terlihat semakin besar.

Bangunan berdiri rapat mendekati bibir sungai tanpa sempadan memadai. Rumah tinggal, tempat usaha, hingga bangunan ibadah ditemukan berada sangat dekat dengan aliran air.

Di sisi kanan sungai yang masuk wilayah Desa Krembangan dan Tawangsari, Kecamatan Taman, Sidoarjo, tim mencatat sekitar 280 bangunan berdiri di bantaran.

Sementara di sisi kiri sungai menuju Karangpilang, tim menemukan sekitar 214 bangunan padat di sepanjang aliran sungai.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Setelah melewati kawasan PDAM Surya Sembada Surabaya, tim masih menemukan sekitar 152 bangunan lain berdiri rapat di tepian sungai.

Selain bangunan, tim juga menemukan timbulan sampah hampir di setiap segmen aliran.

Relawan mencatat sedikitnya 102 titik timbulan sampah kategori kecil, sedang, hingga besar di sisi kanan sungai. Di sisi kiri terdapat 68 titik sampah kecil, 43 sedang, dan 15 besar.

Jenis sampah yang ditemukan masih didominasi limbah domestik seperti plastik rumah tangga, styrofoam, kayu bercampur limbah organik, dan sisa bahan pangan.

Pada beberapa titik, tim menemukan organ sisa penyembelihan hewan kurban tersangkut di vegetasi bantaran. Bau menyengat terasa cukup kuat ketika penyusuran memasuki kawasan padat penduduk.

“Kondisinya hampir sama dengan etape sebelumnya. Semakin masuk kawasan padat penduduk, tekanan terhadap sungai makin tinggi,” ujar Jofan, saat ikut serta etape ketiga pada Senin, 1 Juni 2026.

Tim Ngintir Kali Surabaya berpose di tengah aliran sungai usai penyusuran bantaran untuk mendokumentasikan pencemaran, timbulan sampah, dan perubahan ekologis di DAS Brantas. | Foto: Fully Syafi

Ketua AKAMSI, Blak Alan, menilai persoalan utama Kali Surabaya bukan hanya pencemaran, tetapi juga perubahan cara masyarakat memandang sungai.

Menurut dia, sebagian warga menganggap tinggal dekat sungai berarti memiliki keleluasaan mendirikan bangunan di sempadan.

“Dekat dengan sungai itu seharusnya menjaga sungai, bukan menjadikannya tempat buang limbah,” kata Alan.

Ia menilai pemulihan Kali Surabaya masih memungkinkan dilakukan. Namun, upaya tersebut membutuhkan pengawasan ketat terhadap pencemaran dan penertiban bangunan di bantaran sungai.

Menurut Alan, timbulan sampah dan penyempitan bantaran berpotensi memperparah sedimentasi serta menghambat aliran air saat debit sungai meningkat.

#Penurunan Spesies Ikan Semakin Terlihat

Selain mendokumentasikan kondisi bantaran, komunitas lingkungan juga menyoroti penurunan jumlah spesies ikan di Kali Surabaya.

Penelitian dalam jurnal Biodiversitas Volume 27 Nomor 3 Maret 2026 mencatat terdapat 35 spesies ikan air tawar di Sungai Surabaya.

Pengambilan sampel dilakukan di tiga lokasi utama, yakni Pintu Air Mlirip Mojokerto, Kecamatan Krian Sidoarjo, dan Pintu Air Jagir Surabaya.

Prigi Arisandi mengatakan jumlah spesies ikan mengalami penurunan drastis dari hulu menuju hilir.

Di kawasan Mlirip tercatat 34 spesies ikan. Namun ketika memasuki Jagir Surabaya, jumlahnya tinggal sekitar 17 spesies.

“Semakin ke hilir, tekanan pencemaran makin terlihat pada jumlah spesies ikan,” kata Prigi.

Beberapa ikan endemik Jawa masih ditemukan bertahan hidup, seperti baung, lele jawa, julung-julung, dan wader cakul.

Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, mengatakan keberadaan ikan lokal menunjukkan Kali Surabaya belum sepenuhnya kehilangan daya dukung ekologis.

“Artinya sungai masih punya peluang dipulihkan,” ujarnya.

Tim Ngintir Kali Surabaya disambut anak-anak bantaran sungai di Karangpilang, Surabaya. Kehadiran mereka menarik perhatian warga yang sehari-hari hidup berdampingan dengan aliran Kali Surabaya. | Foto: Fully Syafi

Meski demikian, tekanan terhadap habitat ikan terus meningkat. Peneliti mencatat ancaman berasal dari pencemaran, perubahan habitat, spesies asing invasif, hingga pembangunan pintu air tanpa jalur migrasi ikan.

Rulli juga menyebut sedikitnya 12 spesies ikan yang pernah dicatat naturalis Pieter Bleeker pada abad ke-19 kini tidak ditemukan lagi dalam survei terbaru.

Mikroplastik menjadi perhatian lain komunitas sungai. Potongan plastik kecil diduga berasal dari limbah rumah tangga, aktivitas industri daur ulang, dan padatnya aktivitas di daerah aliran sungai.

Partikel itu dikhawatirkan masuk ke rantai makanan dan memengaruhi kualitas air baku yang digunakan masyarakat di wilayah hilir.

Air Kali Surabaya diketahui menjadi sumber utama perusahaan daerah air minum di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, hingga Jombang.

Karena itu, pencemaran sungai dinilai tidak hanya berdampak terhadap ekosistem, tetapi juga kesehatan masyarakat.

Selama tiga hari penyusuran, peserta mengaku tidak menemukan gangguan keamanan di sepanjang aliran sungai.

Bagi mereka, kondisi tersebut menunjukkan Kali Surabaya masih memiliki peluang dipulihkan jika ada penanganan serius terhadap sumber pencemaran.

“Kondisi sungai tidak bisa dipulihkan lewat seremoni saja. Harus ada tindakan nyata terhadap sumber pencemaran yang terlihat langsung di lapangan,” kata Rulli.

Menjelang sore di akhir penyusuran, Kali Surabaya tetap mengalir menuju hilir. Plastik masih menggantung di ranting pohon bantaran. Di bawah permukaan air yang keruh, sebagian ikan lokal masih bertahan hidup di tengah tekanan pencemaran yang terus berlangsung.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *