KABUPATEN JOMBANG, Jawa Timur, punya 16 pasar tradisional. Tapi ironinya, yang paling tradisional justru cara pemerintah memperlakukannya.
Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2020 — yang katanya jadi pedoman penataan dan pembinaan pasar — lebih sering dibacakan di rapat DPRD daripada benar-benar diterapkan di lapangan.
Ketua Komisi B DPRD Jombang, Anas Burhani, mulai resah. Tapi bukan karena pasar makin ramai, justru karena pasar makin sunyi. “PCN (Pasar Citra Niaga) itu mau dipakai buat apa? Harus jelas,” ujarnya dengan nada yang terdengar seperti pengakuan dosa dari kebijakan lama yang gagal move on.
Karena yang ramai bukan lantai pasar, tapi bahu jalan di luar bangunan pasar. Pedagang tumpah ruah, berebut ruang dengan kendaraan, menolak kembali ke kios yang dibangun mahal-mahal tapi ditinggalkan seperti kos kosong saat akhir bulan.
Bangunan dua lantai itu kini seperti simbol klasik proyek daerah, megah di proposal, mati di lapangan.
Ironisnya, Pemerintah Kabupaten Jombang sempat menggelontorkan Rp23 miliar hanya untuk merelokasi pedagang PCN.
Uang sebesar itu, kata dokumen perencanaan, hanya cukup membeli lahan 3,7 hektare. Sementara estimasi kebutuhan ideal untuk lahan 1,3 hektare saja sudah mencapai Rp17 miliar.
Akhirnya, Pemkab mengajukan sekitar Rp40 miliar, tapi yang cair hanya Rp23 miliar, sisanya berharap bantuan fisik dari PU pusat.
#Pasar Perak: Rp10,76 Miliar untuk Sebuah Lantai Dua yang Tak Pernah Dihuni
Mari kita pindah ke Pasar Perak, yang baru direvitalisasi dua tahap, Rp6,63 miliar di tahun 2021, Rp4,13 miliar di tahun 2022. Total Rp10,76 miliar.
Hasilnya? Bangunan dua lantai yang megah di atas kertas, tapi sepi di kehidupan nyata.
Lantai satu lumayan, masih ada pedagang dan pembeli. Tapi lantai dua? Seolah jadi museum barang tak terpakai, kios rapi, lampu mati, dan aroma sunyi yang mewah.
“Kesalahan bukan cuma di pedagang, tapi di perencanaan,” kata Anas.
Benar juga. Karena sebelum membangun pasar, pemerintah lupa membangun kepercayaan.
Dan kalau ada yang harus dievaluasi, mungkin bukan bangunannya, tapi cara berpikir yang terus menganggap revitalisasi berarti “cat baru dan foto peresmian”.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Pasar Citra Niaga dan Psikologi Cabai Rawit
Di tengah bangunan pasar yang makin menua dan semangat pedagang yang makin loyo, muncul secercah kehidupan, bukan dari program Pemkab, tapi dari hasil riset mahasiswa.
Penelitian dari Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Jombang, yang terbit di Sigmagri Vol. 04 No. 02 (2024), 22 Desember 2024, menemukan bahwa faktor psikologis adalah kunci utama dalam keputusan pembelian cabai rawit di PCN.
Motivasi, persepsi, dan keyakinan ternyata lebih berpengaruh daripada harga dan kualitas.
Dalam bahasa pasar, orang membeli karena percaya, bukan karena murah.
Lucunya, temuan ini justru menampar logika pembangunan pasar selama ini. Pemerintah masih berpikir, kalau bangunannya bagus, pembeli otomatis berdatangan.
Padahal, pembeli itu bukan nyamuk. Mereka tidak tertarik pada lampu neon dan keramik baru, tapi pada kenyamanan sosial, sapaan akrab, dan suasana hidup yang cuma bisa lahir dari pasar yang benar-benar hidup.
Riset ini mungkin kecil, tapi pesannya besar, pasar tidak bisa dihidupkan dengan semen dan anggaran, tapi dengan kepercayaan dan interaksi manusia.
#Lantai Dua, Simbol Gagalnya Pendekatan Top-Down
Dari semua pelajaran, lantai dua pasar tradisional di Jombang layak dijadikan simbol peringatan, ruang indah yang kosong karena salah membaca manusia.
Kios yang dirancang tanpa suara pedagang, akhirnya jadi monumen kesalahpahaman birokrasi.
Anas Burhani sudah bilang, “Perencanaan harus dari bawah ke atas, bukan sebaliknya.”
Tapi entah kenapa, kalimat itu seperti tenggelam di antara laporan SPJ dan foto-foto seremonial.
Pasar tradisional bukan cuma soal ekonomi rakyat, tapi juga soal relasi sosial, ruang hidup, dan memori kolektif. Dan selama pembangunan masih dimaknai sebagai proyek, bukan dialog, maka lantai dua akan terus kosong — penuh harapan yang menggantung di langit-langitnya.
Jadi kalau suatu hari kamu naik ke lantai dua Pasar Citra Niaga dan melihat kios-kios kosong berdebu, jangan sedih dulu.
Itu bukan sekadar ruang sepi, tapi arsip senyap dari sebuah kebijakan yang gagal memahami manusia.***