- Tradisi tutur Babad Pasir Luhur berhasil diwariskan kepada anak-anak di Dukuh Cibun.
- Penyelamatan naskah kuno digagas akademisi Unsoed bersama seniman serta masyarakat setempat.
- Praktik budaya lokal masih hidup melalui tradisi pangan dan pengelolaan sungai.
- Pembangunan jembatan mengancam kelestarian lanskap alam serta pohon ratusan tahun.
- Warga menandatangani Prasasti Cibun sebagai komitmen menjaga warisan sejarah bersama.
TRADISI tutur Babad Pasir Luhur di Dukuh Cibun, Desa Sunyalangu, Karanglewas, Banyumas, kembali menemukan pewarisnya. Tiga anak melantunkan macapat tersebut dalam acara Nyore Sandekala | Twilight Dinner #3 – Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen, Sabtu (8/8/2026).
Acara tmempertemukan sekitar 30 warga dengan seniman, akademisi, jurnalis, serta pegiat lingkungan. Rangkaian kegiatan diisi tembang Kinanthi, live painting, suling bambu Rahman Khan, hingga rembug budaya.
“Kalau salah dalam merencanakan pembangunan, semua yang indah ini akan hilang,” ujar Direktur LPPSLH, Bangkit Ari Sasongko, dalam rilis pers, Kamis (13/8/2026). Pernyataan ini sekaligus mengkritik rencana pengaspalan jalan dan pembangunan jembatan yang dinilai mengancam lanskap ekologis Cibun.

#Penyelamatan Tradisi dan Penelusuran Teks Kuno
Babad Pasir Luhur merupakan bagian dari sejarah Banyumas yang kini berpenduduk 1,85 juta jiwa. Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah mencatat karya ini sebagai babad tertua di wilayah tersebut. Usaha pelestariannya dipelopori oleh Nisa Roiyasa, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman, sejak 2019.
Nisa menelusuri sisa naskah yang terserak dan banyak dibuang oleh warga. “Teks yang kini dibaca di Cibun merupakan hasil kompilasi Knebel yang kemudian direvitalisasi Prof. Sugeng Priyadi,” kata Nisa menjelaskan asal-usul naskah dari penelusuran fragmen beraksara latin dan buku tangan Mbah Sikun.
Proses pendampingan melibatkan dalang jemblung Agung Wicaksana, Iang Kie Bae, Dr. Chusni Hadiati, serta Enni Nur Aeni. Setelah melatih kelompok dewasa, pewarisan diperluas ke anak-anak seperti Aditia Rifqi, Dwi Nanang Setiawan, dan Ismey Jumiati. “Setelah Mbah Sikun meninggal pada 2022, pengetahuannya diteruskan ke anak-anak hingga mereka bisa tampil dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah di Bandungan,” ujar Nisa.
#Praktik Kebudayaan dan Ancaman Kelestarian Alam
Babad Pasir Luhur di Cibun tak hanya dibaca sebagai teks semata. Era Prima Nugraha dari Sthanaluhur Indonesia menjelaskan bahwa ajaran naskah memandu praktik hidup harian warga. “Praktik menangkap ikan dengan membendung sungai atau marak di Sungai Logawa terekam langsung dalam Babad Pasir Luhur, tempat bertemunya Kamandaka dan Dewi Ciptarasa,” jelas Era.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelHasil tangkapan sungai disajikan bersama hidangan pangan lokal khas Dukuh Cibun. Para tamu menikmati Sega Tutu, Cimplung Dawegan, Ayam Burus, Jangan Pakis Kecombrang, Umbut Warak, dan Tempe Ireng. Santapan tersebut menegaskan bahwa dunia yang diceritakan naskah kuno masih dipraktikkan hingga kini.

Namun, keberlanjutan tradisi ini berhadapan dengan ancaman kerusakan lingkungan desa. Dalam dua tahun terakhir, empat pohon berumur ratusan tahun ditebang untuk persiapan jembatan. Maestro Lengger Lanang, Rianto, menyayangkan hilangnya lanskap organik yang dulu menjadi ruang menari warga.
#Sinergi Komunitas dan Komitmen Pelestarian Budaya
Rembug budaya yang dipandu Dr. Nurul Hidayat menekankan bahwa budaya bukan sekadar pertunjukan. Pemerintah daerah diminta memandang penyelamatan tradisi di dusun kecil sebagai aset bersama. “Kebudayaan harus dijadikan akar pembangunan, bukan sekadar ornamen pelengkap proyek fisik,” tegas Nurul.
Pelestari Babad Banyumas dari Bale Pustaka, Nasirun Purwokartun, menilai tradisi di Cibun sangat istimewa. Pengalamannya mengumpulkan 100 naskah membuktikan bahwa pewarisan lisan kepada anak-anak tergolong sangat langka. Langkah Nisa berjalan kaki menembus kegelapan malam melintasi jembatan gantung kini membuahkan hasil.
Dukungan mengalir dari berbagai pihak, termasuk Tedjo dari Perkumpulan Hidora Banyuwangi yang mendorong aksi nyata. Pertemuan ditutup dengan penandatanganan Prasasti Cibun oleh seluruh peserta yang hadir. Komitmen ini memastikan anak-anak terus membaca babad sembari menjaga aliran sungai dan pepohonan tua.