- Ecoton mengajak 120 kader Muhammadiyah Gresik memahami bahaya mikroplastik melalui pendidikan lingkungan berbasis sekolah sejak dini.
- Kader lingkungan dibekali pengetahuan mengurangi plastik sekali pakai demi menekan pencemaran sungai dan kesehatan manusia bersama.
- Temu kader memperkuat peran pelajar sebagai penggerak perubahan perilaku menghadapi ancaman mikroplastik yang terus meningkat di sekolah.
- Peserta mengetahui mikroplastik telah mencemari lingkungan sekaligus memasuki tubuh manusia melalui berbagai aktivitas sehari-hari di sekitar.
- Ecoton menilai pengurangan sampah plastik harus dimulai dari perubahan kebiasaan masyarakat, terutama generasi muda sejak sekolah.
SEBANYAK 120 kader lingkungan Muhammadiyah mengikuti Temu Kader Lingkungan Muhammadiyah di SMK Muhammadiyah 5 Gresik, Selasa (4/8/2026). Kegiatan yang digelar Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) itu berfokus memperkuat pemahaman pelajar mengenai ancaman mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Peserta berasal dari sekolah-sekolah Muhammadiyah di wilayah Gresik Utara. Mereka memperoleh materi mengenai sumber mikroplastik, jalur penyebarannya, serta langkah sederhana untuk mengurangi pencemaran sejak dari lingkungan sekolah.
“Kalau adik-adik pegang plastik, apa yang akan dilakukan? Apakah dibuang sembarangan atau ditaruh di meja? Gerak-gerik kecil seperti ini yang perlu diubah agar tidak menjadi kebiasaan. Karena itu, adik-adik perlu membiasakan memilah sampah dan menerapkan gaya hidup zero waste,” ujar Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Kabupaten Gresik, Dr. Andi Rahmad Rahim, S.Pi., M.Si.
Materi yang disampaikan tidak berhenti pada persoalan sampah. Peserta diajak memahami bahwa mikroplastik terbentuk dari pecahan plastik berukuran sangat kecil. Partikel itu berasal dari berbagai aktivitas sehari-hari.
Kemasan plastik sekali pakai menjadi salah satu sumber utama. Selain itu, aktivitas rumah tangga juga ikut menyumbang pelepasan partikel plastik ke lingkungan.
Ecoton menjelaskan mikroplastik kini ditemukan di sungai, laut, tanah, hingga udara. Penelitian dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan partikel tersebut telah masuk ke tubuh manusia.
Kondisi itu membuat persoalan mikroplastik semakin kompleks. Penanganannya tidak cukup mengandalkan kegiatan bersih sungai semata.

#Perubahan Kebiasaan Menjadi Fokus Utama
Ecoton menekankan perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian penting pengendalian mikroplastik. Langkah tersebut dinilai lebih efektif karena menyasar sumber pencemaran sejak awal.
Generasi muda dipilih sebagai sasaran utama. Sekolah dipandang memiliki ruang pembelajaran yang mampu membentuk kebiasaan baru secara berkelanjutan.
Melalui kader lingkungan, pengetahuan diharapkan menyebar kepada siswa lainnya. Pendekatan ini juga dinilai memperkuat budaya peduli lingkungan di sekolah.
Peserta dikenalkan pentingnya mengurangi plastik sekali pakai. Mereka juga didorong membiasakan pemilahan sampah sejak dari kelas maupun rumah.
Kebiasaan sederhana menjadi perhatian utama. Membuang sampah pada tempatnya dinilai mampu mencegah plastik terbawa ke saluran air dan sungai.
Penerapan gaya hidup minim sampah juga menjadi materi penting. Langkah itu mencakup penggunaan wadah pakai ulang dan pengurangan kemasan sekali pakai.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Ecoton menilai perubahan kecil yang dilakukan banyak orang akan memberikan dampak lebih besar dibanding penanganan pencemaran di hilir.
Pendekatan pendidikan lingkungan juga dinilai mampu membangun kesadaran jangka panjang. Pelajar diharapkan membawa kebiasaan tersebut hingga kehidupan bermasyarakat.
#Pelajar Didorong Menjadi Agen Perubahan
Materi yang diterima peserta memberi pengalaman baru. Salah satunya dirasakan Jasmin, siswa SMP Muhammadiyah 13 Campurejo.
Ia mengaku baru mengetahui mikroplastik dapat berada pada tubuh manusia. Pengetahuan itu mengubah cara pandangnya terhadap penggunaan plastik.
“Di sini saya jadi tahu mikroplastik sudah ada di kulit kita. Jadi saya harus lebih rajin cuci tangan dan mengurangi kemasan plastik,” ujar Jasmin.
Pengalaman serupa juga dirasakan peserta lain. Mereka memperoleh pemahaman mengenai hubungan antara kebiasaan sehari-hari dan pencemaran lingkungan.
Ecoton berharap kader lingkungan tidak berhenti menjadi peserta pelatihan. Mereka diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan di sekolah masing-masing.
Peran kader dinilai penting dalam membangun budaya ramah lingkungan. Edukasi antarpelajar dipandang lebih mudah diterima karena dilakukan oleh teman sebaya.
Melalui kegiatan ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik. Sekolah juga diharapkan menjadi ruang membangun kepedulian terhadap kondisi lingkungan.
Penguatan kader lingkungan menjadi bagian dari upaya menekan pencemaran plastik dari sumbernya. Langkah tersebut diharapkan menjaga sungai-sungai di Gresik tetap bersih sekaligus mengurangi paparan mikroplastik bagi generasi mendatang.***