Lewati ke konten

Petualangan Ilmiah Siswa SDIT Al Huda Pulau Bawean: Mencari Mikroplastik di Antara Akar Mangrove

| 7 menit baca |Mikroplastik | 38 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Thara Bening Sandrina Editor: Supriyadi

Kolaborasi SDIT Al Huda Bawean dan UIN Sunan Ampel Surabaya mengungkap jejak mikroplastik di mangrove, sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini kepada siswa pesisir.

Angin laut berembus pelan di pesisir Pulau Bawean pagi itu. Akar-akar mangrove menjuntai seperti anyaman yang menjaga garis pantai tetap utuh. Di antara lumpur dan air payau, empat siswa sekolah dasar berdiri, memperhatikan setiap gerak kakak-kakak mahasiswa yang memungut sampel.

Di tangan mereka, daun mangrove dan potongan akar menjadi bahan penelitian. Di benak mereka, rasa ingin tahu tumbuh cepat.

Kegiatan kolaboratif antara SDIT Al Huda Bawean dan mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya sudah berlangsung pada 5 April 2026.

Bagi para siswa sekolah dasar itu, hal ini menghadirkan pengalaman belajar yang jarang terjadi. Pendidikan dasar dipertemukan langsung dengan praktik riset lapangan, membuka ruang baru bagi cara memahami lingkungan pesisir.

“Kegiatan seperti ini sangat positif karena anak-anak tidak hanya belajar dari buku, tetapi langsung melihat bagaimana penelitian dilakukan di lapangan,” kata guru pendamping, Kinanti Safitrin Naja. “Mereka jadi lebih mudah memahami pentingnya menjaga alam di sekitar mereka.”

Penelitian berfokus pada satu isu yang kerap luput dari perhatian, yaitu mikroplastik. Padahal partikel plastik berukuran sangat kecil ini dapat masuk ke berbagai lapisan ekosistem, termasuk mangrove yang selama ini dikenal sebagai benteng alami pesisir.

Elsa Pratiwi, mahasiswa yang meneliti kontaminasi mikroplastik pada akar mangrove, menjelaskan bahwa akar menjadi bagian penting untuk diamati.

“Penelitian kali ini berfokus pada deteksi keberadaan mikroplastik pada akar dan daun mangrove, bagian yang paling sering berkontak langsung dengan pencemaran plastik melalui udara, aliran air, maupun sampah yang tercecer di kawasan pesisir,” ujarnya.

Dua lokasi dipilih untuk pengambilan sampel, kawasan Pantai Selayar yang berdekatan dengan permukiman warga, serta kawasan konservasi mangrove di Desa Daun.

Perbedaan karakter kedua lokasi diharapkan memberi gambaran yang lebih utuh tentang kondisi lingkungan Bawean.

Kegiatan ini terasa seperti petualangan ilmiah. Kayla Ilma Arifah, salah satu peserta, tampak tak berhenti bertanya.

“Senang sekali bisa belajar langsung tentang mangrove. Saya jadi tahu kalau mangrove itu ada berbeda-beda jenis dan bentuk daun serta akarnya berbeda-beda,” katanya dengan nada terurai jelas.

Riset kecil di Pulau Bawean membuka cerita besar tentang mikroplastik. Dari akar hingga daun mangrove, generasi muda belajar membaca tanda-tanda alam sejak dini. | Dok. SDIT Al Huda

#Mangrove yang Masih Terjaga

Hasil pengamatan langsung di lokasi, membawa kabar yang cukup menggembirakan. Kawasan konservasi Desa Daun, terutama. Kondisi mangrove masih terjaga dengan baik. Keanekaragaman jenis terlihat jelas dari vegetasi yang tumbuh.

Elsa menyebut beberapa spesies yang ditemukan, seperti Rhizophora sp., Sonneratia alba, Avicennia, dan Acanthus. Keberadaan berbagai jenis ini menjadi indikator penting bahwa ekosistem berada dalam kondisi sehat.

“Di lokasi ini kami menemukan lebih banyak spesies. Ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove masih sangat terjaga,” ujarnya.

Kondisi seperti ini tidak hanya mencerminkan kualitas lingkungan, tetapi juga keberlanjutan fungsi ekologis mangrove. Akar-akar yang rapat menahan abrasi, sementara daun dan ranting menjadi rumah bagi berbagai organisme.

Elsa juga menjelaskan beberapa jenis mangrove hanya tumbuh di lingkungan dengan kondisi tertentu yang masih alami. Bahkan, ada vegetasi yang pengambilannya memerlukan izin khusus karena termasuk dalam kategori yang dilindungi.

“Yang saya suka dari Bawean, lokasi ini sangat sesuai untuk penelitian. Aksesnya jelas, kondisi lapangan nyata, dan saat pengambilan sampel akar hampir tidak ditemukan jeratan sampah plastik,” katanya.

Lingkungan yang relatif bersih memberi peluang bagi mangrove untuk tumbuh optimal. Kondisi ini berbanding lurus dengan keberadaan biodiversitas di sekitarnya.

“Mangrove akan tumbuh optimal jika lokasinya asri seperti ini. Fungsinya sangat penting sebagai penahan abrasi. Jika mangrove terjaga, maka banyak keanekaragaman hayati lain yang turut tersokong keberadaannya,” kata Elsa.

Para siswa juga melihat langsung bagaimana ekosistem yang sehat bekerja di tempat ini. Air terlihat lebih jernih, bau lumpur tidak mengganggu penciuman, dan sampah hampir tak terlihat. Kalau memang muncul sampah, itu tampak wajar.

Tentu pengalaman visual ini menjadi pelajaran yang sulit tergantikan oleh buku teks. Pastinya akan selalu menempel menjadi bagian ingatan, membentuk cara pandang baru tentang alam yang selama ini hanya mereka kenal lewat gambar dan penjelasan di kelas.

Di antara akar mangrove Desa Daun, pelajaran tentang lingkungan menjadi nyata. Anak-anak tak hanya belajar, tetapi menyaksikan langsung dampak dan harapan bagi pesisir. | Dok. SDIT Al Huda

#Ancaman Mikroplastik di Pesisir

Gambaran berbeda muncul di kawasan Pantai Selayar. Lokasi yang berdekatan dengan permukiman menunjukkan adanya tekanan lingkungan yang lebih besar. Sampah plastik masih ditemukan di sekitar area mangrove ini.

Dito Herdianto, mahasiswa yang meneliti mikroplastik pada daun mangrove, menjelaskan terjadi perbedaan kondisi yang cukup mencolok.

“Di stasiun pertama yang dekat pemukiman memang masih ditemukan sampah plastik yang tercecer. Ini menjadi catatan penting karena dapat memengaruhi kualitas perairan dan kesehatan mangrove,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Penelitian pada daun mangrove membuka perspektif lain. Selama ini, perhatian sering tertuju pada akar atau sedimen. Padahal, daun juga berpotensi terpapar mikroplastik, terutama dari udara dan percikan air laut.

“Penelitian ini ingin mengetahui apakah mikroplastik juga hadir pada daun mangrove, karena daun berpotensi terpapar partikel dari udara maupun percikan air laut,” kata Dito.

Hasil awal menunjukkan adanya indikasi perbedaan tingkat kebersihan lingkungan yang berdampak pada kualitas ekosistem. Kawasan konservasi yang terkelola dengan baik tampak lebih bersih dibandingkan area yang dekat aktivitas manusia.

“Di kawasan konservasi, kebersihan dan keasriannya sangat baik. Ini menjadi contoh bahwa pengelolaan lingkungan yang tepat dapat menjaga ekosistem tetap sehat,” ujarnya.

Dito menilai pengawasan terhadap wilayah pesisir perlu diperluas, tidak hanya di titik-titik wisata. “Harapannya pengawasan lebih diperketat, tidak hanya di area ekowisata tetapi juga di seluruh wilayah pesisir. Mangrove memiliki fungsi penting yang berdampak langsung pada ekosistem perairan,” katanya.

Temuan lain yang menarik datang dari pengukuran kualitas air. Guru pendamping mencatat adanya kadar oksigen terlarut yang rendah di beberapa titik.

“Salah satu hasil pengukuran menunjukkan rendahnya oksigen di dalam air laut sekitar mangrove, dan salah satu faktornya adalah adanya sampah di sekitar laut,” kata Kinanti.

“Ini membuka kesadaran kita tentang betapa besar dampaknya jika sampah terus dibuang ke laut, ” tandas Kinanti, yang mengaku asli warga Ngawi.

Fakta seperti ini memperlihatkan hubungan langsung antara perilaku manusia dan kesehatan ekosistem. Sampah yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil dari persoalan. Hal ini tentu saja dapat mengganggu proses biologis bawah air, dan memengaruhi kehidupan organisme laut.

Melihat kenyataan ini, bagi para siswa merupakan pengetahuan dan memberi kesan mendalam. Fahri Maulana Elgar, misalnya, mengaku pengalaman ini membuka wawasan baru.

“Seru sekali bisa ikut penelitian dan melihat langsung cara kakak-kakak mengambil sampel daun dan akar. Juga mengetahui bahaya mikroplastik sampai ke tumbuhan laut,” ucapnya sambil tersenyum.

Kegiatan ini tidak berhenti pada pengambilan sampel semata. Diskusi juga digelar antara mahasiswa, guru, dan siswa, menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman. Setiap temuan dibicarakan, setiap pertanyaan dijawab dengan pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami.

Guru pendamping Jamili, S. Pd., melihat kegiatan ini sebagai peluang untuk membangun pendekatan pendidikan yang lebih kontekstual. “Kegiatan hari ini, menurut kami sangat inspiratif, “ ucapnya.

“Kolaborasi penelitian pencemaran lingkungan seperti ini membuka peluang besar untuk menghadirkan solusi yang konkret dan terintegrasi. Diskusi intensif dan berbagi pengalaman antar pihak membuat saya yakin kita bisa memberikan perbedaan nyata bagi lingkungan pesisir Bawean, ” jelas Jamili.

Harapan ke depan tidak hanya berhenti pada publikasi hasil penelitian. Data yang dikumpulkan diharapkan menjadi dasar untuk langkah lanjutan, baik dalam bentuk kebijakan maupun aksi nyata di tingkat lokal.

“Harapan kami ke depan adalah tersedianya data yang akurat dan analisis yang komprehensif mengenai pencemaran lingkungan, strategi penanganan yang efektif, peningkatan kesadaran masyarakat, serta kebijakan lingkungan yang lebih tegas dan berpihak pada keberlanjutan,” kata Jamili.

Di sisi lain, pengalaman langsung di lapangan memberi dampak emosional yang kuat. Para siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga merasakan keterhubungan dengan lingkungan.

Kinanti mengaku kegiatan ini memberi energi baru dalam proses belajar-mengajar.

“Kami sangat excited dengan kegiatan ini. Bukan hanya siswa, tetapi kami juga mendapatkan banyak pengetahuan baru yang lebih seru karena bisa terjun langsung ke lapangan bersama para pakarnya,” ujarnya.

Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana pendidikan dan riset dapat berjalan beriringan. Di tengah ancaman mikroplastik yang semakin meluas, pendekatan seperti ini membuka jalan bagi tumbuhnya kesadaran kolektif sejak dini.

Di pesisir Bawean, pelajaran tentang lingkungan tidak lagi berhenti di ruang kelas. Ia tumbuh di antara akar mangrove, di daun yang diteliti, dan di tangan anak-anak yang mulai memahami arti menjaga alam.***

Penulis, Thara Bening Sandrina, Staf Divisi Fundraising dan Investasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Artikel ditulis saat mendampingi mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya dalam penelitian di Pulau Bawean.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *