Lewati ke konten

ProjectArek.id dan Sunyi yang Kembali Mengajarkan Takut

| 4 menit baca |Sorotan | 57 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi
Terverifikasi Bukti

Peluncuran ProjectArek.id di Surabaya berlangsung hening dan akrab, menyimpan kegelisahan kolektif tentang menyempitnya kebebasan sipil, ingatan Orde Baru, dan sunyinya suara Reformasi.

Tak ada dentuman musik. Tak ada layar besar yang menampilkan hitung mundur. Bahkan tepuk tangan pun terdengar seperlunya di C2O Library & Collaborative, Surabaya, pada Sabtu sore, 24 Januari 2026, ketika peluncuran ProjectArek.id.

Ruangan kecil tak lebih dari lima meter persegi itu diisi kursi-kursi yang ditata rapi, rak buku yang rapat, dan wajah-wajah yang datang bukan untuk merayakan, melainkan untuk menguatkan satu sama lain.

Sruput kopi menjadi bunyi paling dominan di sela diskusi. Selebihnya, hanya kata-kata yang diucapkan dengan hati-hati, seolah semua sepakat, zaman sedang tidak baik-baik saja.

Aku datang ketika diskusi telah berjalan. Miftah Faridl, Pemimpin Redaksi ProjectArek.id, sedang berbicara. Nadanya serius, tak berlebihan.

Ia menyebut negara yang tampak normal di permukaan, demokrasi berjalan, pidato-pidato terdengar optimistis. Namun di bawahnya menyimpan praktik kuasa yang kian menekan. Janji politik berulang, sementara rasa takut merembes pelan ke ruang-ruang warga.

Keakraban terasa. Tapi muram juga hadir bersamanya.

#Media yang Tidak Mengejar Trafik

“Bagi saya, ini bukan sekadar launching media. Ini ruang konsolidasi,” kata Miftah Faridl.

ProjectArek.id, menurutnya, tidak dilahirkan untuk berlomba soal trafik, algoritma, atau model bisnis media digital.

Media ini, lanjut Fridl. lahir dari kegelisahan yang lebih mendasar, ketika kriminalisasi warga, aktivis lingkungan, dan pembela HAM terjadi berulang, tetapi kisah-kisahnya nyaris tak pernah mendapat tempat layak di media arus utama.

Faridl mencontohkan seorang warga yang sempat dipenjara, lalu divonis bebas. Proses ketidakadilan yang dialami selama bertahun-tahun nyaris tak pernah benar-benar diceritakan.

“Itu satu contoh saja. Di Surabaya, banyak kawan kita yang mengalami praktik pemenjaraan yang luar biasa,” ujarnya.

Dalam konteks itulah ProjectArek.id memposisikan diri sebagai media alternatif sekaligus media advokasi. Media yang bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga merajut ulang jejaring masyarakat sipil yang selama ini tercerai-berai, bertemu di lapak buku, warung kopi, atau diskusi kecil yang jarang terdokumentasikan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di ruangan itu hadir pegiat pasar rakyat Kutisari, komunitas penghayat kepercayaan, Ahmadiyah, jurnalis independen, aktivis lingkungan, komunitas disabilitas, hingga pembela HAM. Banyak di antara mereka baru pertama kali saling bertemu. Konsolidasi, hari itu, tidak lagi menjadi jargon.

Miftah Faridl, Pemimpin Redaksi ProjectArek.id, menekankan pentingnya media sebagai ruang konsolidasi warga sipil di tengah tekanan kebebasan berpendapat | Foto: Surabaya

#Arek sebagai Bahasa Perlawanan

Tema sejarah dan bahasa kemudian mengalir ketika Kukuh Yuda Karnanta, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, berbicara. Ia mengajak peserta menelusuri kata “arek” yang menjadi identitas media ini.

Secara etimologis, “arek” adalah sapaan egaliter dalam bahasa Jawa—tanpa sekat usia, status sosial, atau gender. Namun di Surabaya, kata itu mengalami politisasi sejarah. Kukuh menelusuri arsip media sejak 1930-an, termasuk cerpen di Panyebar Semangat tahun 1935. Puncaknya terjadi pada 1945, ketika Bung Tomo meneriakkan “Arek-arek Surabaya” sebagai seruan perlawanan.

Sejak saat itu, “arek” bukan lagi sekadar sapaan. Ia menjadi identitas kolektif yang lekat dengan keberanian. Presiden Soekarno bahkan menyebut dirinya “arek Surabaya” dalam pidato-pidatonya—menjadikan kata itu simbol kebanggaan dan sikap melawan.

Bahasa Arek yang lugas dan ceplas-ceplos, menurut Kukuh, berkelindan dengan gerakan anti-feodalisme awal abad ke-20. Organisasi Jawa Dwipo yang berafiliasi dengan Sarekat Islam, misalnya, mendorong penggunaan bahasa Jawa ngoko sebagai perlawanan terhadap hierarki sosial. “Bahasa bukan sekadar alat komunikasi,” kata Kukuh, “ia juga alat politik.”

#Orde Baru yang Datang Tanpa Seragam

Diskusi berlanjut dengan nada yang semakin reflektif. Dosen komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Nanang Krisdinanto, menilai kehadiran media alternatif seperti ProjectArek.id menjadi kian penting di tengah tekanan kekuasaan yang menguat.

Media alternatif, katanya, tak bisa disamakan dengan media arus utama, terutama soal pendanaan dan keberpihakan. Ketika tidak bergantung pada iklan besar, relasi etis dengan pembaca justru menjadi taruhan utama.

Namun ada paradoks yang terasa kuat sore itu. Tema kriminalisasi, rasa takut bersuara, dan konsolidasi warga mengingatkan banyak orang pada Orde Baru. Bukan karena tentara berjaga atau larangan berkumpul, melainkan karena rasa waswas yang merembes pelan. Ironisnya, wajah-wajah pelaku Reformasi 1998 justru nyaris tak terlihat.

Koordinator Amnesty International Chapter Universitas Negeri Surabaya, Alia Putri, menambahkan, kelompok minoritas dan korban pelanggaran HAM hari ini kembali menghadapi situasi yang tak jauh berbeda dengan masa lalu. Media alternatif, baginya, bisa menjadi ruang aman bagi narasi-narasi yang selama ini terpinggirkan.

Diskusi yang dipandu jurnalis AJI Surabaya, Johannes Nugroho, ditutup dengan seruan sederhana: “Project Arek!” yang dijawab hadirin, “Ayo rek, bergerak!”

Di tengah sunyi yang mengingatkan pada Orde Baru, seruan itu terdengar sebagai penegasan sikap. ProjectArek.id lahir bukan untuk meramaikan linimasa, tetapi untuk menjaga nyala keberanian warga. Tentu saja dengan kata-kata dalam rangkaian kalimat, di zaman yang kembali menguji nyali.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *