Lewati ke konten

Proyek Gapura Desa Pelabuhan Jombang: Setengah Jadi, Gapura Impian atau Monumen Ketidakjelasan?

| 4 menit baca |Sorotan | 7 dibaca

 

JOMBANG – Desa Pelabuhan, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, punya proyek yang lebih dramatis daripada sinetron prime time. Gapura desa yang seharusnya menjadi simbol wajah baru, malah berubah menjadi instalasi absurd: setengah jadi, material berserakan, bambu penyangga tegak lurus menantang gravitasi, tapi pekerja? Entah libur panjang atau memang proyek ini sudah resmi masuk kategori “ghost project”.

Warga yang berharap bisa berfoto di depan gapura baru mereka hanya menemukan tumpukan semen kering, bambu bak pohon Natal yang tidak dinyalakan, dan rasa penasaran setinggi langit. Bukannya “wajah baru desa,” yang muncul malah wajah bingung, campur kecewa, dan sedikit geli sendiri.

#Warga Bingung, Proyek Menghilang

Andik, warga berusia 30 tahun, merasa seperti penonton setia drama tanpa naskah. “Sudah sekitar satu bulan tidak ada aktivitas. Kami juga tidak tahu apakah proyek ini sudah selesai atau belum. Kalau dilihat kondisinya jelas masih setengah jalan,” katanya sambil menunjuk tumpukan material yang entah siapa menaruhnya.

Lebih lucu lagi, warga tidak tahu proyek ini menggunakan dana desa atau dana kabupaten. Transparansi? Lupakan saja. Papan informasi proyek yang biasanya jadi alat legitimasi anggaran hilang, seolah ikut proyek ini kabur ke dimensi lain.

#Camat Tidak Tahu, Kepala Desa Hilang

Plt Camat Plandaan, Khoirul Huda, ketika dikonfirmasi, mengaku proyek bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK). Tapi soal nilai anggaran, kapan dimulai, atau status proyek, jawaban beliau cuma senyum tipis: “Saya tidak tahu pasti.” Bahkan soal apakah proyek ini tertunda atau hampir selesai, beliau hanya bisa mengangkat bahu.

Kepala Desa Andi, yang seharusnya jadi penjaga transparansi, juga ikut nimbrung… eh, hilang. Nomor telepon sudah tidak aktif, meninggalkan warga dan wartawan dalam kebingungan. Bisa jadi Kepala Desa sedang melakukan ritual sakral: “Menghilang saat proyek bermasalah.”

#Drama Birokrasi ala Desa Pelabuhan

Kalau ada buku tentang “Birokrasi Absurditas Tingkat Lanjut,” bab Desa Pelabuhan wajib dijadikan studi kasus. Dana cair, proyek mulai, tapi koordinasi nihil. Camat tidak tahu detail, kepala desa menghilang, warga menatap kosong, dan media hanya bisa menulis artikel panjang sambil membayangkan gapura yang mungkin akan selesai… atau tidak pernah selesai.

Setengah jadi bukan sekadar kondisi fisik, tapi simbol kegagalan komunikasi, ketidaktegasan pejabat, dan seni menghilangkan jejak ketika urusan publik mulai mengganggu kenyamanan pribadi. Semua berpadu jadi sandiwara yang kalau ditonton, rasanya seperti komedi gelap: lucu tapi bikin gelisah.

#Gapura atau Instalasi Seni?

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Seorang seniman mungkin akan bilang ini instalasi seni brilian: material berserakan, bambu penyangga berdiri tegak, proyek setengah jadi, dan transparansi nol. Semua bisa dijadikan simbol absurd birokrasi modern. Tapi warga? Mereka bukan seniman. Mereka cuma ingin gapura berdiri tegak, bukan berdiri sebagai monumen kebingungan.

Transparansi anggaran adalah kata sakti, tapi di Desa Pelabuhan berubah jadi jargon kosong. Tidak ada papan proyek, tidak ada informasi nilai kontrak, tidak ada jadwal pelaksanaan. Hanya pertanyaan warga yang melayang tanpa jawaban.

#Warga Jadi Penonton Setia

Di Desa Pelabuhan, warga punya peran ganda: penonton sekaligus pemeran tambahan dalam drama absurd ini. Mereka menatap tumpukan material sambil menebak: “Apakah proyek ini akan selesai? Apakah uang publik sudah habis semua? Atau kita sedang menyaksikan awal dari instalasi seni abstrak?”

Setiap tanya dijawab diam, setiap protes dijawab senyum tipis pejabat yang tidak tahu apa-apa. Ini bukan sekadar proyek mangkrak, tapi pelajaran hidup: menjadi warga desa bisa bikin sabar, tapi juga bikin bingung luar biasa.

#Pelajaran Bagi Kita Semua

Kasus gapura Desa Pelabuhan memberi pelajaran: transparansi lebih dari sekadar papan proyek. Tanpa informasi yang jelas, proyek sekecil apapun bisa berubah jadi sandiwara publik. Warga menunggu kejelasan, pejabat menghilang, dan dana publik? Entah mengalir ke mana, mungkin ke dimensi lain yang hanya bisa dilihat birokrat tingkat tinggi.

Birokrasi di sini menunjukkan absurdnya pemerintahan lokal: rencana bagus, implementasi mengambang, akuntabilitas menghilang. Gapura setengah jadi ini menjadi metafora visual dari janji tidak ditepati, proyek tidak selesai, dan harapan publik terombang-ambing.

#Gapura Tak Pernah Berdiri, Warga Tak Pernah Tenang

Proyek pembangunan gapura di Desa Pelabuhan bukan sekadar urusan fisik. Ini soal mekanisme anggaran, transparansi, dan seni menghilang saat ada masalah. Dari bambu penyangga hingga material berserakan, dari camat yang tidak tahu detail hingga kepala desa yang menghilang, semua berpadu menciptakan drama birokrasi yang bisa membuat siapa pun tercengang.

Warga menunggu, pejabat menghilang, dan uang publik? Bisa jadi sedang liburan panjang. Gapura impian berubah jadi simbol ketidakjelasan, tanda tanya raksasa yang menantang akal sehat. Di Desa Pelabuhan, proyek pembangunan gapura adalah pelajaran hidup: ketika transparansi hilang, yang tersisa hanyalah absurditas dan tawa pahit yang tak kunjung habis.***

Penulis: Supriyadi | Editor Chief |

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *