Lewati ke konten

Review Film: Suka Duka Tawa – Seni Menertawakan Luka ala Aco Tenri

| 3 menit baca |Ide | 46 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Sebuah tawa yang lahir dari luka menjadi inti Suka Duka Tawa, debut film panjang Aco Tenriyagelli yang meramu komedi personal, relasi keluarga, dan upaya berdamai dengan masa lalu.

Awal tahun 2026 dibuka dengan sebuah kado hangat bagi pencinta sinema Indonesia. Sutradara Aco Tenriyagelli resmi merilis debut film panjangnya berjudul Suka Duka Tawa, sebuah karya yang sejak awal telah menyedot perhatian publik film. Setelah lebih dulu diputar sebagai film penutup di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), film ini akhirnya hadir ke publik dengan ekspektasi tinggi—dan berhasil menjawabnya melalui kisah yang intim serta emosional.

Komedi yang tak sekadar lucu. Lewat Suka Duka Tawa, Aco Tenriyagelli menghadirkan kisah keluarga, trauma, dan rekonsiliasi dengan rasa yang hangat dan jujur. | Foto: Istimewa

Dikenal lewat video klip berestetika kuat dan film pendek bernarasi personal, Aco membawa sensibilitas visual dan emosinya ke format layar lebar tanpa kehilangan ciri khas. Suka Duka Tawa tampil sebagai komedi-drama yang hangat, reflektif, dan relevan dengan pengalaman banyak orang.

#Sinopsis: Komedi sebagai Katarsis

Film ini berfokus pada Tawa (Rachel Amanda), seorang komika perempuan yang menjadikan panggung stand-up comedy sebagai ruang bertahan hidup. Tawa menertawakan luka-luka personalnya—terutama trauma ditinggal ayah—sebagai cara untuk berdamai dengan masa lalu.

Konflik utama muncul ketika sang ayah (Teuku Rifnu Wikana) kembali setelah menghilang selama 20 tahun. Kehadiran ini mengguncang emosi Tawa dan ibunya (Marissa Anita), membuka kembali luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Film ini kemudian bergerak pada pertanyaan mendasar: bagaimana menghadapi kemarahan, kerinduan, dan makna memaafkan yang tertunda selama puluhan tahun.

Tertawa sebagai bentuk perlawanan. Suka Duka Tawa mengajak penonton menyelami dunia stand-up, hubungan ayah-anak, dan keberanian menghadapi luka lama. | Foto: Istimewa

#Kekuatan Karakter dan Ansambel Cast

Kekuatan Suka Duka Tawa terletak pada performa para pemainnya. Rachel Amanda tampil meyakinkan sebagai Tawa—tajam, sarkas di panggung, namun rapuh dalam kehidupan personal. Marissa Anita kembali menunjukkan kelasnya sebagai ibu dengan emosi yang terukur dan menyentuh.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Deretan komika seperti Bintang Emon, Gilang Bhaskara, Arif Brata, hingga Abdel memperkaya film ini. Mereka tidak sekadar menjadi pemancing tawa, melainkan menghadirkan potret autentik dunia stand-up comedy Indonesia dengan dinamika dan solidaritasnya.

#Estetika Visual dan Audio

Sebagai sutradara berlatar dunia musik video, Aco menghadirkan visual yang rapi, intim, dan tidak berlebihan. Sinematografi terasa dekat dengan karakter, mendukung emosi cerita. Pemilihan musik—dari nuansa melankolis Bernadya hingga energi The Adams—membantu membangun ritme emosi yang naik-turun secara natural.

#Lebih dari Sekadar Komedi

Suka Duka Tawa bukan sekadar film komedi. Ia berbicara tentang rekonsiliasi, isu fatherless, dan luka keluarga tanpa terjebak melodrama. Film ini mengajak penonton merenung: apakah tawa adalah tanda kebahagiaan, atau justru cara paling aman untuk menyembunyikan kepedihan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *