KALAU kamu kira sepak bola di Surabaya cuma hidup saat Persebaya main di Gelora Bung Tomo, siap-siap dikoreksi. Kota Pahlawan ini baru saja menggulirkan sesuatu yang bisa bikin daerah lain merasa “kok kita gak kepikiran duluan ya?” — Liga 4 versi anyar, yang diklaim sebagai format pertama di Indonesia.
Bukan, ini bukan liga buat yang gagal di Liga 3. Ini adalah kompetisi akar rumput yang niat banget dari hulu ke hilir. Bukan sekadar main bola, tapi bikin jalur karier bola dari bocah SSB sampai ke kasta profesional — dan semua dilakukan dengan gaya khas Surabaya: berani, rame, dan penuh semangat gotong royong.
#Sinergi Pemkot dan Askot: Kalau Pemerintah Mau, Sepak Bola Bisa Jadi Serius
Biasanya kalau pemerintah bicara soal sepak bola, yang dibahas ya stadion rusak atau honor wasit. Tapi kali ini beda. Pemkot Surabaya benar-benar turun gunung. Lewat kerja bareng dengan Askot PSSI Surabaya, mereka meluncurkan Liga 4 dengan format baru yang katanya lebih inklusif dan terstruktur.
Bayangin aja, SEkolah Seopak Bola (SSB) yang biasanya cuma jadi tempat latihan anak-anak tiap sore, sekarang bisa langsung nyambung ke klub internal resmi. Artinya, ada jalur pembinaan yang jelas. Anak-anak yang main di lapangan kampung sekarang bisa punya mimpi realistis buat naik ke level professional, bukan cuma mimpi di tribun GBT sambil pakai syal Persebaya.
Hidayat Syah, yang mewakili Wali Kota Eri Cahyadi, bahkan bilang kalau langkah ini adalah bentuk nyata dari semangat kolaborasi. “Surabaya selalu siap jadi perintis,” katanya. Dan kita tahu, kalau orang Surabaya sudah ngomong begitu, biasanya bukan omong kosong.
#Sembilan Tim, Sembilan Cerita, Satu Kota yang Penuh Harapan
Liga 4 ini diikuti sembilan tim, yang namanya aja udah menarik, Semut Hitam, Keeltjes Soccer Academy (KSA), PSAD, Putra Perak, PS Mitra Surabaya, Soccer For Friend, Putra Surabaya (Pusura), Gartifa, dan Putra Mars.
Dari nama-nama itu, kamu bisa menebak kalau separuhnya lahir dari semangat klasik sepak bola kampung, separuhnya lagi hasil dari akademi modern yang suka pakai cone warna-warni dan drone buat pantau latihan.
Kombinasi dua dunia ini bikin Liga 4 Surabaya terasa seperti pernikahan antara nostalgia dan inovasi. Di satu sisi, masih ada semangat “main bola sambil teriak-teriak”, di sisi lain sudah mulai tercium aroma development plan dan scouting system.
Fase penyisihan akan dimainkan di Lapangan A kompleks Stadion Gelora Bung Tomo. Sementara semifinal dan final. Nah ini dia yang bikin merinding dan bakal digelar di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari. Sekalian momen Hari Pahlawan, 10 November nanti.
Kalau kamu bayangin bocah 17 tahun main di sana, di stadion yang dulu tempat Bajul Ijo bertarung, rasanya ini bukan sekadar kompetisi, ini rites of passage.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Bukan Liga Main-main, tapi Investasi Masa Depan
Buat yang sinis, mungkin bilang: “Ah, paling juga semangatnya cuma setahun.” Tapi kali ini, proyek ini punya struktur yang bikin percaya diri. Asprov PSSI Jawa Timur bahkan berharap format Surabaya ini jadi role model buat kota lain.
Bayangin kalau tiap kabupaten punya jalur pembinaan jelas, dari anak SD sampai senior. Liga 4 jadi pondasi, Liga 3 jadi jembatan, dan seterusnya sampai Liga 1. Baru deh piramida sepak bola nasional kita beneran utuh, bukan cuma slogan di rapat tahunan.
“Ini langkah strategis untuk menghidupkan lagi gairah sepak bola lokal,” kata perwakilan Asprov PSSI Jatim. Dan kalau benar-benar berhasil, bukan nggak mungkin dari lapangan-lapangan kecil di Surabaya nanti lahir pemain yang kelak bikin Indonesia bangga di level dunia.
#Sepak Bola Akar Rumput yang Nggak Asal Tumbuh
Bisa dibilang, Liga 4 Surabaya ini adalah bukti bahwa akar rumput bisa tumbuh kalau disiram dengan kebijakan yang bener.
Tidak semua harus menunggu federasi pusat bergerak. Kadang, cukup kota yang punya visi dan sedikit keberanian untuk memulai.
Dan seperti biasa, Surabaya tak mau jadi penonton. Mereka memilih jadi perintis. Di saat banyak daerah masih bingung bikin kompetisi internal, Surabaya sudah menata jalur karier sepak bola dari bocah SD sampai level profesional.
Mungkin ini terdengar sederhana, tapi percayalah, revolusi sepak bola seringkali dimulai dari hal kecil. Dari satu kota yang berani berkata: “Ayo, mulai dari sini.”***