Lewati ke konten

Rp69 Miliar, 16 Titik Irigasi di Lamongan, Groundbreaking: Batu Pertama, Batu Harapan, atau Batu Sandungan?

| 7 menit baca |Sorotan | 14 dibaca

LAMONGAN – Udara di Desa Jatirenggo, Kecamatan Glagah, sumuk-sumuk meriah, Selasa (23/9/2025). Spanduk gede terpasang gagah: “GROUNDBREAKING REHABILITASI DAERAH IRIGASI BENGAWAN SOLO – Infrastruktur Sumber Daya Air yang Memadai dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Kabupaten Lamongan.”

Pejabat berjejer, kamera berderet, dan Bupati Yuhronur Efendi tampil formal dengan helm proyek putih. Dalam foto resmi, beliau sempat menunjuk jari telunjuk dan jempol, simbol khas “lanjutkan”. Kayak mau bilang, “Ayo, gas terus!”

Satu batu diletakkan. Jepret! Foto.
Satu sekop pasir dituang. Jepret! Foto lagi.

Dan begitulah: proyek rehabilitasi 16 titik irigasi resmi dimulai. Nilai proyeknya: Rp69 miliar. Kalau kata Pak Bupati, ini bukan proyek ecek-ecek, tapi “bagian dari Instruksi Presiden tahap II tahun 2025” dengan arah yang sangat nasionalis: memperkuat ketahanan pangan.

Coba kita resapi sejenak. Dari satu batu yang ditaruh di Jatirenggo itu, beban yang dipikul lumayan berat: nasib petani Lamongan, masa depan lumbung pangan nasional, sampai harga pecel lele Lamongan di warung pinggir jalan. Semua digantungkan ke beton, saluran, dan embung.

#Proyek Franchise: Resep Pusat, Masak Daerah

Proyek ini sebenarnya bukan murni ide Pemkab Lamongan. Dari keterangan resmi, rehabilitasi irigasi ini masuk dalam Inpres. Jadi logikanya begini: pusat kasih resep, daerah yang masak.

Instruksi Presiden bilang: ayo daerah-daerah, benahi irigasi biar pangan kita nggak gampang goyang. Nah, Lamongan ditunjuk karena punya target luas tanam 193.373 hektare. Alias mau dijadikan lumbung pangan nasional.

Tugas Pemkab Lamongan adalah eksekusi: bikin saluran primer, sekunder, sampai saluran kerja ke lahan. Kepala Dinas PU SDA, Erwin Sulistya Pambudi, malah pede banget: semua harus rampung tiga bulan.

Kalau dipikir-pikir, tiga bulan itu nggak lama. Anak kos telat bayar kontrakan aja bisa lebih lama dari itu. Tapi entah kenapa, proyek irigasi senilai Rp69 miliar bisa ditargetkan kelar hanya dalam satu musim belajar anak SD.

#Kenangan Buruk: Irigasi Lamongan yang Drama

Di atas kertas, semua terdengar mulus. Proyek rehabilitasi ini meliputi Daerah Irigasi Bengawan Solo, Waduk Palangan, Waduk Paprit, Waduk Jajong, Waduk Makamsantri, Rawa Bulu, Sluis Keyongan, Waduk Bowo, Rawa Manyar, Waduk Pading, Rawa Kwanon, Waduk Takeran, Waduk Delikguno, Waduk Tuwiri, Waduk Canggah, sampai Rawa Geger.

Targetnya klise tapi manis: tiga bulan rampung, air lancar, sawah subur, petani makmur.

Tapi, warga Lamongan sudah kenyang dengan drama irigasi. Seperti sinetron kejar tayang, tiap tahun selalu ada episode baru—kadang lucu, kadang miris, kadang bikin tangan gatel pengen lempar sandal ke televisi.

Mari kita simak beberapa episode lamanya:

Episode 1: Plengsengan Cepat Retak

Di Desa Sumberejo, Kecamatan Pucuk, ada proyek penahan tanah irigasi dari dana APBD senilai Rp189,5 juta. Baru tiga bulan, plengsengan itu sudah retak-retak. Warga pun nyeletuk, “Ini plengsengan apa kerupuk?” Ironis, duit ratusan juta ludes, tapi hasilnya bikin pusing kepala sekaligus ngakak getir.

Episode 2: Saluran yang Diduga “Disunat”

Di Kebalandono, Babat, saluran irigasi malah jadi bahan gosip. Bisik-bisik warung kopi menyebut ada yang lebih banyak ngalir ke kantong oknum ketimbang ke sawah petani. Akhirnya, warga yang seharusnya dapat air malah dapat debu. Kalau saluran air bisa ngomong, mungkin dia bakal protes, “Kenapa aku disunat sebelum lahir, sih?”

Episode 3: Waduk Kering

Setiap kemarau, banyak waduk di Lamongan tinggal dasar. Kapasitasnya drop ke 28–30%. Bayangkan, padi umur 50 hari bisa gagal panen bukan karena hama, tapi karena air menghilang seperti janji kampanye. Waduk yang mestinya jadi harapan petani malah jadi kubangan kecewa.

Episode 4: Kekeringan Massal

Tiap musim kemarau panjang, setidaknya ada 114 dusun di 13 kecamatan antre air bersih. Ironi kan? Kabupaten yang digadang-gadang sebagai lumbung pangan nasional, tapi warganya rebutan jerigen. Kalau ada lomba “kabupaten dengan plot twist paling absurd,” Lamongan bisa juara.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Daerah yang Belum Kebagian Basah

Lamongan ini luas, sawahnya mencapai 96 ribu hektare. Tapi yang sudah masuk jaringan irigasi baru sekitar separuhnya, 45 ribu hektare. Sisanya? Hidup segan mati tak mau, nasibnya sepenuhnya ditentukan langit. Kalau hujan turun, ya panen. Kalau kemarau datang, mari kita tonton sinetron Azab Petani Tersiksa karena Sawahnya Garing.

Cerita warung kopi soal sawah tanpa air ini banyak sekali. Misalnya:

  • Lawanganagung, Sugio: mayoritas sawah di sini masih bergantung penuh pada hujan. Baru belakangan ada embung desa untuk cadangan air. Sebelum ada embung? Ya main tebak-tebakan sama cuaca. Mendung datang, hati senang. Mendung lewat, semangat ikut kabur.
  • Jatidrojog, Kedungpring: irigasinya setengah hati. Air cuma mampir sekadar basa-basi, nggak pernah serius menetap. Sawah jadi seperti mantan—sesekali dikasih perhatian, tapi tak pernah diperjuangkan.
  • Gembong, Sugio: ini lebih dramatis. Harus bikin saluran baru biar 15 dusun bisa kecipratan air. Bisa dibayangkan, sebelum itu sawah di 15 dusun ibarat orang puasa panjang: kering kerontang, menunggu sahur yang tak kunjung datang.
  • Sebagian desa di Kecamatan Modo sebelah barat—Jegreg, Medalem, Kedunglerep, sampai Kedungpengaron—juga bernasib sama. Petani di sana kadang lebih sering doa minta hujan ketimbang nyiram sawah.

Makanya, kabar rehabilitasi 16 titik irigasi memang bikin harapan baru. Tapi jangan sampai orang salah paham: proyek ini bukan berarti semua sawah Lamongan mendadak banjir air. Jaringan irigasi di Lamongan itu ibarat sinyal Wi-Fi: ada yang full bar, ada yang cuma dapat “E”, bahkan ada juga yang harus naik genteng dulu biar bisa konek.

#Tiga Bulan yang Ajaib?

Target pengerjaan tiga bulan terdengar seperti jurus sihir. Mirip kisah Roro Jonggrang: kalau dulu disuruh bikin seribu candi semalam, sekarang bikin 16 titik irigasi dalam tiga bulan. Bedanya, yang satu pakai bala jin, yang ini pakai kontraktor.

Padahal, membenahi saluran irigasi, waduk, rawa, dan embung itu jelas bukan kerja ringan. Ada pembebasan lahan yang biasanya lebih alot daripada sidang perceraian, ada pengerukan, ada betonisasi. Dan jangan lupa: kalau musim hujan datang, pekerjaan bisa berubah jadi adonan bubur instan.

Kita semua tahu, proyek pemerintah punya kebiasaan unik: molor itu seni, revisi itu tradisi. Jalan tol saja bisa mundur bertahun-tahun, apalagi sekadar saluran irigasi di desa. Jadi begitu ada janji “tiga bulan rampung”, telinga warga langsung gatal. “Tiga bulan? Yang bener aja.”

Kalau pun benar-benar rampung, keraguan lain langsung muncul: soal kualitas. Jangan sampai tiga bulan selesai, tiga bulan berikutnya retak, enam bulan kemudian longsor, lalu setahun lagi bikin proyek baru. Itu namanya bukan rehabilitasi, tapi langganan proyek.

#Optimisme vs Skeptisisme

Di satu sisi, proyek Rp69 miliar ini memang bisa jadi penyelamat. Kalau irigasi lancar, produktivitas naik, panen berlipat, petani bisa senyum. Kalau petani senyum, harga beras stabil. Kalau harga beras stabil, rakyat aman. Kalau rakyat aman, pejabat bisa tenang.

Tapi di sisi lain, pengalaman pahit bikin skeptis itu wajar. Sudah sering proyek irigasi cuma bagus di peresmian, tapi memble di pemakaian.

Buat petani, air itu bukan soal seremoni. Mereka nggak butuh pejabat megang sekop atau pakai helm proyek buat foto. Mereka butuh air ngalir sampai ke sawah. Sesederhana itu.

#Humor Pahit Warung Kopi di Atas Batu yang Berat

Kalau nanti proyek ini gagal, jangan kaget kalau obrolan di warung kopi bakal begini:

  • “Rp69 miliar lho, Mas. Airnya mana?”
  • “Airnya ada, tapi ngalir ke rekening, bukan ke sawah.”
  • “Hehehe, berarti yang subur dompetnya, bukan padinya.”

Humor pahit seperti ini sering jadi pengingat: rakyat punya memori panjang dan lidah tajam. Sekali salah, bisa jadi bahan guyonan bertahun-tahun, nggak ada kadaluarsanya.

Groundbreaking irigasi di Lamongan bukan sekadar acara tenda biru dengan spanduk raksasa. Ini simbol janji—janji bahwa sawah Lamongan bakal basah, petani bisa panen tanpa waswas, dan Lamongan benar-benar jadi lumbung pangan nasional.

Tapi jangan lupa: janji itu berat. Satu batu yang diletakkan di Desa Jatirenggo bukan cuma batu pertama, tapi bisa jadi batu ujian. Apakah Rp69 miliar ini benar-benar memberi manfaat, atau cuma jadi catatan manis di laporan pembangunan?

Kalau berhasil, petani bisa bilang: “Alhamdulillah, akhirnya air datang tepat waktu.” Kalau gagal, ya siap-siap saja pejabat dibully: “Airnya sih nggak ngalir, tapi janji politis ngalir deras.”

Penulis: Supriyadi | Editor: Bagus Marga

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *