Bangunan kolonial di jantung Surabaya menyimpan jejak panjang: dari rumah dinas bank kolonial, museum, hingga perpustakaan publik yang menghadirkan ketenangan di tengah hiruk kota.
Di Jalan Taman Mayangkara No. 6, Kota Surabaya, sebuah bangunan tua berdiri dengan wajah yang nyaris tak berubah sejak awal abad ke-20. Pilar tinggi, jendela lebar, dan dinding kokoh menjadi penanda gaya arsitektur kolonial yang masih terawat.
Gedung yang kini dikenal sebagai Perpustakaan milik Bank Indonesia Surabaya itu dibangun pada 1921. Pada masa kolonial, bangunan tersebut difungsikan sebagai rumah dinas pejabat De Javasche Bank, bank sirkulasi yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia.
Dalam arsip lama, bangunan ini disebut sebagai woning voor agent van Javasche Bank. Fungsinya sebagai tempat tinggal pejabat tinggi yang mengelola aktivitas ekonomi kolonial di wilayah timur Jawa.
Dari luar, suasana masa lalu masih terasa. Struktur bangunan yang simetris dan detail arsitektur yang rapi menunjukkan bagaimana kekuasaan dan stabilitas ekonomi kala itu diterjemahkan dalam bentuk fisik.
Perubahan besar baru terjadi puluhan tahun kemudian.
#Dari Museum ke Ruang Literasi
Setelah tak lagi difungsikan sebagai rumah dinas, bangunan ini mengalami alih fungsi. Pada 1975, gedung tersebut berubah menjadi Museum Mpu Tantular. Selama hampir tiga dekade, ruang-ruangnya dipenuhi koleksi benda bersejarah dan artefak budaya.
Transformasi itu menandai pergeseran peran: dari ruang privat pejabat kolonial menjadi ruang publik yang menyimpan memori kolektif.
Pada 2004, museum dipindahkan ke Sidoarjo. Bangunan kembali kosong, menunggu arah baru di tengah perkembangan kota yang kian padat.

Fungsi baru hadir delapan tahun kemudian. Pada 2012, Bank Indonesia meresmikan gedung ini sebagai perpustakaan. Pada tahun yang sama, Pemerintah Kota Surabaya menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya.
Perubahan itu bukan sekadar pergantian fungsi administratif. Ruang yang sebelumnya menyimpan artefak kini diisi buku, jurnal, dan arsip ekonomi. Akses yang dahulu terbatas kini terbuka untuk publik.
Sejak saat itu, bangunan tersebut menjadi salah satu ruang literasi yang relatif tenang di pusat kota.
#Sunyi di Tengah Hiruk Kota
Di luar gedung, lalu lintas Surabaya berjalan tanpa jeda. Suara kendaraan dan klakson bersahutan sepanjang hari. Begitu melangkah masuk ke dalam perpustakaan, suasana berubah drastis.
Rak buku tersusun rapi. Kursi-kursi tertata menghadap meja baca. Suara yang terdengar hanya desiran pendingin ruangan dan halaman buku yang dibalik perlahan.
Raka, seorang mahasiswa, mengaku datang ke tempat ini lebih dari sekali. Alasannya sederhana: mencari ketenangan.
“Di sini rasanya beda. Lebih tenang. Kayak kita diajak pelan-pelan mikir,” kata Raka saat ditemui di salah satu sudut ruang baca, pada Sabtu, 4 April 2026.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Ia menyebut suasana bangunan turut memengaruhi cara berpikir. Dinding tebal dan langit-langit tinggi menciptakan ruang yang terasa lapang, jauh dari distraksi.
“Kadang saya ke sini bukan karena butuh buku tertentu. Tapi karena butuh tempat yang nggak ramai. Dan di sini dapat itu,” ujarnya.
Pengalaman semacam itu menjadi daya tarik tersendiri. Perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat mencari referensi, tetapi juga sebagai ruang jeda dari ritme kota.
Banyak pengunjung datang tanpa tujuan spesifik. Mereka duduk, membaca, atau sekadar diam. Aktivitas sederhana yang sulit ditemukan di ruang publik lain.

#Transformasi yang Tetap Relevan
Perjalanan panjang bangunan ini memperlihatkan bagaimana ruang dapat beradaptasi dengan perubahan zaman. Dari simbol kekuasaan ekonomi kolonial, menjadi tempat penyimpanan artefak, lalu berubah lagi menjadi ruang literasi.
Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tidak selalu identik dengan mempertahankan fungsi lama. Bangunan bersejarah dapat hidup dengan cara baru, selama nilai utamanya tetap terjaga.
Dalam konteks kota, keberadaan ruang seperti ini memberi alternatif. Di tengah dominasi pusat perbelanjaan dan kafe, perpustakaan menghadirkan pengalaman yang berbeda: sunyi, lambat, dan reflektif.
Bangunan ini juga mencerminkan pergeseran nilai. Ruang yang dahulu digunakan untuk kepentingan terbatas kini dapat diakses lebih luas. Pengetahuan menjadi hal yang dibagikan, bukan disimpan.
Sebagai cagar budaya, gedung ini tetap mempertahankan bentuk aslinya. Renovasi dilakukan tanpa menghilangkan karakter kolonial yang melekat. Hal tersebut menjadikannya sebagai salah satu penanda sejarah yang masih aktif digunakan.****
Di dalamnya, cerita terus berkembang. Bukan lagi tentang transaksi ekonomi atau kebijakan kolonial, melainkan tentang pembaca yang datang silih berganti, ide yang tumbuh, dan waktu yang sejenak melambat.
Di tengah kota yang terus bergerak cepat, bangunan ini menghadirkan ritme berbeda. Sunyi yang dipertahankan menjadi ruang bagi siapa saja yang ingin berhenti sejenak—untuk membaca, berpikir, atau sekadar menarik napas panjang.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.